[Edited]
"Hari ini Dhika juga nampak keren". Gumamku sambil menulis di buku bersampul biru digenggamanku.
"Bro".Seru Dhika mendekatiku yang duduk dibawah pohon beringin dekat ruang kantor kampusku.
Aku tersenyum simpul melihat Dhika yang makin dekat denganku. Lelaki berambut hitam dan mata berwarna coklat yang selalu mengenakan kaos polo itu adalah orang yang aku sukai.
Suka.
"Cieeee! Yang makin hari makin cantik ajaaa!"Ujarnya yang sudah duduk disamping kananku.
"Gebang juga lu!"Kutendang sepatu Nike nya dengan gemas seraya memasukkan buku bersampul biruku. Sedangkan Dhika hanya tertawa geli sambil berusaha mencubit pipiku.
Kami pun bersenda gurau bersama."Eh,gue mau ngomong sesuatu ,nih !"Ucap Dhika setelah lelah bergurau.
"Apa?" Tanyaku polos.
"Nantilah broo,lu orang pertama yang tahu , nih!"
"Oklah! Ok! Masuk kelas yok!" Kamipun pergi ke kelas sastra bersama. Jujur aku sangat penasaran apa yang akan dikatakan Dhika padaku. Mungkinkah dia akan mengatakan suka padaku? Tapi bila terlalu lama bersamanya bisa-bisa ereksiku akan mengganggu konsentrasiku.
'^•^'^°^'^•^'
Usai kuliah selesai aku dan Dhika keluar dari ruang kelas sambil tertawa girang.
"Vi!"Seseorang menepuk pundakku.
"Yo!Ma bro Haikal Super Kece !"Dhika berbalik dan menepuk pundak Haikal.Aku hanya tertawa geli sambil menutup mulutku menggunakan punggung tanganku.
"Apa , Ka?" Tanyaku.
"Gue mo ngomong ama lu bentaran."Ujarnya.
"Heh,broo! Inget , Vino ini masih polos ,jangan ngajak dia ke tempat pecun lho!"Dhika menatapku berwajah serius.
"Hanjir lu!Gue bunuh juga lho!" Haikal mengakatan itu sambil menarik tanganku. Aku pun melambaikan tanganku pada Dhika dan mulai menjajarkan langkahku dengan Haikal.
"Ada apa ?"Tanyaku sekali lagi ketika kami sampai didepan ruang perpus yang sepi .
Aku menatap Haikal yang berdiri didepanku. Haikal pun mulai menatapku dengan wajah nya yang tegas dan mata sendunya .
"Gue suka elu Vi."
"....."
"Gu..gue ngerti ini aneh , tapi mau gak lu pacaran ama gue."
Haikal adalah teman seangkatan serta satu jurusan denganku. Dan akupun tahu bahwa dia pernah memiliki pacar perempuan. Melinda anak jurusan kedokteran dengan paras cantik dan sikap yang manis.
Lalu...lalu kenapa dia bilang suka padaku??
"A-Aku suka ama Dhika , Ka." Ucapku pelan sambil menunduk. "Tapi kita masih te..."Kata-kataku terhenti saat melihat wajah Haikal yang berubah merah. Dia menunduk pelan.
"Gue ngerti."
"Maaf ya ka!"Haikal tiba-tiba mengenggam wajahku lalu bibirnya menempel ke bibirku.
Spontan aku mendorong Haikal dan langsung berlari meninggalkannya.
'^•^'^°^'^•^'
Aku berjalan menuju cafe tempatku kerja sambilan. Masih teringat kejadian di Universitas. Ah,apa-apaan itu?!
Setelah sampai aku menuju pintu belakang cafe dan langsung menuju ruang karyawan.
"Woeh! Mbak ini tempat ganti cowok lho!" Ucap cowok kekar dengan wajah maskulin dan rambut panjang yang dikuncir kuda itu padaku saat aku memasuki kamar ganti untuk menuju lokerku.
"Kamu bilang 'Mbak' lagi aku kasih tau Ayu kamu suka aku." Balasku sambil menatap Dimas.
"Woles ,dong men! Jangan bikin Ayu salah paham" Ujarnya. Aku hanya terkekeh geli mendengarnya.
Akupun segera mengganti bajuku dengan baju pelayan. Segera aku menuju kedepan dan menggenggam note untuk menulis pesanan.
Tak lama kemudian muncul seorang pria parlente. Rambutnya disisir kebelakang , rambut berwarna emas itu nampak elok. Dengan setelan jas berwarna abu-abu yang begitu pas dengan badannya. Garis wajah tegas dan mata yang berwarna hijau safir. Dia adalah pelanggan tetap di cafe ini.
"Selamat sore Carl!" Sapaku padanya. Pria itu hanya tersenyum simpul sambil memandangku. "Pesanan seperti biasanya?"
"Iya."Suaranya berwibawah
. Sangat berwibawa. Dalam dan merdu.Aku pun segera menulis pesanan Carl ,espresso dengan krim diet dan parfait.
"Hei,Pretty boy."Carl memanggilku
"Ada yang bisa saya bantu lagi?"Tanyaku.
"Tambahan menu." Ucapnya sambil menaikkan sebelah alisnya yang tebal.
"Ya?" Aku pun ikut menaikkan alisku penasaran.
"Kau." Aku hanya terkekeh geli mendengar ucapan gila Carl seraya pergi untuk memberikan pesanan Carl pada barista.
*_*_*_*_*_*
Esok paginya aku berangkat ke Universitas dengan perasaan gelisah. Buku bersampul biruku hilang. Aku mencoba mengingat-ingat dimana aku meletakkannya tapi aku tak menemukan clue. Buku itu sangat penting. Karena segala emosiku kucurahkan disana.
"Yo bro!" Ah, pagi sekali Dhika sudah datang. Aku berlari menghampirinya. Ketika makin dekat kulihat ada sosok gadis mungil di samping Dhika.
"Pagi." Sapaku.
"Pagi." Jawab gadis itu tersenyum manis.
"hehe,kemarin kan gue mau ngomong sesuatu nih ama lu. Nah,kenalin ini Mega. Cewek gue." Ucap Dhika dengan senyum yang amat sangat bersinar.
Tanganku bergetar menyambut uluran tangan Mega. Aku mencoba untuk tetap tersenyum. Semanis yang aku bisa. Sekuat yang aku bisa.
Sakit. Rasanya jantungku remuk. Mengetahui Dhika benar-benar memiliki kekasih sekarang. Namun , deminya, akan kucoba untuk menjadi kuat.
Kamipun berjalan mengantar Mega menuju kelasnya. Tapi langkah kaki Dhika dan Mega berhenti saat di depan mading.
Aku tak tertarik dengan apa yang ada dimading jadi aku pun berbalik menuju bangku sebelum suara parau Dhika menghentikan langkahku.
"Vi! Lu gak mungkin , kan!?" Tanyanya bingung. Sama halnya denganku yang tak mengerti apa yang dikatan oleh Dhika.
Aku membalikkan badanku lalu melihat wajah Dhika yang terkejut tak percaya. Aku mengalihkan pandanganku ke arah mading.
Dan betapa terkejutnya aku melihat lembaran demi lembaran buku bersampul biruku terpampang di papan mading dengan sempurna.
"Lu suka gue?" Lanjut Dhiaka dengan mata yang jijik memandangku.Aku mundur satu langkah.
"Itu becandaan doang kan?" Aku mundur dua langkah saat semua mata melihatku.
Tatapan jijik dan bisik-bisik mereka. Apa? Apa yang sedang terjadi?!
Aku berlari sekuat tenaga. Berlari dari Dhika sekuat tenaga. Sebisa mungkin.
Tuhan! Inikah hukuman-Mu untukku yang sudah melanggar aturan-Mu?!
Air hangat mengalir dari pelupuk mataku. Sakit. Dadaku terasa sangat sakit. Makin sakit.
Puluhan pasang mata melihatku yang tengah berlari. Tanpa kusadari aku sudah sampai disebuah RS. Kakiku yang mulai lelah kulangkahkan menuju lobi rumah sakit.
"Vino?!"
"Kak..." Tangisku pecah saat melihat wanita kurus yang duduk diatas kursi roda.Wajahnya yang dulu cantik kini berubah tirus dan matanya yang sipit kini mencekung sempurna.
Aku menempelkan kepalaku dipaha Kak Dona. Aku mulai menangis, menangis dan menangis. Tak peduli berapa orang yang melihat. Malu atau tidak aku hanya ingin menumpahkan cairan hangat ini.
*_*_*_*_*_*

KAMU SEDANG MEMBACA
18+ Matahari Tak Selamanya Bersinar [Tahap Perbaikan]
RomanceDhika seorang straight yang berteman dengan Vino seorang gay. Namun fakta Vino gay hanya di ketahui olehnya sendiri dan buku diarynya. Namun suatu hari buku biru kecil itu hilang. Vini kalap mencarinya kemana-mana. Lalu suatu hari lembaran buku itu...