I've got your back

9.2K 968 8
                                        

Aku sudah lama tidak bepergian jauh menaiki motor, paling jauh hanya daerah Ubud yang bisa ditempuh dalam waktu sejam dari Denpasar. Namun sekarang, pukul 7 pagi aku sudah duduk di belakang Andi yang mengendarai motor menuju air terjun Sekumpul.

Andi membangunkanku pukul setengah enam pagi, padahal dia baru tiba di hotel jam 12 malam dan jam 1 subuh dia masih mengirimiku pesan yang baru aku baca pagi harinya.

Senyum lebar menghiasi wajahnya ketika aku membuka pintu kantor tadi. Andi memakai celana kulot selutut berwarna biru tua dengan kaos berwarna putih. Rambutnya tidak diberi gel tapi malah menambah kegantengannya.

"Sarapan dimana kita?" Andi menoleh ke belakang, ke arahku saat motor berhenti dilampu merah.

"Monsiour spoon?" Hanya ini yang terlintas dikepalaku, "Croissantnya enak."

"Aku mau makanan khas Bali."

"Nasi jingo?" Andi menganggukan kepala sambal memacu motor. Aku memajukan dan memiringkan sedikit kepala ke depan Andi. "Biasanya di daerah Kerobokan gitu banyak yang jualan nasi jingo."

"Ok."

***

Andi lupa waktu bila sudah berurusan dengan kamera. Sedari tadi fokusnya hanya mengambil foto. Selesai mengabadikan pemandangan dengan kameranya, Andi berenang. Air terjun Sekumpul tidak terlalu padat pengunjung saat kami datang, hanya ada 5 orang turis, total hanya ada 7 orang sekarang. Andi sangat menikmati terlihat dari wajahnya yang damai, wajah damai yang jarang aku lihat saat di Jakarta. Benar kata orang, liburan membuat wajahmu lebih ceria dan lebih muda.

"Aya!" Panggil Andi dari sisi dalam Air Terjun.

Andi tampak siap-siap loncat dari tebing yang terletak di sisi dalam air terjun. Tak lama Andi meloncat yang tak lama kemudian diikuti oleh bule laki-laki berambut panjang. Andi berenang agak ke tepi sebelum berjalan mendekat ke arah aku duduk di atas batu tak jauh dari air terjun.

"Kamu nggak mau main air?" Aku menggeleng. "Airnya seger banget."

"Dingin bukan seger." Ralatku

"Air kayak gini gak akan kita temuin di Jakarta."

"Di Bandung airnya masih sedingin ini kok." Belaku.

Andi tertawa kecil, "Ayo, udah jauh-jauh kita kesini." Ajak Andi lagi.

"Aku males nanti harus bebersih."

Ini bukan kali pertama aku mengunjungi tempat ini. Kamar mandi umumnya sungguh mengkhawatirkan. Pengalaman yang tidak mau aku ulangi untuk kedua kalinya.

"Yaa udah, aku berenang lagi ya."

Aku duduk menikmati pemandangan sekeliling. Masih alami, belum banyak perubahan dari yang terakhir kali aku kunjungi. Sesekali aku melirik Andi, dia seperti anak kecil yang senang bermain air. Aku bergidik ketika terkena hempasan air, dingin. Namun Andi tampak tak mengenal kata dingin. Andi baru selesai berenang satu jam kemudian ketika tempat ini mulai ramai pengunjung.

"Udah selesai mainnya?"

"Iya, udah banyak orang yang datang. Sebentar lagi airnya keruh." Andi mengambil handuk kecil dari ranselnya, mengeringkan badan.

Badan Andi memang tidak six packs, tapi tidak juga buncit. Dadanya bidang. Membuat aku harus menelan air ludahku sendiri. Ini pertama kalinya aku melihat Andi bertelanjang dada. Dan rasanya aku tidak rela berbagi pemandangan ini dengan siapapun. Aku menangkap beberapa pasang mata perempuan menatap Andi. Aku mengangsurkan kaos kepada Andi.

"Pake, biar gak masuk angin." Alibiku.

"Entar deh, bilas dulu di kamar mandi baru pake baju, biar bajunya gak kotor." Tolak Andi.

Jawaban Andi masuk akal, hanya saja aku tidak rela berbagi pemandangan ini dengan siapapun. Karena semakin aku perhatikan, semakin banyak mata yang memandang Andi dengan tatapan ingin menerkam Andi.

Andi duduk disebelahku, melihat-lihat hasil jepretan kameranya. Aku melihat ke sekeliling, bukan hanya Andi yang selesai dengan aktivitas bermain airnya, turis yang datang berbarengan dengan kamipun mengakhiri aktivitasnya.

"Aku ambil banyak foto kamu nih." Andi mendekatkan layer kameranya ke arahku. "Candid."

Aku mengambil kamera Andi, melihat hasil jepretannya. Andi lumayan banyak mengambil fotoku dan selalu candid.

"Kenapa candid mulu?"

"Biar natural aja, gak dibuat-buat." Andi melirik ke arah layar kamera, "Aku paling suka yang ini."

Aku yang sedang menengadah melihat ke arah atas air terjun dengan mata terpejam. Aku tidak menjadi center dalam foto ini. Andi fokus pada percikan-percikan air yang terhempas angin di sekelilingku.

"Ayo pulang!" Andi mengambil kamera dari tanganku. Tak lama dia mengulurkan tangannya membantuku berdiri.

Perhatian kecil tapi sangat mengena dihatiku.

***

"Temen aku ngajak ketemu sore, keburu nggak ya?" Tanyaku saat Andi berdiri dihadapanku, aku menunggu di gazebo yang tidak terlalu jauh dari toilet umum.

"Kamu mau ajak aku apa cuman info?"

"Ngajak, sekalian kenalan sama temen-temen aku juga." Aku membalas pesan Nina, lalu memasukkan HP kedalam tas ranselku.

"Kita nggak jadi ke danau Tamblingan."

"Kenapa?"

"Bentar lagi ujan, kita nggak punya jas hujan."

"Oh iya, Bedugul kalau diatas jam dua suka turun hujan."

"Balik hotel aja deh. Mandi dulu." Andi mengaitkan ransel.

"Bukannya tadi kamu udah mandi?"

Andi menatapku kesal, "Aku tahu sekarang alasan kamu kenapa nggak mau main air tadi." Aku tertawa kencang, membuat wajah Andi semakin memberengut.

Aku tidak tahu kalau Andi termasuk lelaki yang rewel soal kebersihan. Melihat kondisi toilet umum tadi membuat Andi mengurungkan niatnya untuk bebersih. Alhasil Andi hanya mengganti bajunya.

"Sayang lho pemandangan seindah ini nggak dibarengin dengan fasilitas umum yang bagus juga."

Aku membiarkan Andi mengoceh sementara aku mengatur napasku yang tersengal-sengal. Aku tidak tahu pasti ada berapa ratus anak tangga. Aku meminta Andi untuk berhenti setiap beberapa langkah.

"Stamina kamu payah banget." Ejek Andi yang aku hiraukan, "Kapan sampai atas coba kalau kamu tiap 10 langkah minta istirahat."

"Kamu duluan aja jalannya."

"Ya masa aku tinggalin kamu disini."

"Nggak apa-apa."

"Kamu mau aku gendong? Piggyback?"

"Mau!!"

Andi menatapku dengan tatapan jenakanya. "Aku becanda sayang." Andi tertawa, "Ngaco banget sih kamu mikir aku beneran nawarin kamu piggyback."

Aku menaiki anak tangga kembali, lebih baik tidak membalas becandaan Andi.

"Kalau aku piggyback kamu, kita berdua bakalan jatuh ke bawah." Andi berjalan di belakangku, "Iya kalau cuman lecet-lecet, kalau sampai nyawa hilang kan bahaya."

"Iya."

"Jadi aku jalan dibelakang kamu aja. Jagain kamu dari belakang. I've got your back! Always."

Ditengah napasku yang tersengal-sengal, kedua kakiku yang lelah dan keringat yang berkucuran, aku bisa merasakan kesungguhan Andi. I've got your back! Aku mengulang kata-kata Andi didalam hati. 

Aku menghentikan langkahku, berbalik menghadap Andi. Andi menatapku binggung.

"Thank you Andi." Andi menatap tepat dikedua mataku, tersenyum.

Aku mengangsurkan tanganku, menggenggam tangannya. Aku berharap tangan ini juga yang akan menemaniku selamanya. 

Insecurity (TAMAT)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang