Hide and Seek

1.3K 113 12
                                        


Bel pertanda pulang sekolah telah berbunyi lama sekali. Koridor sekolah sudah sangat kosong, hanya ada beberapa suara dari anak-anak yang piket dan beberapa dari klub yang mengadakan pertemuan.

Lalu tiba-tiba ada suara kaki yang berlari di koridor. Suara itu memecah kesunyian. Ada yang mengabaikannya dan masih fokus pada apa yang dilakukan tapi ada juga yang penasaran dan mengintip dari pintu ataupun jendela kelas.

Setelah suara lari pertama kemudian ada suara lari kedua dengan suara yang lebih nyaring daripada suara lari pertama. Suara yang nyaring itu bagai menggambarkan emosi pemilik kaki yang menggebu-gebu. Lalu suara lari kedua juga diikuti oleh teriakan yang menggelegar.

“MARUKO BERHENTI BERLARI!!!!!”

.
.
.
30 Menit Yang lalu

Tamae berpamitan pada Maruko yang masih harus menyelesaikan piketnya.

“Maru-chan aku duluan.”

“Iya Tama-chan, hati-hati.”

Maruko menghela napas, dia harus menyelesaikan piketnya agar dia juga bisa pulang lebih cepat dan menonton drama Momoe yang sudah dia tunggu-tunggu. Dia sudah tidak sabar menonton drama terbaru Momoe. Dalam drama itu Momoe akan menjadi seorang ibu muda yang berjuang merawat dan menghidupi keluarga kecilnya. Sedangkan suaminya bekerja di kota yang jauh dan jarang bisa pulang ke rumah. Maruko merasa sangat emosional melihat cuplikan drama. Karena itu dia tidak bisa melewatkan episode pertama drama ini. Apapun yang terjadi!

“Maruko apa yang kau lakukan?!”

Suara Maeda mengejutkan Maruko sekaligus membawanya kembali ke dunia nyata. Dia melihat Maeda dengan penuh tanya.

“Kau melewatkan area itu. Ulangi lagi!”

“Apa?”

Maruko sangat yakin dia sudah menyapu bagian itu. Kenapa dia harus menyapu bagian itu lagi? Dia tidak ingin membuang waktunya yang berharga!

“Aku sudah menyapunya, kenapa aku harus menyapunya lagi?”

“Area itu masih kotor, apa kau tidak melihatnya?”

Maruko melihat lagi ke area itu. Tapi dia tidak berpikir daerah itu kotor.

“Itu tidak kotor.” Kata Maruko dengan kukuh.

“Apa kau tidak melihatnya? Jelas sekali daerah itu masih kotor.”

Maruko menahan amarahnya. Maeda terkadang memang cukup menyebalkan, tapi itu karena dia terlalu perfeksionis dan jarang ada orang yang sepemikiran dengannya. Siapa sebenarnya yang memilih Maeda menjadi seksi kebersihan kelas? Tapi setelah sekian lama tidak ada yang mengaku. Jelas saja jika ada dari mereka yang ketahuan memilih Maeda maka orang itu sudah pasti akan dimusuhi oleh satu kelas!

Karena itu untuk saat ini Maruko lebih memilih mengalah karena jika dia masih bersikeras dengan Maeda, maka kemungkinan yang terjadi adalah nilainya untuk kebersihan akan dikurangi. Jadi dia dengan berat hati kembali menyapu daerah yang ditunjuk Maeda.

Setelah lima belas menit, Maruko akhirnya menyelesaikan tugasnya. Dia sangat senang dan bersiap pulang dengan memakai tasnya.

Tapi baru saja dia akan melangkah keluar pintu, Maeda kembali bersuara untuk menahannya.

Maeda berdiri di depan Maruko dan menghalangi jalannya, “Maruko apa yang kau lakukan?”

Maruko merasa bingung dan menjawab, “Apa? Bukankah sudah jelas aku akan pulang? Lagipula aku sudah menyelesaikan bagianku.”

Cerpen Maruko dan HanawaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang