Bukanagara Coffee..

15.9K 1.5K 8
                                        

"Coy, kerja diluar yuk.. Mumpung Boss belum datang nih." Ajakku ke salah satu rekan kerjaku, Ellen.

"Kapan Boss dateng?" Ellen, anak digital marketing di kantorku, tampak asik membuat konten untuk diposting di social media kami.

"Masih minggu depan." Aku memutar kursiku menghadap Ellen yang membelakangiku. Aku melempar bolpoint dan mengenai kepalanya.

"Sakit Kana!" Ellen membalikan badannya menghadapku sambil mengelus-elus kepalanya. "Mau nongki dimana kita? Yang harganya bersahabat please! Bokek abis lebaran."

"Panjang banget itu omongan udah kayak KRL aja." Aku memberikan HP-ku kepadanya. "Bukanagara kopi, di CIMB Building situ!"

"Sudirman? Sekalian balik bisa nih gue!"

"Gak usah kelewatan. Miko tau kita kerja di luar ngomel dia." Aku mengambil HP-ku dari tangan Ellen.

"Hayuk sih,, suntuk juga gue. Gak dompet, Karir, percintaan gue juga suram!"

"Elahhh,, sejak kapan percintaan loe indah?"

"Ehh, kampret... peluang buat gue masih kebuka lebar ya! Loe noh yang prihatin, kebebasan loe tinggal itung hari." 

"Makanya hayuk kerja di luar aja. Udah tau Boss dateng gue gak bisa gerak sama sekali. Napas aja harus seijin dia."

"Lebay loe!!" Ellen membalikan badannya menghadap mejanya, mematikan laptop dan memasukannya ke dalam tas ransel.

"Gue pengen potong rambut nih. Udah panjang."

"Gue pengen potong waktu kunjung si Boss sih biar gue bisa bernapas panjang."

"Lagak loe gembel!"

"Kemaren lagi libur lebaran aja dia teror gue mulu tau. Terus terakhir-akhir gue bales chat dia lama." 

Aku mencantong tasku ke bahu sebelah kiri, dan mencantong tas laptop di bahu sebelah kanan.

"Gak lama dia WA gue lagi, ngomong 'saya tau kamu nggak lebaran jadi nggak ada alasan buat kamu lama bales chat saya'"

"Posesif bener ya si Boss!"

Kami berjalan menuruni tangga, ruangan kerja kami di lantai 4.

"Gue pikir masalah kerjaan kan ya, taunya personal stuff dong! Kesel gue!"

"Apaan?"

"Pastiin apartement saya bersih dan AC nyala ketika saya tiba hari Senin nanti." Aku mengikuti gaya Boss berbicara.

Ellen memberhentikan langkahnya, mengalihkan pandangannya kepadaku. "Loe itu asisten dia apa ART?" Lalu dia tertawa terbahak-bahak.

"Mau kemana loe pada?" Miko menghalangi langkah kita tepat di depan pintu masuk lantai 3.

"Permisi Bang. Badan loe gede, nutupin pintu." Seloroh Ellen.

"Mau kemana?"

"Mencari udara bebas kita. Bosen pemandangannya itu-itu lagi." Jawabku.

"Udah ngomong ma Boss?"

Aku kesal "Yang asisten dia, loe apa gue sih? Kok loe sewot amat?"

"Yah harus jelas dong ibu asisten. Jangan menyalah gunakan kekuasaan deh." Telunjuknya yang gendut diarahkan ke wajahku.

"Mau kerja di luar kita. Sekalian cari inspirasi."

"Sama nyari cowok yah? Uhhh,, perkumpulan jomblo."

"Sialan loe gendut! Minggir." Ellen mendorong tubuh Miko hingga mundur.

"Mudah-mudahan dapet ya. Secara umur kalian udah uzur gutu."

Insecurity (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang