Maruko dan Tamae berangkat bersama menuju sekolah, di sekolah akan ada bus yang menjemput mereka. Hari ini adalah hari sabtu dan sekolah mereka mengadakan perkemahan, tapi perkemahan hanya dilakukan perkelas dan minggu ini adalah giliran kelas mereka.
“Maru-chan, kau tidak ketinggalan apapun kan?” Tanya Tamae memastikan ketika mereka sudah duduk di dalam bus.
Maruko dengan yakin mengangguk, “Tenang saja Tama-chan! Aku bahkan dibantu kakekku untuk menyiapkannya."
Tamae di dalam pikirannya, ‘Maru-chan… justru itu lebih mengkhawatirkan…’
Tapi Maruko terlihat tenang dan santai jadi Tamae juga membawa pikiran khawatirnya ke belakang.
Tiba-tiba ketua datang dan meminta perhatian, “Tolong semuanya perhatikan! Karena perkemahan ini diadakan untuk mengakrabkan diri dengan teman sekelas maka kita akan mengadakan pemungutan acak untuk posisi tempat duduk.”
Semua orang, “APA!?”
Mereka yang sudah duduk bersama teman akrabnya tentu saja tidak setuju.
“Ah aku tidak setuju!”
“Bukankah itu hanya akan membuat suasana menjadi akward?”
“Aku sudah duduk bersama --- dari smp, kenapa aku harus mengganti tempat duduk?”
Ketua yang hanya diberikan perintah oleh wali kelas merasa tidak nyaman dengan ketidaksetujuan mereka, ‘Ini juga bukan keinginanku oke?’ dia ingin berbicara seperti itu.
Ketua kelas menghela napas, “Jika kalian ingin protes, silahkan katakan pada wali kelas!”
Semua orang yang kecewa lalu terdiam. Tidak ada yang berani dengan wali kelas mereka. Sangat tajam, sangat keras, sangat disiplin, dan sangat teliti. Semuanya masih ingin hidup dengan damai di sekolah. Jadi mereka hanya bisa menelan suara-suara ketidaksetujuan mereka dengan pahit.
Melihat mereka yang akhirnya terdiam ketua kelas merasa lega. Lalu dia berjalan dan menjulurkan topi yang di dalamnya sudah terdapat kertas yang berisi nomor kursi.
Semuanya berjalan lancar, hingga ketua kembali ke depan dan membuka buku catatannya untuk mencatat nama-nama. Ini dia lakukan agar tidak ada yang curang dan diam-diam pindah dari tempat duduknya.
“Baiklah kursi pertama di sebelah kiri, yang mendapatkan kertas nomor satu silahkan menuju kursi pertama.”
Dua orang berdiri itu adalah sesama gadis. Mereka melihat satu sama lain dan merasa lega. Mereka adalah teman sepermainan, jadi tidak masalah bagi mereka untuk berbagi kursi.
Hingga kursi ke lima belas semuanya berjalan lancar. Tiba saat kursi ke-16 sebelum ketua kelas memanggil, seseorang telah berdiri.
“Hanawa-kun apakah kau mendapatkan kertas nomor 16?” Tanya ketua kelas.
Hanawa mengangguk.
Ketua melihat kertas yang dipegang Hanawa dan mengangguk. Dia membiarkan Hanawa lewat. Lalu tiba-tiba ada seorang gadis yang berdiri dan ingin mengikuti Hanawa. Ketua kelas merasa curiga dan bertanya.
“Tunggu, apakah kertasmu nomor 16?”
Gadis itu mengangguk sedikit gugup. Tapi dia tidak melihatkan nomor pada kertasnya dan membuat ketua curiga.
“Perlihatkan nomormu.”
“Ah… itu…”
Ketua tanpa basa-basi menarik kertas dari genggaman gadis itu. Saat dia melihat isi kertas itu dia menghela napas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cerpen Maruko dan Hanawa
Historia CortaHanya sebuah fanfiction dari kartun Chibi Maruko Chan. Terutama kisah Maruko dan Hanawa yang memiliki romansa tersendiri. Bisa jadi ooc. Aku hanya meminjam nama dan sedikit karakter yang aku pahami dan kemungkinan besar karakter baru akan dihadirkan...
