15🙆

2.4K 239 35
                                        

Wahyu berada di ruangan kantornya yang tengah berkutat dengan layar lipat didepannya,suasana kantor yang baru membuatnya sedikit susah untuk beradaptasi.

Drrrttt....drtttt

Suara getaran ponsel Wahyu terdengar,dengan segera laki-laki bertubuh jangkung itu mengangkat teleponnya.Senyum yang mengembang ketika melihat nama siapa yang terpampang jelas dilayar pipih dihadapannya itu.

"Halloo sayang,"Ucap Wahyu menyapa seseorang yang tak lain istrinya sendiri.

"......"

"Kamu gimana kabarnya?kamu tau nggak,aku disini kesusahan tau."

"......."

"Iya, apa-apa harus aku lakuin sendiri mulai dari masak, siapin baju,bangun sendiri.Satu Minggu aku disini selalu aja kesiangan,biasanya kan ada kamu yang bangunin aku tapi ini nggak ada."

"......."

"Nggak bisa sayang,aku udah pasang alarm tapi tetep aja nggak bisa."

"......"

"Kamu pindah kesini aja ya,temenin aku."

"......."

"Yahh kalau 3 bulan lagi kelamaan dong,udahlah kamu kesini aja."

Tok...tok...

Ditengah percakapan Wahyu dan Farah seseorang mengetuk pintu ruangannya.

"Masuk..."Ucap wahyu mempersilahkan siapa yang mengetuk pintunya tadi.

Caroll yang mendengar ucapan Wahyu tersenyum manis,dengan pakaian kantornya Caroll berjalan dengan anggun masuk kedalam ruangan Wahyu.

"Sayang sebentar ya,nanti aku telpon lagi,"Ucap Wahyu menyudahi telponnya bersama Farah.

Laki-laki bermata sipit itu melihat sekilas Caroll yang tengah berjalan mengarah ke meja nya.

"Permisi pak,ini berkas yang bapak pinta tadi,"Ucap Caroll dengan lembut.

Caroll menyukai Wahyu namun bukan berarti ia harus menjatuhkan harga dirinya dengan memakai baju baju sexy, lihatlah sekarang perempuan dengan usia 26 tahun itu menggunakan setelan jass kantor dan rok yang mengembang dibawah lututnya.

Wahyu mengambil berkas yang disodorkan oleh Caroll barusan,ia membolak-balikkan lembar demi lembar kertas putih yang ada ditangannya itu.

"Mmm....Satu lagi,saya minta tolong berikan laporan kantor mulai dari 1 tahun kebelakang hingga bulan ini,"Ucap Wahyu pada Caroll.

Caroll menatap Wahyu dan mendengarkannya dengan seksama, perempuan bertubuh mungil itu mengangguk dan tersenyum pada Caroll. "Baik pak, segera saya kirimkan.Kalau begitu saya permisi kembali keruangan saya,"Ucap Caroll dengan senyum diwajahnya.

Wahyu sejenak terpaku dengan senyum Caroll dan tak lama ia membalas senyum Caroll dengan singkat.

"Silahkan."

Caroll yang melihat respon Wahyu barusan yang memberikan senyum padanya lantas mengerjapkan matanya tak percaya.

Caroll berjalan keluar dari ruangan Wahyu dengan senyum yang mengembang di wajahnya.

*****

Di sisi lain....

Farah duduk menatap kaca yang ada dihadapannya,pikiran tentang status yang ia miliki bukanlah anak kandung Bundanya masih menghantui otaknya.

Farah tidak tahu bagaimana jadinya jika semua orang mengetahui kenyataan itu."Aku harus gimana,"Gumam Farah.

Tidak ingin berlama-lama di rumah Bundanya,Farah bergegas menyiapkan barang barangnya dan pergi meninggalkan rumah Bundanya.

Farah mengambil kunci mobilnya dan memutar mobilnya entah ke arah mana.Saat ini yang ia perlukan hanyalah ketenangan sejenak.

Farah mengemudikan mobilnya menuju taman yang berada di dekat SMA nya dulu,taman yang ia kunjungi memiliki banyak kenangan semasa ia SMA dlu.

Tibanya Farah di taman,rumput hijau menyambut kakinya. Ia menatap sekeliling,ternyata tidak ada perubahan dari beberapa tahun yang lalu.

Farah melangkahkan kakinya menuju salah satu kursi ditaman yang penuh dengan bunga itu.Dengan pikiran yang berkecamuk,farah memilih memejamkan matanya dengan tangan yang ada di kepalanya.

"Kalau ada masalah itu cerita,bukan diem dan lari dari masalah."Suara seseorang berhasil mengusik ketenangan Farah.

Farah menurunkan lengannya dan melihat siapa yang mencoba bicara Padanya. "Diego,kamu disini?"Ucap Farah pada seseorang yang ada disampingnya dan ternyata itu Diego.

"Aku tadi nggak sengaja lewat sini,terus liat mobil kamu makanya aku susul,"Ucap Diego pada Farah.

"Kamu ada masalah?"tanya Diego pada Farah.

Farah menatap Diego sejenak dan menghembuskan nafasnya pasrah. "Banyak masalah yang nggak bisa aku ceritain,"Ucap Farah pada Diego.

Diego menatap Farah dengan teduh,ia menarik  kepala Farah agar bersandar di bahunya."Yaudah kalau belum bisa cerita,tapi kamu harus tetep kuat jalaninnya,sebanyak cobaan itu berarti kamu orang yang spesial di mata yang maha kuasa,"Ucap Diego mencoba menenangkan Farah.

Farah tersenyum mendengar ucapan Diego, semakin kesini Farah merasa Diego semakin dewasa sangat berbanding tebalik dengan sikap Diego beberapa tahun yang lalu.

Tbc
.
.
.
.

LikuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang