[Edited]
•••Lukas•••
Perutku mulas , mataku berkunang , kepalaku terserang migrain dan aku melihat kilasan kejadian yang terjadi didepanku .
Tadi aku melihat kak Vino ,saudara satu ibuku , tengah digendong oleh seorang pria yang entah siapa namun aku pernah melihatnya , dibawa ke sebuah mobil box warna merah .
"Sial!! Vino tak menjawab telponku!!" Maki Carl , kekasih kak Vino.
"Tenanglah Carl . Kita harus tenang bila ingin mengejar mereka. Karena kamu harus fokus pada jalan." Aku mencoba menenangkan Carl yang seperti aku menenangkan diriku sendiri yang tengah duduk disebelahnya.
Niat kami untuk menyusul dan membantu kak Vino berbelanja hancur karena kejadian itu . Rasanya aku mau muntah saja kalau begini .
*-*-*-*-*-*
•••Vino•••
"Halo bajingan!" Tendangan segera mendarat kewajahku sebelum aku membuka mataku yang terasa amat berat. Aku mencoba menggerakkan tubuhku yang terasa ngilu diseluruh tubuh.
"Soooo,Kau tak tau aku siapa bukan !?" Ucapan orang yang didepanku membuatku berdesir. Mendongak perlahan melihat wajah sang empu suara lembut itu.
"Hana?" Rambutnya ia kuncir kuda , bulu matanya lentik, bibirnya tipis dan tampak merah karena lipbalm yang dikenakannya, dia memakain
dress berwarna putih menutupi pahanya yang putih.Hana menyeringai dan mengeluarkan sesuatu dari saku dressnya. "Kau tau aku rupanya."Dia berujar sambil memainkan pisau lipatnya. Aku menatap nanar padanya dan masih bingung apa yang tengah terjadi.
"Hana , bila kamu ingin bicara , kau bisa memanggilku secara baik-baik . Bukannya menyuruh orang untuk menculikku." Ucapku yang kini sudah duduk bersila diruangan dengan cahaya temaram ini. Samar aku edarkan pandangan untuk melihat isi ruangan ini.
Ya Tuhan.
Ruangan ini dipenuhi fotoku secara candit , maupun secara langsung . Seluruh tembok ruangan ini terpasang berbagai macam wajahku dalam berbagai ukuran.
"Dia sangat mencintaimu. Dia sangat peduli padamu . Dia terosebsi padamu." Hana menatapku dengan pandangan tajam. Aku mencoba menelaah , dia siapa ??
"Selalu . Yang dibicarakan olehnya hanyalah kau dan kau. Setiap hari kau yang beginilah , besoknya kau yang begitulah ." Hana berjongkok mensejajarkan matanya dengan mataku.
"Bahkan aku yang selalu didekatnya pun tak diliriknya, Vino!" Mata Hana membulat dan dia membuat seringaian lagi. Kini lebih nampak mengejamkan.
"Dan kau . Dengan tanpa berdosa menolaknya . Menolak orang yang benar-benar menyukaimu ." Pisaunya kini ada dileherku.
"Aku menangis saat pemakamannya dan berjanji akan membawamu kepadanya." Apa ?? Pemakaman???
"Si-siapa yang dimakamkan ?" Tanyaku dengan suara tercekat.
"Haikal." Senyuman terukir saat Hana mengucapkan nama Haikal.
Orang yang dibilang Carl sedang dipenjara itu kini ada diliang lahat . Tak bernafas . Tak bernyawa . Bagaimana bisa ??
"Kau terkejut ?Dia kecelakaan dan kehabisan darah . Karena dia melihatmu yang sudah tak berdaya dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya."Lanjut Hana mulai menekan pisaunya.
"Akan aku kirim kau ketempat kau seharusnya , Vino! Haikal sudah menunggu."Hana , sahabat Haikal , menyeringai untuk kesekian kalinya.
"Akupun akan menyusul kalian . Jadi jangan khawatir." Aku mencoba bergerak namun pisau dileher membuatku bergidik ngeri.
"Oh!! Sebelum itu." Hana berdiri keluar dari kamar . Dengan cepat aku merogoh saku jaketku dan syukurlah masih ada disana . HP.
Aku aktifkan GPS di HP ku , berharap Carl bisa mencariku lewat GPS. Aku juga mengetikkan pesan singkat bahwa aku diculik dan dibawa kerumah temanku. Kusakukan kembali HPku saat kudengar suara langkah kaki dari arah pintu . Dan , terlihat Hana yang sudah membuka pintu dan membawa sebuah map biru ditangannya.
"Tanda tangani ini."Hana melemparkan map biru padaku. Akupun segera mengambil map itu lalu melihat isinya.
"Ka-kau. . . Me-mereka. . . . kalian bersekongkol ?" Mataku menajam melihat kearah Hana yang mulai berjongkok lagi.
"Yupz." Jawabnya ringan .
"Aku tak peduli dengan harta Hana . Tapi aku tak mau bila mereka mengingikan aku kembali pada mereka." Map itu berisi penyerahan hak asuh dan harta warisan . Hei!! Aku sudah 19 tahun dan aku tak perlu diasuh lagi .
"Tak masalah . Tanda tangani dan mari kita selesaikan masalah kita." Hana kembali memainkan pisaunya .
Aku mengambil bulpoin dan membaca sekali lagi lembaran itu . Dengan rela aku menyerahkan semua warisan kakek kepada kedua orang nista yang tak pantas dianggap orangtua itu.
"Mari ber-. . . . . " belum selesai Hana melanjutkan kata-katanya suara tembakan mengaggetkanku begitu pula Hana.
"DOR."
*-*-*-*-*-*-*
Sooo??? Menurut kalian bagaimana inih cerita gua ???
Ya , gua ngarti , nih cerita kagak bagus" amat kok :v
lu bantuin gua buat ngeshare nih cerita dong , ama kasih vote dan comment gtu lhooo
Happy Reading lah

KAMU SEDANG MEMBACA
18+ Matahari Tak Selamanya Bersinar [Tahap Perbaikan]
RomanceDhika seorang straight yang berteman dengan Vino seorang gay. Namun fakta Vino gay hanya di ketahui olehnya sendiri dan buku diarynya. Namun suatu hari buku biru kecil itu hilang. Vini kalap mencarinya kemana-mana. Lalu suatu hari lembaran buku itu...