Langit sore itu bewarna jingga. Cerah dan hangat. Pijar kuningnya yang menyebar terlihat sangat cantik. Taehyung tidak bisa menyembunyikan betapa ia sangat bahagia kala Jungkook memeluknya sore itu.
"Aku rindu sekali," kata Jungkook. Taehyung juga mengucapkan hal yang sama padanya. "Hyung tidak pernah datang mengunjungiku."
"Karena aku ingin Jungkookie pulang---aku tidak bisa melihatmu di sana. Aku takut, kalau aku berubah pikiran dan mencabut semua tuntutan, apa yang akan terjadi. Aku tidak bisa berpikir, jadi aku cuma berharap waktu segera berlalu dan kau kembali pulang."
"Aku pulang, hyung," ucap Jungkook menenangkan. Taehyung mengangguk cepat, memeluk Jungkook begitu erat. Dia menangis. Dan, Jungkook berusaha menenangkannya.
Hari-hari yang berat telah mereka lalui.
"Terima kasih, Jungkookie."
"Aku juga berterima kasih, hyung."
Sepertinya tidak ada kata yang lebih pantas diungkapkan selain terima kasih. Terima kasih karena sudah bertahan dan selalu kuat. Terima kasih untuk tidak menyerah dan terima kasih telah menjadi rumah untuk berpulang.
"Jungkook, kita perlu bicara," kata Taehyung begitu tangisnya mereda. Matanya yang masih basah menatap serius pada Jungkook. "Karena kita perlu meluruskan ini semua. Aku mungkin terkesan menuntut, tapi begitu kau lulus ujian paket C, kau harus masuk universitas dan magang di perusahaanku---"
"Sepertinya aku melewatkan banyak hal."
"Sangat. Dan, aku akan memberitahumu semuanya. Seperti aku yang sudah melepas namaku dari kartu keluarga---secara resmi, kita berdua bukan lagi keluarga dan aku hanya seorang yatim piatu yang mapan. Terdengar bagus?"
"Tidak. Karena hyung sendirian, sedang aku masih di bawah perwalian paman Haneul. Itu tidak adil."
Taehyung menangkup wajah Jungkook. "Mungkin kau lupa, aku bisa membuat ini adil dan membalas pernyataanmu."
"Pernyataanku?"
"Tujuh tahun lalu. Aku akan membalasnya. Dan, supaya ini adil untukku---setelah kau selesai dengan studimu, kau harus sukses Jungkookie, lalu menikahlah denganku."
Mata Jungkook melebar terkejut.
"Kau tidak boleh menolak karena aku sudah menunggu sangat lama."
"Aku tidak mungkin menolak."
"Termasuk yang satu ini," Taehyung menarik wajah Jungkook mendekat dan menciumnya.
Jungkook tertawa kecil, "Tentu saja, aku tidak mungkin menolak, hyung," katanya, memeluk pinggang Taehyung dan membalas ciuman itu dengan lebih intens.
Ribuan kupu-kupu berterbangan di dalam perut Taehyung. Jantung yang berdegup cepat---getaran panas yang tidak bisa dia kontrol, menjadikan Taehyung lebih dekat memeluk Jungkook. Memberi isyarat untuk membawanya pergi meninggalkan latar taman yang mulai gelap.
Sebab mereka sudah harus selesai sebelum Nara terbangun dan Taehyung terlalu emosional untuk sekedar menundanya. Rindu dan keinginan untuk memiliki melebur dalam kepalanya, membuatnya jadi tidak waras.
"Hyung sungguh tidak apa?"
"Ya, lakukanlah. Lakukan, lakukan."
"Kenapa jadi tidak sabaran?"
"Jangan tertawa!"
"Aku hanya bertanya," kata Jungkook begitu membaringkan Taehyung di kasurnya. "Tapi jangan berisik, oke?"
"Tidak janji? I-ini pertama buatku. Aku tidak janji, aku pasti akan berisik."
"Setidaknya Nara masih harus tidur sampai waktu makan malam." Jungkook merunduk, menghirup dalam aroma Taehyung. "Kalau lelah, hyung bisa tidur, aku akan menyiapkan makan malam."
KAMU SEDANG MEMBACA
Leave Out ✅
Fanfiction[ KookV - Fanfiction ] "I'm strong on the surface. Not all the way through." ㅡLinkin Park 'Leave Out All the Rest' Genre : Romance; Hurt/Comfort; Crime Rate : T - M
