Wajah Shanum merona ketika matanya bertatapan dengan mata Akbar. Ia kembali memejamkan mata seiring dengan bibir Akbar yang lagi-lagi melumat bibirnya. Tangannya melingkar mesra di leher sang suami. Sementara tangan Akbar sendiri memegangi dagunya.
"Sepertinya, mulai sekarang, bibir ini akan menjadi canduku," bisik Akbar seraya mengelus bibir Shanum yang tampak basah akibat ciuman mereka tadi. Semenjak pernah sekali merasakan bibir Shanum, entah mengapa Akbar menjadi ketagihan untuk merasakannya lagi. Dan sepertinya Shanum pun merasakan hal yang sama.
"Abang juga," balas Shanum malu-malu. Ia tidak munafik kalau sangat menyukai dan menikmati ciuman bibir dari Akbar. Bahkan hanya dengan berciuman dengan Akbar, seluruh tubuhnya terasa berdesir.
Akbar tersenyum saat mendengar ucapan Shanum itu. Ia pun mengelus wajah sang istri lantas kembali mencecahkan kecupan di bibir Shanum. Mereka sama-sama terkekeh ketika Shanum langsung membalas ciumannya. Bahkan tanpa sadar, kini tubuh Akbar mulai berguling hingga membuat ia menindih Shanum. Bukan menindih dalam artian yang sebenarnya, karena Akbar menggunakan sebelah tangannya untuk menahan tubuhnya agar tidak menindih Shanum sepenuhnya. Ia masih sangat ingat kalau Shanum sedang hamil.
Keduanya sama-sama menikmati ciuman yang mereka ciptakan. Bahkan lidah dan bibir mereka aktif bergerak saling belit dan lumat. Lenguhan samar pun sesekali terdengar dari celah bibir Shanum.
Akbar memindahkan ciumannya ke leher Shanum ketika merasa napas istrinya itu hampir menipis. Ia mengecup dan menjilat lembut kulit leher sang istri. Apa yang dilakukannya itu sempat membuat tubuh Shanum menegang dan tangannya tergerak untuk meremas rambut Akbar.
"Sayang...," lirih Akbar pelan ketika Shanum seperti menyuruhnya untuk berlama-lama di leher istrinya itu. Ia pun bisa melihat kalau mata Shanum terpejam. Akhirnya ia menuruti keinginan Shanum dan mengecup leher hingga telinga istrinya.
"Ngh..."
"Jangan ngedesah, Sayang," ujar Akbar pelan. Efek desahan Shanum berhasil membuat sesuatu yang ada di pangkal pahanya terasa menegang. Sementara ia tak mungkin melakukan itu.
"Hm?"
"Nanti aku turn on," bisik Akbar lagi. Ia menjauhkan diri dari istrinya itu karena tidak ingin kehilangan akal. Sebab, napasnya sudah terasa memberat seiring dengan celananya yang mulai sesak.
"Maaf."
"Gak apa-apa," sahut Akbar. Ia hanya tersenyum dan mengecup pipi Shanum ketika istrinya itu memeluknya dari belakang.
***
Pada hari minggu, Shanum mengajak Akbar untuk mengunjungi rumah orang tuanya karena kedua kakaknya pun sedang ada di sana. Akbar tentu saja mengiyakan sehingga kini mereka sudah tiba di rumah mertuanya setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam.
"Kalian sehat 'kan?"
"Alhamdulillah, sehat kok, Ma," sahut Akbar seraya menyalami tangan Kayla.
"Syukurlah kalo gitu. Ayo langsung ke dalam aja."
Akbar mengangguk lantas merangkul pinggang Shanum mesra. Kayla yang melihat pemandangan itu pun mengulas senyum. Ia merasa senang jika akhirnya Shanum dan Akbar semakin mesra.
"Datang juga akhirnya kamu, Dek. Gimana keponakan Abang? Sehat?" Gio yang melihat kedatangan Shanum dan Akbar pun langsung menghampiri keduanya. Ia bertanya seraya membawa Shanum ke dalam pelukannya.
"Sehat kok, Bang."
"Syukurlah."
Akbar melepaskan rangkulannya pada Shanum dan membiarkan saja istrinya itu berpelukan dengan Gio. Ia tak merasa cemburu karena yang Shanum peluk adalah kakak laki-laki istrinya itu sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unpredictable Wedding
RomanceFollow dulu sebelum baca!!! Dan bacalah selagi on going. Karena jika sudah tamat akan langsung dihapus beberapa bagian. Jadi jangan telat baca! Positif hamil? Membahagiakan bukan? Tentu saja iya, bagi wanita yang sudah memiliki suami. Kehamilan ada...
