Enjoy.....
Ini kali pertama aku berkunjung ke apartemen Andi. Apartemen Andi merupakan bangunan lama yang lumayan besar dengan dua kamar tidur, dapur dan ruang tamu. Diluar dugaan apartemen Andi sangat rapih untuk standar pria lajang sepertinya.
"Kamu mau minum apa?" Teriak Andi dari dapur.
"Air mineral aja." Aku sekarang duduk di sofa di ruang tamu yang merangkap ruang TV.
"Beneran cuman mau air putih? Aku punya bir sama red wine kalau kamu mau." Andi menyerahkan gelas kepadaku sedangkan ditangan kirinya memegang sekaleng bir.
Red wine, my favorite. Namun berbahaya bila aku minum dan mabuk. Aku hanya berdua saja dengan Andi.
"Aku ambilin red wine deh. Muka kamu mupeng gitu!" Andi membaca pikiranku dengan tepat.
Tak lama Andi datang, dengan 2 gelas kosong dan satu botol red wine.
"Baru?"
"Yup." Andi membuka gabus penutup wine dengan croksrew, tak lama Andi menuangkan wine ke dua gelas yang diletakan di meja depan sofa.
"Makasih"
Andi memberikanku gelas yang sudah diisinya dengan red wine. Tak lama dia duduk disebelahku.
"So, tell me about you?" Andi menatapku sambil meminum wine-nya.
"About what?"
"Tentang kamu. Aku mau ngenal kamu lebih lagi."
"Nggak ada yang istimewa di hidupku."
"Pasti ada nggak mungkin nggak ada. Mantan pacar misalnya."
Wine biasanya terasa manis tapi kenapa sekarang terasa pahit? Dan kenapa Andi tiba-tiba menanyakan tentang kehidupanku. Maksudnya, kami sudah resmi berpacaran tiga mingguan tapi kenapa baru sekarang Andi menanyakan. Terlebih mantan pacar yang nggak ada rupanya! Nihil!
"Hemm... nggak ada!"
Andi hampir menyeburkan wine yang belum lama diteguknya itu. Tak lama kemudian dia menatapku menyelidik.
"Maksudnya nggak ada?"
"Nggak ada mantan." Aku memainkan gelas ditanganku, perasaan rendah diri itu hadir kembali. Aku menundukkan kepala, mataku fokus pada cairan merah di dalam gelas.
"Aku pacar pertama kamu? Wahhh... this is a privilage for me!" Aku mengangkat kepalaku menatapnya.
Andi mengambil gelas ditanganku, menaruhnya di meja kotak didepan kami. Hal yang tak kuduga terjadi, Andi memelukku.
"Terima kasih menjadikan aku yang pertama." Katanya manis.
Entah pelukan Andi yang nyaman atau kata-kata manis yang baru saja diucapkannya, air mataku keluar perlahan. Pelukan hangat Andi mengingatkanku akan pelukan Bapak.
"Hei... kok nangis?" Andi mengurai pelukannya, ibu jarinya menghapus air mata yang sialnya terus mengalir lancar. "Aku salah ngomong?" Aku menggelengkan kepala. "Kamu seneng banget ya sampe nangis?"
"Pelukan kamu."
"Pelukan aku kenapa? Sorry... sorry... kamu kaget ya? Harusnya aku take it slow ya?"
Tidak seperti biasanya, tebakan Andi salah kali ini.
"Bukan itu" Kataku cepat. Aku tidak mungkin mau kehilangan pelukan hangat ini. "Aku cuman keingetan Bapak. Pelukan kamu ngingetin aku sama pelukan Bapakku."
"Mau pulang Bandung besok? Aku bisa antar."
"Bapak meninggal dua tahun yang lalu."
Andi langsung memelukku lagi, tangannya mengelus pelan punggungku. "So sorry, aku nggak tau."
Aku tidak menjawab, aku terhanyut dalam kehangatan pelukan yang mengingatkanku akan sosok Bapak yang aku rindukan. Aku ingin bilang, 'Pak, anakmu sudah punya pacar sekarang. Akhirnya ya Pak? Mudah-mudahan bisa sampai jadi suami.' Tapi aku tahu kesempatan itu sudah tidak ada lagi.
