Aku terbangun. Kubuka kedua kelopak mata perlahan-lahan, mencoba beradaptasi dengan sinar matahari yang masuk melalui celah jendela yang tidak tertutup rapat gorden. Mungkin aku terlalu lama tidur dengan posisi menyamping ke kanan karena aku mulai merasakan kram. Aku merasakan pergerakan dibelakangku. Ada tangan yang melingkar di pinggangku. Andi. Ya, ini tangan Andi. Aku tahu itu, ada gelang Tridatu berwarna merah-hitam-putih yang melingkar dipergelangan lengan kiri Andi. Napas Andi terasa menggelitik tengkuk leherku.
Aku menundukkan kepala, perlahan mungkin. Aku tidak ingin gerakanku membangunkan Andi. Baju yang aku pakai masih baju yang sama dengan baju semalam. Aku menghela napas lega tapi aku tidak tahu dengan tubuh bagian bawahku. Kaki Andi membelit betisku, seolah-olah aku ini gulingnya. Jantungku berdetak lebih cepat ditambah aku ingin buang air kecil. Penderitaan ini terasa amat menyiksa ketika kepalaku terasa pening.
Tanda-tanda Andi akan bangun tidak ada. Sedangkan aku sudah tidak bisa menahan keinginanku membuang air kecil. Aku menggerakkan badanku pelan, mengangkat tangan Andi yang melingkar diperutku tapi Andi malah semakin mengecangkan pelukkannya.
"Morning.." Andi menyapaku dengan suara seraknya. Aku mencoba bergerak tapi Andi malah semakin menenggelamkan kepalanya di tengkuk leherku. "10 menit lagi, please!" Pintanya.
"Aku kebelet pipis." Bisikku.
Andi mencium rambutku, merenggangkan pelukkannya. "Kok nggak ngomong? Udah berapa lama nahan pipis?"
Aku bangkit dari tidurku, buru-buru dan segera berlari ke toilet yang ada di sebelah kiri ranjang. Tanpa menjawab pertanyaan Andi.
Aku bernapas lega ketika melihat celana yang sama masih membalut tubuh bagian bawahku. Tak ada satupun yang berganti. Setelah selesai dengan urusan buang air besar, aku menuju wastafel disebelah kiri. Aku melihat pantulan wajahku di kaca. Bengkak! Ya, siapa yang nggak bengkak kalau abis mabuk langsung tidur. Aku mencuci muka dengan sabun muka Andi. Tak ada pilihan. Daripada tidak cuci muka sama sekali bukan?
Aku keluar 10 menit kemudian. Andi masih di kasur dan bersandar di headboard sambil memegang HP. Aku berjalan pelan ke arah Andi. Duduk di ujung ranjang.
"Aku lapar." Ujarku pelan. Andi mengalihkan perhatiannya dari HP kepadaku, "Sama kamu punya aspirin atau panadol nggak? Aku rada pening juga."
Andi tertawa kecil, "Aku lagi mau order GoFood nih. Kamu mau makan apa?"
"Bubur ayam please."
"Ok.." Andi mengotak-atik HP, menyelesaikan pesanan. Aku masih duduk di ujung ranjang. "Sini dong." Andi menepuk-nepuk sisi sebelah kanannya. "Masa jauhan gini."
Aku berjalan memutari ranjang menuju sisi sebelah kanan ranjang. Aku menyandarkan punggungku di headboard. "Semalem aku nggak aneh-aneh kan?"
Andi melirikku, "Semalem kamu cium-cium aku. Grepe-grepe aku juga?"
"Masa?" Mataku membeliak menatap Andi. Andi menganggukkan kepala. Aku menundukkan kepalaku. Aku tau diriku sendiri. Aku selalu tertidur pulas setiap kali aku mabuk. Mana mungkin?
Aku mengangkat kepalaku dan melihat senyuman jail di wajah Andi.
"Kamu bohong?"
Andi tertawa kencang, "Harusnya tadi aku video-in ya! Muka kamu ya ampun."
"Aku... maksudnya kita... kemarin nggak terjadi apa-apa kan?"
Andi membelai rambutku, "Kamu tidur gitu mau ngapain emangnya?"
"Tuh kan! Aku kalau mabok emang tidur. Nggak mungkin macem-macem." Aku puas sekaligus lega dengan jawaban Andi.
"Nggak macem-macem gimana? Aku harus gendong kamu dari lobby sampe sini." Andi mendengus kasar. "Sampe sakit ini pinggang!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Insecurity (TAMAT)
ChickLit"Now, tell me how can i love someone who didn't love herself?" Aku terdiam. "Kamu dan pikiran kamu itu yang harus diperbaiki." Dia menambahkan.
