Rasa cinta untuk Andi masih ada. Masih tersimpan dihatiku. Masih memiliki porsi yang besar dihatiku.
Tapi aku tidak mempunyai keberanian untuk datang dan meminta maaf padanya.
Andi baik-baik saja. Semakin baik sepertinya. Setidaknya itu yang aku dengar dari Ellen.
Ellen, tanpa aku minta menjadi informan untukku. Aku senang, tentu saja karena aku masih bisa mengetahui tentang kehidupan Andi, tapi tentu saja aku menutupinya dari Ellen.
Aku keluar dari perusahaan tempatku bekerja. Sebuah proses yang rumit dan aku tidak mau mengingatnya kembali. Satu hal yang baru aku sadari, lingkungan itu tidak baik untukku. Lingkungan yang aku maksud adalah Boss dan aku.
Aku tidak bisa menyalahkan siapapun. Hidupku adalah milikku. Dan yang aku berperan besar untuk hal-hal yang terjadi dihidupku. Orang lain hanyalah faktor eksternal yang tidak akan menjadi masalah ketika internalku baik-baik saja.
Ya, aku tidak baik-baik saja.
Setelah keluar dari perusahaan, aku baru mengetahui kalau aku tidak baik-baik saja.
Setelah melalui bermacam sesi meditasi dan hypnoterapi, aku mengetahui kalau aku tidak mencintai diriku sendiri. Sama seperti ucapan Andi di pertemuan kita yang terakhir.
Insecurity ini seperti kanker yang mengerogotiku. Perlahan demi perlahan merusakku. Aku melihat segala hal dari sisi negatif, jarang bahkan mungkin tidak pernah aku melihat dari sisi positif.
Aku pernah mengalami hal-hal buruk sewaktu aku kecil. Hal-hal yang dianggap remeh oleh sebagian orang. Aku yang selalu jadi bahan ejekan hanya karena warna kulit, postur tubuh dan penampilan fisik.
Ternyata itu semua menjadi salah satu penyebabnya. Membekas didalam diriku.
Ya, aku terlihat baik-baik saja, penampilan luar atau apa yang aku ingin aku tunjukan kepada masyarakat. Tapi jiwaku tidak baik-baik saja.
Perlu waktu tiga bulan lebih untuk aku berdamai dengan diri sendiri. Perlu pengendalian diri dan motivasi yang kuat agar aku bangkit dari rasa tidak percaya diri.
Selama proses ini aku pulang ke Bandung, tinggal dengan keluargaku. Sudah hampir lima bulan aku tidak bekerja. Menjadi pengangguran. Dan ya, cobaan pertama datang dari keluargaku. Tapi seperti yang aku bilang, semua itu tergantung bagaimana aku menghadapinya.
Sekarang aku menganggapnya sebagai cara keluargaku, tante-tanteku, menunjukkan rasa sayangnya padaku. Tidak mudah memang tapi aku berjanji akan mencoba untuk selalu berpikiran positif dan dimulai dari hal kecil.
Andi.. hanya masalah dengannya yang aku belum selesaikan sampai sekarang.
Dulu, ada setitik harapan untuk aku bertemu kembali dengan Andi. Meminta maaf, berterima kasih dan menyelesaikan permasalahan kami. Tidak aku pungkiri, aku masih memiliki harapan bisa mengulang kembali hubungan kami.
Namun aku tahu, semua itu tidak akan pernah terwujud.
***
Satu bulan yang lalu..
"Kanaya?" Panggilnya lembut.
Aku menoleh kearah suara, Renata berdiri disana tersenyum kearahku.
Dan sekarang disinilah kami, duduk dipojok disalah satu coffee shop di daerah Braga.
"Apa kabar Kanaya?" Renata memecah kesunyian diantara kami.
"Baik.."
"Kita nggak pernah kenalan secara resmi ya.." Renata menjulurkan tangan kanannya, "Renata."
KAMU SEDANG MEMBACA
Insecurity (TAMAT)
Chick-Lit"Now, tell me how can i love someone who didn't love herself?" Aku terdiam. "Kamu dan pikiran kamu itu yang harus diperbaiki." Dia menambahkan.