"Aku mau tahu tentang kamu boleh ya?" Ijin Andi padaku.
Aku mengurai pelukan Andi, menghapus air mata dengan jari-jariku. "Nggak ada yang istimewa."
"Jadiin istimewa buat aku."
"Receh banget sih bang!" Aku memukul pelan tangannya.
"Aku orang Jogja, kamu harusnya manggil 'mas'" Koreksinya, "So tell me about you!" Perintahnya tegas.
Aku binggung harus memulai dari mana, Andi masih menatapku menunggu aku bercerita. Tatapan menuntut yang membuatku resah.
"Aku nggak tau harus mulai darimana. Aku belum pernah pacaran sebelumnya. Kamu yang pertama." Andi masih menatapku, menuntut aku untuk melanjutkan ceritaku. "Aku... jujur aku binggung harus gimana, aku nggak punya pengalaman selama ini. Aku harap kamu ngerti."
"Lucu ya.. disaat temen-temen aku udah pada nikah malah udah punya anak, aku baru pacaran." Aku menundukkan kepala kembali, menatap gelas wine ditanganku.
"Aya..."
"Hemm..."
Andi menyentuh daguku, memaksaku untuk menatapnya.
"Apa yang salah dengan kamu baru pacaran sekarang? Aku nggak ngeliat poin salahnya dimana?"
"Umur aku maksudnya. 31 tahun."
"Kenapa dengan umur, jatuh cinta nggak kenal umur Aya, jangan ngebatasin gitu" Katanya lembut.
Aku menurunkan tangan Andi yang masih memegang daguku.
"Aku..." Aku ragu menanyakan ini tapi jujur aku penasaran, "Kenapa kamu suka sama aku?"
Andi hanya menatapku, memberikan jeda yang lumayan lama hingga membuatkan menerka-nerka jawabannya. Apa mung..
"Aku suka kamu. Apa suka harus ada alasannya?"
Apa suka harus ada alasannya? Aku mengulangi jawaban Andi di kepalaku.
"Hei..." Andi mengenggam tangan kananku, "Cinta nggak perlu alasan Aya. Cuman perlu kamu rasakan."
Cuman perlu dirasakan...
Andi memajukan kepalanya ke arahku, hembusan napasnya menyentuh pipiku, tak lama bibirnya menyentuh bibirku. Aku merekam itu semua dengan mataku, bagaimana Andi menutup matanya perlahan, bulu mata Andi yang lentik, hembusanan napasnya yang teratur terasa mengelitik pipiku. Hanya Andi yang berinisiatif disini. Hanya Andi yang menciumku, aku diam. Binggung harus bagaimana?
dirasakan..
Yaa dirasakan, perlahan aku menutup mataku. Mencoba mengikuti 'permainan' Andi. Aku mulai membuka kedua bibirku dan mengikuti pergerakan bibir Andi dengan perlahan. Andi tersenyum, aku tau itu. Aku bisa merasakannya. Ciuman Andi menghanyutkanku hingga tak rela ketika Andi mengakhiri 'permainan' kami.
"Untuk pemula aku kasih kamu nilai 7" Andi tersenyum lebar, mengecupku singkat.
"Andi!"Aku mencubit lengannya yang berada di pahaku.
"Itu kenyataan kok!" Balasnya sambil mengelus-elus bekas cubitanku di lengannya.
"Ini pertama kalinya..."
"Aku tau" Andi memotong, "Makanya kamu harus banyak latihan sayang, biar nilainya naik jadi 10." Tambahnnya sambil berdiri menghindariku yang akan mencubitnya.
Andi berjalan ke arah kamar yang aku duga kamarnya. Aku melihat punggungnya yang perlahan menghilang ke dalam kamar. Aku kembali mengulang adegan 'permainan' kami tadi. Ciuman Andi terasa seperti mint tea tapi memabukkan seperti red wine. Dan aku tidak keberatan untuk mengulanginya kembali.
KAMU SEDANG MEMBACA
Insecurity (TAMAT)
Literatura Kobieca"Now, tell me how can i love someone who didn't love herself?" Aku terdiam. "Kamu dan pikiran kamu itu yang harus diperbaiki." Dia menambahkan.
