[Edited]
-->Carl Pov
Aku menyelesaikan pekerjaanku secepat mungkin . Malas lama-lama harus tinggal di perusahaan . Pasalnya para karyawati disini selalu senang tersenyum palsu dan bertingkah memuakkan .Apalagi kinerja mereka yang 5:2 dengan karyawanku.
HP ku bergetar sekali namun panjang ini menandakan ada SMS entah dari siapa tapi aku tak berminat membukanya karena aku tahu ini tidak begitu penting. Aku melangkahkan kakiku yang sudah keluar dari lift menuju mobil sedan sederhanaku yang sudah ada di depan perusahaan .
Aku masuk dan langsung melajukan mobil menuju apartemen kecil di pinggiran kota . Meski kuakui aku ini kaya tapi aku tak suka menghamburkannya hanya untuk membeli mobil atau tinggal di apartemen mewah membeli barang-barang mahal dan makan di restoran mahal .
Aku lebih senang menabung dan memberikan sebagian uangku untuk mereka yang membutuhkan . Yeah ! Aku dermawan . Tapi mana ada orang dermawan yang menyebut mereka itu dermawan . Ada . Buktinya aku.
Meski dari luar aku terlihat dingin tapi aku sebenarnya orang yang konyol . Menurutku pribadi , tapi tak ada orang yang tertawa dengan tulus oleh guyonanku . Mungkin karena aku yang selalu mengerutkan dahi merasakan perilaku kurang ajar para karyawatiku.
"Drrrt!Drrrrt!Drrrrt"
Kulihat HP ku yang baru kukeluarkan dari saku jasku . Tertera nama Dona disana . Dua hari lalu aku memberikan Dona HP keluaran baru dengan icon apel yang sudah dimakan entah oleh siapa , aku ingin agar saat aku tidak bersama Vino , Dona bisa memberikanku kabar tentang pujaan hatiku itu.
"Ada apa Dona?" Tanyaku , tapi yang kutahu dari suara disebrang sana bukanlah kabar baik . Dona terisak . "Ok ! Aku akan segera kesana." Aku segera memutar mobilku tentu saja tidak terburu-buru karena aku masih sayang nyawaku , segera menuju RS dimana Vino dan Dona dirawat.
"Shit! Kenapa sekarang malah macet !!" Aku memukul setirku dengan kasar . Aku melihat ada seorang polisi yang tengah berlari kedepan dimana pusat kemacetan itu berlangsung.
Oke. Aku jadi tahu kalau sekarang ada sebuah kecelakaan. Aku mengambil HPku langsung ku SMS sekretarisku untuk mengambil alih mobilku yang sudah ku tinggalkan.
Untung RS milikku tidak begitu jauh dari TKP dan dari apartemenku . Fuck . Kenapa aku membeli mobil dan melakukan pemborosan besar-besaran.
Sampai juga , aku setengah berlari menuju kamar inap Vino . Tapi yang kulihat hanyalah tempat tidur yang kosong.
"Pak , saudara Vino sekarang berada di ruang UGD." Ucap seorang suster berbadan gembul dengan tatapan mata yang menenangkan.
Setelah mengucapkan terima kasih pada suster itu aku segera menuju UGD yang tak jauh dari kamar Vino. Dari jauh kulihat Dona yang tengah terisak sambil menggenggam HP miliknya .
Belum sempat aku sampai UGD aku di halangi oleh para perawat yang tergopoh membawa seorang bocah yang berlumuran darah dan dibelakangnya aku melihat ada bapak tua dan anak kecil .
"Oh! Korban kecelakaan tadi rupanya" ucapku enteng . Aku pun melangkah lagi setelah 3 orang tadi sudah masuk ruang UGD.
"Dona!" Panggilku sambil memegang bahunya yang bergetar.Dona mendongakkan kepalanya mata coklatnya sayu dan ada sorot khawatir disana.
"Everything gonna be ok Dona!" Aku ucapkan itu sembari memeluk Dona.
"Vi—Vino . . . " Dona terbata mengucapkan nama adik tercintanya itu . "Aku tidak akan membiarkan milikku pergi Dona! Percayalah ! Dokter-dokter yang ku pekerjakan disini adalah dokter yang berdedikasi."
Dona perlahan membalas pelukanku. Masih bergetar . Selang beberapa menit seorang dokter dengan seragam operasi berwarna hijau keluar dari UGD . "Luka Vino sudah kami tutup kembali . sekarang Vino sedang tidur dan akan dibawa ke ruangannya." Jelasnya padat jelas
"Thanks ! Tell me about what happening Mario." Titahku pada Mario yang menampakkan wajah bingung . Dia pun mengangguk pelan sambil menyuruh seorang suster untuk mengantar Dona ke kamar Vino.

KAMU SEDANG MEMBACA
18+ Matahari Tak Selamanya Bersinar [Tahap Perbaikan]
RomanceDhika seorang straight yang berteman dengan Vino seorang gay. Namun fakta Vino gay hanya di ketahui olehnya sendiri dan buku diarynya. Namun suatu hari buku biru kecil itu hilang. Vini kalap mencarinya kemana-mana. Lalu suatu hari lembaran buku itu...