Akbar mengernyitkan keningnya karena selama di perjalanan pulang ke rumah, Shanum hanya diam saja seraya memandang ke arah jendela mobil. Kalau dulu mereka memang saling diam seperti itu, tapi belakangan ini mereka sudah cukup dekat dan saling mengobrol. Tapi mengapa hari ini semuanya terasa kembali seperti awal-awal pernikahan mereka? Di mana mereka saling diam-diaman seperti ini.
"Shanum. Kamu gak lagi kenapa-napa 'kan?" Akbar mencoba bertanya pada Shanum. Namun, keningnya semakin terangkat begitu Shanum hanya membalas pertanyaannya tadi dengan gelengan kepala. Apa yang sebenarnya terjadi pada wanita hamil itu? pikirnya.
"Ada yang lagi kamu pengen gak? Biar sekalian kita beli dulu."
Lagi-lagi Shanum hanya menggelengkan kepalanya yang membuat Akbar semakin kebingungan dengan sikap Shanum kali ini. Di awal pernikahan mereka rasa-rasanya Shanum tak pernah bersikap dingin seperti ini. Tapi mengapa sekarang Shanum seakan-akan menjauhi dan malas berbicara dengannya?
"Aku punya salah ya sama kamu?" Akbar kembali bertanya karena tak mendapatkan jawaban pasti dari Shanum. Kali ini, istrinya itu menoleh dan menatap tepat ke matanya. Akbar pun menunggu apa yang akan Shanum katakan padanya.
"Abang gak salah apa pun, karena aku yang salah di sini."
Bukannya merasa puas karena Shanum sudah mau menjawab pertanyaannya, tetapi Akbar malah dibuat semakin bertanya-tanya dengan jawaban Shanum itu. Ia berniat kembali bertanya, tetapi Shanum lebih dulu bersuara.
"Bisa dicepetin sampai ke rumahnya, Bang? Kepala aku pusing soalnya." Alhasil Akbar hanya bisa mengangguk dan menambah kecepatan mobilnya. Ia mengemudi dalam diam karena tak mencoba mengajak Shanum berbicara lagi.
Sesampainya di rumah, Shanum langsung turun dari mobil dan berlalu meninggalkannya lebih dulu. Sementara Akbar mengikuti di belakang setelah memarkirkan mobilnya dengan benar. Barulah setelah itu ia menyusul Shanum masuk. Tetapi langkahnya terpaksa terhenti ketika mamanya menahan tangannya.
"Kamu lagi berantem sama Shanum? Ya ampun, Bar, perasaan baru aja Mama ngeliat kalian akur. Kok udah berantem aja," ujar Elya geleng-geleng kepala.
"Aku gak ngerasa lagi berantem sama Shanum, Ma," jawab Akbar seadanya. Karena memang benar, ia tak merasa sedang bertengkar dengan Shanum. Mereka awalnya masih baik-baik saja hingga sejak tadi pagi Shanum lebih banyak diam.
"Kalau gak berantem, kenapa Shanum jadi pendiam kayak gitu? Dia memang agak pendiam, tapi Mama tau kalau hari ini dia lebih dari sekedar pendiam. Ngaku sama Mama. Kamu apain Shanum?" tuntut Elya. Matanya bahkan melototi Akbar garang.
"Akbar beneran gak ngapa-ngapain Shanum. Akbar juga gak tau kenapa dia tiba-tiba jadi kayak gitu. Mungkin bawaan bayi kali, Ma. 'Kan wanita hamil mood-nya suka berubah-ubah."
"Iya juga ya. Ya udah, sana. Kamu bujukin dia dulu. Ingat loh, dia lagi hamil."
"Iya, Ma."
***
Mood Shanum sepertinya memang sedang tidak baik entah karena apa. Akbar pun mencoba memahami dan tidak bertanya lagi ketika sadar kalau Shanum malas meladeninya. Ia hanya berharap kalau besok pagi Shanum sudah kembali seperti sedia kala.
Melihat Shanum seperti ini jujur saja membuat Akbar tak nyaman. Ia merasa serba salah dan berpikir kalau Shanum sedang marah padanya. Tetapi marah karena apa? Apa mungkin karena ciuman mereka tadi pagi? Tetapi bukankah awalnya Shanum tak menolak ciumannya? Ah atau jangan-jangan Shanum mengiranya sebagai Andra, maka dari itu ia tidak menolak. Tetapi setelah menyadari kalau ia adalah Akbar, Shanum pun langsung melepaskan ciuman mereka dan mendorongnya. Ya, sepertinya Shanum marah karena itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unpredictable Wedding
RomanceFollow dulu sebelum baca!!! Dan bacalah selagi on going. Karena jika sudah tamat akan langsung dihapus beberapa bagian. Jadi jangan telat baca! Positif hamil? Membahagiakan bukan? Tentu saja iya, bagi wanita yang sudah memiliki suami. Kehamilan ada...
