Kebaya berwarna putih yang melekat di tubuh Shanum terlihat begitu indah. Wajahnya yang dirias pun seakan menambah kesan elegan di hari pernikahannya ini. Ya, setelah seminggu lalu mengatakan setuju untuk menikah dengan Akbar, tak terasa hari ini ia sudah akan melangsungkan pernikahan dengan laki-laki itu.
Terdengar sangat tiba-tiba memang, tetapi jika ditunda lagi maka perut Shanum akan semakin membesar. Akhirnya mereka menyepakati hari ini sebagai hari pernikahan. Pernikahan mereka pun hanya diadakan di kediaman keluarga Shanum dan mengundang kerabat serta tetangga dekat saja.
Sebelumnya tak pernah terbesit di pikiran Shanum kalau ia akan menikah dengan Akbar. Ia tak begitu dekat dengan laki-laki itu. Bahkan mereka terakhir bertemu pun seminggu yang lalu saat Akbar dan keluarganya datang melamar secara resmi. Selain itu, mereka tak pernah berbincang akrab. Entah secanggung apa kalau nanti mereka sudah sah menjadi suami istri.
Shanum menyetujui pernikahan ini pun hanya demi bayi yang ada di dalam kandungannya. Karena pada dasarnya, perasaannya masihlah teramat besar untuk Andra. Ia masih belum bisa melupakan kekasih hatinya yang sudah lebih dulu pergi.
"Ayo, Sayang. Akad nikahnya udah mau dimulai."
Mengangguk singkat, Shanum pasrah saat ia dibawa ke depan, tempat acara akan dilangsungkan. Di sana sudah terdapat keluarganya maupun keluarga Andra. Juga Akbar yang sudah duduk di hadapan penghulu. Ia pun menyusul duduk di samping Akbar. Lantas di atas kepala mereka dipasangkan selendang ketika acara sudah akan dimulai.
Shanum menundukkan kepalanya begitu melihat Akbar menjabat tangan penghulu. Penghulu itu pun mulai melafalkan ijab yang nanti akan dibalas oleh Akbar.
"Saya terima nikah dan kawinnya Shanum Elmira Ardiaz binti Alby Felix Ardiaz dengan mahar tersebut dibayar tunai.'
"Bagaimana saksi?"
"SAH!"
Tedengar helaan napas lega dan juga ucapan syukur dari mereka yang ada di sana. Mereka juga mengaminkan doa yang dibacakan penghulu untuk pernikahan Shanum dan Akbar. Hingga akhirnya tiba saat di mana Shanum dan Akbar akan bertukar cincin.
Meskipun sedikit ragu, tapi Shanum tetap meraih cincin yang akan disematkan ke jari manis Akbar. Ia menoleh pada laki-laki itu ketika Akbar sudah mengulurkan tangan atas instruksi keluarganya. Hingga akhirnya cincin itu berhasil ia pasang di jari manis Akbar yang sudah berstatus sebagai suami sahnya.
Sama halnya dengan apa yang dilakukan Shanum tadi, Akbar pun meraih cincin nikah mereka lantas menyematkannya di jari manis sang istri. Kemudian ia bisa merasakan kalau Shanum mencium punggung tangannya. Ia pun balas mengecup dahi Shanum sesuai instruksi mamanya.
Tak ada sesuatu yang istimewa ketika Shanum menyalami tangan Akbar. Tak juga dadanya berdebar kencang saat Akbar mencium dahinya. Karena mereka memang menikah tanpa cinta. Ia hanya bisa berharap kalau pernikahan mereka ini akan berjalan lancar sama halnya pernikahan orang-orang tanpa cinta di luaran sana.
"Selamat ya, Sayang. Akhirnya kamu jadi seorang istri juga."
"Makasih, Ma."
Air mata yang sejak tadi coba Shanum tahan akhirnya tak bisa dibendung lagi ketika ia berpelukan dengan Kayla. Ia menangis dalam pelukan wanita yang sudah melahirkannya itu. "Sama-sama, Sayang. Mama akan selalu mendoakan kebahagiaan kamu."
***
Shanum terdiam di ambang pintu ketika Akbar telah melangkah masuk lebih dulu. Memang usai acara pernikahan mereka tadi, ia langsung diboyong Akbar untuk ikut pulang bersama suaminya itu. Hingga kini mereka sudah ada di kediaman orang tua Akbar dan sedang berada di depan kamar sang suami.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unpredictable Wedding
RomanceFollow dulu sebelum baca!!! Dan bacalah selagi on going. Karena jika sudah tamat akan langsung dihapus beberapa bagian. Jadi jangan telat baca! Positif hamil? Membahagiakan bukan? Tentu saja iya, bagi wanita yang sudah memiliki suami. Kehamilan ada...
