Seminggu sudah Hanawa menunggu Maruko, tapi setiap hari dia harus merasa kecewa. Dia mencoba bertanya pada Pak Hide namun dijawab belum saatnya. Hanawa juga mencoba bertanya pada ibunya dan ibunya akan menenangkannya dengan mengatakan Maruko akan kembali, hanya itu tidak pasti kapannya dan hal ini membuat Hanawa sedih.
Meskipun begitu Hanawa tidak pernah tidak fokus dalam pelajarannya. Dia selalu membuat kemajuan setiap harinya. Dia terkadang merasa marah, karena seharusnya dia saat ini menanyakan hapalan hiragana Maruko. Siapa yang tahu mungkin Maruko bahkan sudah melupakan semuanya? Dan hal ini membuat Hanawa berpikir jika Maruko kembali dia tidak boleh terlalu memanjakannya dan akan memberikan pertanyaan di hari yang sama. Tidak peduli apa.
Seorang pengajar kesenian melihat Hanawa yang sedih dia mengajak Hanawa untuk menggambar untuk meluapkan pikirannya di atas kanvas.
“Tapi guru, aku tidak bisa melukis.”
“Lukisan bukan hanya sesuatu yang terlihat nyata seperti pemandangan, manusia, benda, binatang. Kau bisa melukis apapun, dan apapun hasilnya itu tetap akan disebut lukisan. Apa kau pernah mendengar tentang aliran lukisan?”
Hanawa mengangguk dan menjawab dengan cerdas, “Mm! Romantisisme, Naturalisme, Realisme, Impresionisme, Fauvisme, Ekspresionisme, Kubisme, Dadaisme, dan Surealisme.”
Guru itu bertanya lagi, “Lalu menurut Hanawa-kun, aliran mana yang paling cocok untuk Hanawa-kun?”
Hanawa menjawab dengan sedikit ragu, “mm… itu- ekspresionisme?”
Guru, “Oh kenapa Hanawa-kun berpikir seperti itu?”
Hanawa, “Aku pikir aku akan mencoret Naturalisme, realisme, impresionisme, romantisme, dan dadaisme karena gambaran mereka hasil dari referensi pada dunia nyata, uh intinya mereka seperti berasal dari dunia kita… dan aku tidak bisa menggambarnya. Aku juga tidak yakin dengan fauvisme, surealisme ataupun kubisme meskipun mereka terlihat absurd tapi itu merupakan gaya bebas yang berada diluar imajinasiku… lalu aku sebenarnya tidak yakin dengan ekspresionime, tapi yang aku tahu aliran ini mengutamakan ekspresi dari seniman terhadap apa yang mereka ingat, lihat dan rasakan. Bisa dibilang ini aliran seni yang menonjolkan jiwa dari seniman. Aliran ini juga tidak diharuskan untuk teliti dan memakai teknik yang sulit sehingga tingkat akurat untuk kemiripan bisa diabaikan. Penjelasan ini terlihat nyaman bagiku yang tidak bisa melukis namun ingin mencoba untuk melukis.”
Guru itu tersenyum cerah, “Seperti yang diharapkan Hanawa-kun selalu pintar untuk menjawab pertanyaan. Nah sekarang kau bisa memulai melukis setelah kau siap. Guru juga akan mulai melukis, lalu kita akan melihat lukisan masing-masing bagaimana?”
Hanawa mengangguk tapi masih bertanya, “Apakah ini dinilai?”
Guru, “Tentu saja! Tapi aku tidak hanya akan menilai hasil yang kau buat tapi juga dengan bagaimana kau menggambarnya. Guru akan melihat gambarmu setiap sepuluh menit.”
Hanawa, “Kalau begitu mari kita mulai.”
Hanawa sangat senang dan memulainya. Meskipun wajahnya senang pada awalnya namun berangsur-angsur berubah, guru itu melihat perubahannya dan penasaran dengan apa yang dilukis Hanawa jadi dia memutuskan untuk berjalan dan melihat.
Guru itu terkejut ketika melihat gambar yang dibuat Hanawa. Meskipun masih belum jadi dengan sempurna tapi gambar awal itu sudah bisa ditebaknya. Itu adalah gambar Maruko dan ibunya yang berada di taman belakang. Meskipun masih kurang jelas karena belum diberi warna oleh Hanawa. Satu lagi yang membuat guru terkejut adalah Hanawa menggambarnya dengan serius seolah-olah tidak ingin membuat kesalahan dengan gambarnya atau dia akan berakhir dengan menyesal karena tidak hati-hati. Guru itu tersenyum dan kembali ke tempat duduknya. Dia melukis Hanawa yang sedang serius melukis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cerpen Maruko dan Hanawa
Storie breviHanya sebuah fanfiction dari kartun Chibi Maruko Chan. Terutama kisah Maruko dan Hanawa yang memiliki romansa tersendiri. Bisa jadi ooc. Aku hanya meminjam nama dan sedikit karakter yang aku pahami dan kemungkinan besar karakter baru akan dihadirkan...
