Bertepatan dengan saat Shanum dan Akbar yang sudah selesai mandi, ternyata Zaidan terbangun dan menangis. Maka dari itu Shanum langsung menghampiri sang anak dan memberinya asi, meskipun saat ini ia masih hanya mengenakan handuk. Ia tersenyum manakala melihat anaknya itu yang telah kembali diam karena mulut mungilnya sedang menghisap puncak payudaranya.
Akbar menatap Shanum yang menyusui anak mereka dengan senyum di bibirnya. Lalu ia pun beranjak menuju lemari untuk mengambil pakaiannya. Lantas ia pun mulai memakaikan satu persatu pakaian ke tubuhnya.
Setelah Zaidan sudah kenyang, bayi mungil itu dengan sendirinya melepaskan puncak payudara Shanum dari mulutnya. Shanum pun mencoba meletakkan anaknya itu boks bayinya saja karena mengingat kasur mereka masih sangat berantakan.
"Mama pakai baju dulu ya, Sayang. Kamu tunggu sebentar," ujarnya seraya mengecup pipi sang anak. Shanum langsung saja menghampiri lemari untuk mengambil pakaian dan mengenakannya. Tiba-tiba tatapan matanya tertuju pada Akbar yang sedang memasang dasi. Usai telah berpakaian, ia menghampiri sang suami dan membantu memakaikan dasi untuk Akbar.
"Makasih, Sayang," bisik Akbar seraya mengecup pipi Shanum.
"Sama-sama."
"Oh iya, ini di pundak kamu ada kissmark buatan aku. Kalo mau keluar kamar, nanti tutupin pakai concealer ya. Biar gak diledekin Mama," ucap Akbar yang sontak saja membuat wajah Shanum merona. Akbar merasa gemas ketika melihat wajah Shanum yang memerah seperti itu. Ia pun menunduk lantas memiringkan wajahnya hingga bibirnya menyentuh bibir Shanum.
"Padahal aku sudah beberapa kali dapat jatah dari kamu, Sayang. Tapi rasanya entah kenapa gak pernah puas. Kalo aja gak kerja, mungkin aku bakal ngurung kamu di atas tempat tidur lagi," ujar Akbar disertai kekehannya karena perkataan mesumnya itu.
"Dasar kemaruk! Kelamaan puasa jadinya gini deh," sahut Shanum yang dibalas tawa oleh Akbar.
"Ya 'kan, daripada aku jajan di luar, mending puasa. Toh sekarang aku udah punya istri yang begitu cantik. Istri yang kucintai dan mencintaiku balik. Istri yang siap melayani lebutuhanku." Akbar masih tersenyum seraya mengelus pipi Shanum.
"Apaan sih, Bang!" kilah Shanum malu-malu yang membuat wajahnya terasa semakin lucu di mata Akbar.
Akbar kembali memeluk Shanum seraya mengecup pipinya. Lantas ia pun mengajak istri dan anaknya itu keluar untuk sarapan bersama setelah Shanum menyamarkan bekas kecupan bibirnya. Tentu saja dengan Akbar yang menggendong anak mereka.
Sesampainya di ruang makan, keduanya disambut senyuman oleh orang tua Akbar. Terlebih Elya yang mengulas senyum penuh makna pada mereka berdua. Apalagi bisa ia lihat kalau rambut anak dan menantunya itu masih agak basah. Namun, ia tidak berniat membahas itu agar tidak membuat menantunya merasa malu.
"Sini, Zaidannya biar sama Mama dulu. Kalian sarapan aja," ujar Elya yang mengambil alih sang cucu dari gendongan Akbar. Akbar pun memberikan anaknya itu pada sang mama. Yang langsung diterima suka cita oleh mamanya itu.
"Ututu cucu Nenek gantengnya."
Akbar dan Shanum sama-sama tersenyum ketika melihat anak mereka bersama Elya. Lalu, Akbar mengajak Shanum duduk untuk memulai sarapannya.
"Gimana rasanya jadi Papa, Bar?" tanya Faisal tiba-tiba pada anaknya itu.
"Rasanya menyenangkan, Pa. Dan tentu saja membahagiakan. Iya 'kan, Sayang?" Akbar meminta pendapat Shanum yang dibalas anggukan kepala oleh istrinya itu.
"Syukurlah kalo gitu. Semoga nanti kalian bisa ngasih Papa sama Mama cucu yang banyak. Biar rumah kita ini ramai."
"Aamiin, Pa," jawan Akbar disertai kekehannya. Sementara Shanum wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unpredictable Wedding
RomanceFollow dulu sebelum baca!!! Dan bacalah selagi on going. Karena jika sudah tamat akan langsung dihapus beberapa bagian. Jadi jangan telat baca! Positif hamil? Membahagiakan bukan? Tentu saja iya, bagi wanita yang sudah memiliki suami. Kehamilan ada...
