Warning 21+
***
Satu tahun kemudian...
Shanum buru-buru lari ke kamar mandi ketika ia merasa perutnya bergejolak mual sekali. Ia pun langsung memuntahkan isi perutnya itu di wastafel. Tetapi anehnya, tidak ada sesuatu apa pun yang keluar selain air liurnya. Mendadak ia terdiam karena situasi itu sama persis dengan saat ia hamil Zaidan dulu. Ia merasa dejavu dan refleks menyentuh perutnya sendiri.
"Apa mungkin gue hamil?" lirih Shanum ke dirinya sendiri.
Usia Zaidan saat ini baru satu setengah tahun. Sementara ia dan sang suami berencana memiliki anak lagi ketika putra mereka itu sudah berumur dua tahunan lebih. Tapi apa jadinya jika ternyata ia benar-benar hamil?
Kejadian demi kejadian coba Shanum ingat-ingat lagi. Ia mencoba memikirkan kemungkinan apa yang bisa menyebabkan ia hamil sementara ia sudab mengonsumsi pil KB. Hingga Shanum terdiam ketika sadar kalau ia pernah lupa meminum obatnya. Dan kebetulan sekali malam itu ia berhubungan badan dengan sang suami.
Saat itu ia berkunjung dan menginap di rumah orang tuanya. Entah mengapa hari itu ia lupa membawa pil KB miliknya. Apalagi ia belum sempat memberitahu Akbar dan mereka terlanjur melakukannya. Saat gairah tengah menguasai, perihal obat itu pun terlupakan. Dan Shanum sempat berpikir kalau ia tidak akan hamil hanya karena pernah lupa satu kali mengonsumsinya.
Usai rasa mualnya mulai mereda, Shanum pun berniat pergi ke apotek untuk membeli test pack dan membuktikannya sendiri. "Ma, boleh minta tolong jagain Zaidan sebentar gak?" tanya Shanum pada mama mertuanya.
"Boleh dong, Sayang. Emangnya kamu mau ke mana?"
"Shanum mau ke apotek bentar, Ma. Mau beli test pack buat mastiin kalo Shanum lagi hamil apa enggak. Soalnya tiba-tiba aja Shanum ngerasa mual," jawab Shanum jujur.
"Kamu bisa sendiri, Sayang? Apa gak nanti aja, minta temenin Akbar. Atau nitip suami kamu aja sekalian nanti dia pulang kerja aja," usul Elya yang digelengi kepala oleh Shanum.
"Shanum bisa sendiri kok, Ma. Lagian belinya di apotek dekat sini aja. Apalagi 'kan belum pasti juga Shanum hamil. Jadi Abang gak usah tau dulu," ujar Shanum seraya mengulas senyum.
"Ya udah, kamu hati-hati ya. Zaidan biar Mama yang jagain."
"Makasih ya, Ma."
"Iya, sama-sama, Sayang."
***
Sesampainya di rumah selepas dari apotek, Shanum pun langsung mencoba test pack yang telah ia beli. Ia tak bisa menunggu hingga esok pagi untuk mencobanya karena sudah sangat penasaran. Dengan hati berdebar ia menunggu hasilnya.
Setelah beberapa menit kemudian, Shanum kembali mengamati test pack itu. Bibirnya melengkungkan senyum manakala mendapati dua tanda merah di sana. Yang itu artinya ia sedang hamil anak Akbar.
Kalau dulu ia sangat ketakutan saat mengetahui kenyataan kalau ia sedang hamil, tetapi kali ini ia merasa senang sekali. Sebab, di perutnya sedang tumbuh buah cintanya dengan sang suami. Namun, tiba-tiba saja Shanum terdiam ketika ingat ucapan Akbar kalau mereka sebaiknya memiliki anak jika usia anak pertama mereka sudah dua tahunan lebih. Tapi jika ia sudah hamil seperti ini, rasa-rasanya Akbar tak mungkin menolak anak mereka 'kan?
"Gimana hasilnya, Sayang? Kamu beneran hamil?" tanya Elya saat menyambut Shanum yang baru saja keluar dari kamar mandi. Ia menghampiri dan menyentuh tangan menantunya itu dengan wajah penuh harap.
"Iya, Ma. Shanum hamil," jawab Shanum dengan senyum di bibirnya. Elya yang mendengar itu pun juga ikut tersenyum bahagia. Lantas, ia membawa Shanum ke dalam pelukannya. Ia sangat bahagia sekali karena akan memiliki cucu lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unpredictable Wedding
Storie d'amoreFollow dulu sebelum baca!!! Dan bacalah selagi on going. Karena jika sudah tamat akan langsung dihapus beberapa bagian. Jadi jangan telat baca! Positif hamil? Membahagiakan bukan? Tentu saja iya, bagi wanita yang sudah memiliki suami. Kehamilan ada...
