Ketika sore hari tiba, Shanum mengajak anaknya berjalan-jalan di halaman rumah seraya menunggu kepulangan Akbar. Senyumnya mengembang manakala melihat mobil sang suami yang perlahan memasuki pekarangan rumah. Suaminya itu pun memarkirkan mobilnya terlebih dahulu, barulah setelah itu Akbar melangkah menghampirinya.
"Sore, Sayang," sapa Akbar pada keduanya. Ia mengecup Zaidan dan pipi Shanum bergantian.
"Sore juga. Abang mandi dulu gih, tadi pakaian gantinya udah aku siapin."
"Makasih ya. Ya udah, kalo gitu aku mandi dulu," sahut Akbar yang dibalas anggukan kepala oleh Shanum. "Papa mandi dulu ya, Nak. Habis itu kita main," tambah Akbar pada anaknya itu. Ia semakin mengulas senyum dan mengelus kepala Zaidan ketika melihat anaknya itu tertawa seolah paham apa maksud perkataannya tadi.
Akbar melangkahkan kakinya memasuki rumah untuk segera mandi agar bisa menamani anaknya. Sementara Shanum membawa anak mereka itu duduk di kursi santai yang tersedia di teras.
Kening Shanum mengernyit ketika melihat ada sebuah mobil taksi yang tiba-tiba berhenti di depan rumah mertuanya itu. Namun kemudian, ia tersenyum dan langsung berdiri ketika melihat Tata keluar dari mobil taksi itu.
"Hai Shan, lo apa kabar?" tanya Tata berbasa-basi. Mereka pun sempat bercipika-cipiki sekilas. Lantas Tata juga mencium pipi Zaidan karena gemas.
"Gue alhamdulillah baik. Lo sendiri gimana?"
"Gue juga baik kok. Berasa udah lama gak ketemu lo, jadinya gue mutusin mampir. Tapi maaf nih gak bawa apa-apa, soalnya langsung dari tempat kerja."
"Ya ampun, Ta. Lo datang ke sini aja gue udah seneng kok. Gak usahlah bawa oleh-oleh segala. Kayak sama siapa aja," sahut Shanum yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Tata.
"Ya udah, masuk yuk."
"Em, lain kali aja deh, Shan. Soalnya gak enak kalo supir taksinya nunggu kelamaan."
Shanum menoleh ke arah yang ditunjuk Tata dan baru menyadari kalau taksi yang membawa temannya itu masih menunggu. "Oh, ya udah. Tapi nanti mampir lagi."
"Sip, pasti. Salam aja buat keluarga lo yang lain ya."
"Iya thanks, Ta."
"Dah, Shan. Dadah dede Zaidan," pamit Tata yang membuat Shanum tersenyum.
Setelah mobil taksi yang membawa Tata pergi, Shanum pun memutuskan memasuki rumah untuk menemui sang suami. Ia tersenyum ketika melihat suaminya itu sudah rapi dengan pakaian santainya. Kemudian Akbar pun meraih Zaidan ke dalam gendonggannya.
Akbar menggelitiki perut si mungil Zaidan hingga membuat anaknya itu tertawa. Kemudian ia juga menciumi seluruh wajah sang anak yang membuat suara tawanya semakin jelas. Akbar pun tersenyum karenanya. Ia menolehkan kepalanya memandang Shanum yang rupanya juga ikut tersenyum.
"Padahal baru sebentar aja aku ninggalin dia, tapi kangennya udah kayak gak ketemu lama aja," gumam Akbar. Ia merasa Zaidan seperti anak kandungnya sendiri. Karena entah mengapa ia selalu merindukan bayi mungil itu.
Shanum semakin tersenyum ketika mendengar ucapan suaminya itu. Ia melangkah mendekati Akbar lantas menyentuh tangan sang suami. Lalu ia senderkan wajahnya di bahu suaminya itu. "Makasih buat semuanya ya, Bang."
"Sama-sama, Sayang," jawab Akbar seraya mengecup dahi sang istri. Ia menggerakkan sebelah tangannya yang tak memegangi sang anak untuk melingkari pinggang Shanum. Begitu juga Shanum yang ikut memeluk suami dan anaknya itu.
***
"Oweek... Oweek."
Kayla terkejut karena cucunya langsung menangis ketika ingin ia gendong. Padahal ia hanya ingin menggantikan Akbar untuk menggendong cucunya itu. Karena kebetulan sekarang ini Akbar dan Shanum sedang berkunjung ke rumahnya. Namun, cucunya itu kembali tenang ketika ditimang oleh Akbar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unpredictable Wedding
RomansaFollow dulu sebelum baca!!! Dan bacalah selagi on going. Karena jika sudah tamat akan langsung dihapus beberapa bagian. Jadi jangan telat baca! Positif hamil? Membahagiakan bukan? Tentu saja iya, bagi wanita yang sudah memiliki suami. Kehamilan ada...
