Cerita Ke - 15
Rainy Day
Pagi itu mendung. Maruko yang bangun terlambat lupa dengan saran ibunya untuk membawa payung. Di perjalanan menuju sekolah hari mulai gerimis. Dia akhirnya sadar apa yang disampaikan ibunya saat dia berlari melewati ruang makan.
Lima menit sebelum kejadian.
Maruko yang akhirnya mempunyai jam wacker untuk membangunkannya tapi ketika jam itu berbunyi dia malah menendangnya dengan kaki dan membuat jam itu rusak. Akibatnya dia bangun terlambat. Tapi dia merasa bahwa dia bangun lebih awal daripada jam wacker-nya.
Tapi kenyataan tidak seindah itu. Saat dia menguap ibunya membuka pintu kamarnya dan melihat Maruko yang masih bermalas-malasan di kasurnya, ibunya tidak tahan dan langsung memarahinya.
“Maruko kenapa kau masih bermalas-malasan?!”
Maruko yang tidak mengerti kenapa ibunya marah menjawab, “Ibu ini masih pagi, aku bahkan bangun lebih awal daripada jam itu.”
“Jam…” Ibunya melihat sekeliling kamar dan akhirnya menemukan jam wacker yang terbaring tak berdaya, itu sudah rusak. “Kau merusak jam wacker-mu lagi!”
Maruko mengikuti pandangan ibunya dan kaget melihat jam wacker-nya yang bentuknya sudah tidak utuh lagi dan terlalu menyedihkan. ‘Bagaimana aku selalu merusaknya?!’ Dalam hatinya dia menjerit. Ini sudah ke-enam kalinya dia membeli jam wacker. Tapi dia tidak sempat memikirkan itu dan langsung bangkit berlari menuju kamar mandi untuk menyikat gigi dan membasuh wajah.
Ibunya yang melihatnya pergi menghela napas. ‘Anak ini benar-benar membuatku khawatir…’.
Dia melakukannya dengan kecepatan kilat yang dia bisa dan setelah dia memakai seragam dia segera berlari keluar. Saat dia melewati ruang makan ibunya berteriak untuk memberitahunya untuk membawa payung.
“Maruko bawa payung, sepertinya hari akan hujan.”
Tapi sayangnya Maruko tidak mendengar begitu jelas dengan apa yang dikatakan ibunya, dia berhenti untuk memakai sepatunya. Terdiam sebentar, mengingat apa yang ketinggalan tapi mengingat dia akan terlambat dia pun membuang kekhawatirannya. Yang lebih penting untuk saat ini adalah tidak datang terlambat ke sekolah karena jika dia terlambat pagar akan di tutup dan dia tidak diperbolehkan untuk masuk ke sekolah.
Baru lima menit dia berlari kecil. Tiba-tiba dia merasakan tetesan air mengenai kulitnya. Untungnya dia tidak jauh dari halte bis dan segera berteduh disana.
Menit ke-tiga dia menunggu bis. Sebuah mobil hitam yang familiar berhenti di depan halte bis itu. Kaca jendelanya turun dan segera dia dapat melihat wajah yang dikenalnya. Itu Hanawa.
“Masuklah cepat.” Kata Hanawa diikuti dengan pintu mobil yang terbuka otomatis.
Maruko tanpa banyak tanya dia segera masuk ke dalam mobil lalu pintu mobil tertutup sendiri. Dia langsung merasakan perbandingan antara berada di luar dan di dalam mobil. Suhu mobil Hanawa hangat dan itu membuatnya yang tadi kedinginan karena hujan merasa nyaman.
Baru saja dia akan berterima kasih pada Hanawa, dan dia melihat Hanawa melihatnya dengan marah? ‘Kenapa Hanawa-kun marah? Apa karena dia bangun terlambat?’
Dia masih terdiam hingga Hanawa membuka suara, “Bukankah aku memberitahumu aku akan menjemputmu di depan persimpangan?”
Maruko yang masih belum mengerti, ‘Kapan Hanawa-kun memberitahuku?’ kemudian dia mengingat saat dia menelpon Hanawa, ada saat ketika dia tidur sesaat lalu bangun setelah pertanyaan Hanawa selesai dan dia dengan bodohnya menjawab ‘iya’ tanpa tahu apa yang telah dia setujui.
Dia dengan rasa bersalah meminta maap, “Hanawa-kun, maapkan aku… aku…”
“Aku maapkan asal kau memakai ini.”
“.……?”
Hanawa memberikan jaket pada Maruko. Tapi Maruko masih memproses apa yang sedang terjadi dan hanya melihat jaket di tangannya. Pada akhirnya Hanawa membantunya untuk mengenakannya lalu menggenggam tangan Maruko.
“Apakah masih dingin?”
Pipi Maruko memerah setelah memproses semua kejadian itu di kepalanya.
Hanawa melihatnya lucu dan tertawa.
Maruko ingin memprotes agar Hanawa tidak tertawa, tapi dia takut jika dia mengatakannya pada Hanawa maka dia akan dikira tidak sopan oleh supir Hanawa. Jadi dia hanya bisa mengetik pesan dan mengirimkannya dengan banyak tanda seru dan stiker marah.
END
Mvy : Aku tahu ini terlalu pendek…
Sabtu, 20 Februari 2021
KAMU SEDANG MEMBACA
Cerpen Maruko dan Hanawa
ContoHanya sebuah fanfiction dari kartun Chibi Maruko Chan. Terutama kisah Maruko dan Hanawa yang memiliki romansa tersendiri. Bisa jadi ooc. Aku hanya meminjam nama dan sedikit karakter yang aku pahami dan kemungkinan besar karakter baru akan dihadirkan...
