13. Akbar Berulah

5.8K 720 105
                                        

"Udah, gak usah dipikirin. Nanti langsung dijelasin aja kalo kamu takut dia kesinggung. Sekalian kasih ciuman deh biar dia gak marah," ujar Keisha diiringi kekehan pada kalimat terakhirnya.

"Ya aku jelasinnya nanti gimana? Masa aku tiba-tiba bilang, kalo aku gak maksud bicara kayak gitu? Nanti kalo respons dia biasa aja gimana? Apalagi paling gak ngaruh juga sama dia. Toh dia masih mikirin mantan istrinya," ujar Shanum cemberut karena ingat hal itu.

"Ya kalo gak ngaruh artinya bagus dong. Jadinya kamu gak perlu jelasin apa-apa."

"Kak Kei-"

"Lihat reaksi dia dulu ajalah. Kalo dia biasa-biasa aja, kamu gak perlu jelasin dulu. Tapi kalo dia agak beda, cemburu misalnya langsung deh kamu jelasin."

"Ya udah deh," pasrah Shanum. "Tapi kalo misalnya dia beneran gak punya perasaan apa-apa sama aku, gimana?"

"Ya, itu pr kamu, buat bikin dia jatuh cinta. Lagian kalian udah nikah. Kakak yakin sih, dia bisa dengan mudah jatuh cinta sama kamu. Apalagi kamu itu cantik, baik lagi. Udah pernah dicium sama dia juga 'kan? Kalau dia ketagihan ciuman kamu, lama-lama juga cinta," kekeh Keisha.

"Iya. Itu pun kalo dia gak ngira lagi nyium mantan istrinya."

"Kayaknya gak mungkin deh. Ya udah, Kakak balik sekarang ya. Dari tadi ditelponin mulu soalnya. Kamu baik-baik kerjanya," pesan Keisha yang hanya diangguki oleh Shanum. Ia kembali memeluk adiknya itu seraya berbisik, "Kakak senang karena akhirnya kamu bisa jatuh cinta lagi. Kakak doakan Akbar memang jodoh yang terbaik buat kamu," ujar Keisha yang diaminkan oleh Shanum.

Shanum melambaikan tangannya mengiringi kepergian Keisha. Ia juga memutuskan untuk kembali ke ruangan tempatnya bekerja. Setibanya di sana, ia duduk di kursinya seraya merenung dan mengingat ketika tadi Akbar mengacak rambutnya. Ia tak bisa menebak apa yang ada di pikiran Akbar karena tadi suaminya itu masih melengkungkan senyum untuknya. Tetapi itu pulalah yang membuat perasaannya tak tenang.

Shanum menunggu jam pulang dengan perasaan tak sabar yang bercampur cemas. Ia tak sabar lagi bertemu Akbar dan ingin menjelaskan apa maksud perkataannya tadi. Tetapi ia juga cemas kalau-kalau Akbar memang tidak peduli dengan ucapannya itu.

***

Shanum hanya diam saja ketika ia sudah berada di dalam mobil Akbar. Beberapa kali ia sempat melirik suaminya itu. Keningnya terangkat kala Akbar menatapnya seraya tersenyum.

"Bang. Soal yang tadi-"

"Yang mana?"

"Yang di kafe. Waktu aku sama Kak Keisha," sahut Shanum seraya memainkan jari tangannya. Entah mengapa berbicara seperti ini saja ia sudah merasa gugup.

"Oh yang itu. Lupain aja sih."

Shanum mendongakkan wajahnya karena respons santai yang diberikan Akbar. Apalagi laki-laki itu juga mengatakannya sambil tersenyum. "Ini kita langsung pulang aja? Apa mau mampir dulu?"

"Langsung pulang aja deh, Bang."

"Oke."

Lagi-lagi Shanum terdiam ketika Akbar mengusap kepalanya. Ia sama sekali tak bisa menebak apa yang Akbar pikirkan saat ini. Meskipun suaminya itu tersenyum, tetapi ia masih saja memikirkan ucapannya di kafe tadi.

Sudah beberapa hari berlalu tapi rupa-rupanya hanya Shanum sendiri yang merasa tak enakan. Sedangkan Akbar masihlah bersikap sebagimana biasanya dan seolah tidak terpengaruh sama sekali dengan ucapannya waktu itu. Lelaki itu seperti memang tak merasakan apa yang sedang ia rasakan. Mungkin memang benar kalau Akbar masih mencintai istrinya hingga saat ini.

"Abang mau ke mana?" tanya Shanum ketika melihat Akbar yang sudah rapi saat ia masuk ke kamar.

"Ke luar bentar. Kamu mau ikut?"

Unpredictable WeddingTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang