Aku ke toilet ketika jam menunjukkan pukul 17.25. Aku sudah menghabiskan 2 cup kopi, kopi membantuku lebih berkonsentrasi kerja. Aku tau itu kebiasaan buruk tapi aku harus menyelesaikan semua urusan pekerjaan ini. Sekarang hari Rabu dan hari Senin depan Bossku sudah ngantor.
Selesai dengan urusan toilet, aku mencuci tangan di wastafel. Aku melihat ke cermin didepanku, melihat pantulan diriku sendiri. Rambut sebahu yang lumayan rapi, hasil catokan, lipstik yang sudah pudar, dempulan bedak sudah digantikan dengan minyak yang menghiasi daerah T-zone diwajahku. Entah bagaimana caranya orang-orang masih tetap bisa tampil cetar ketika mereka pulang kerja. Yah,, mereka touch up lah! Sama kayak cewek-cewek disampingku ini. Aku jarang touch up sepulang kerja, hanya kalau ada janji ketemu teman, itupun hanya lipstik. Mungkin mereka ada janji sama temannya atau dijemput pacarnya.
Aku berjalan keluar dari toilet sambil melihat jam tanganku, pukul 17.35. Kalau Andi tidak muncul juga, mungkin lebih baik aku pulang saja. Aku butuh mengistirahatkan mata ini, terlalu lelah menatap laptop. Aku memasuki kawasan kafe dan langsung disambut dengan suara tawa Ellen yang khas dan Andi. Aku terdiam di tempatku, rasa iri itu muncul lagi. Andai aku bisa sesantai Ellen menghadapi Andi.
"Kana!! Ngapain melonggo disana?" Ellen melambaikan tangannya padaku. Agak lebay.
Andi menenggok ke belakang, tersenyum simpul dan menggelengkan kepalanya. Dia membalikan badannya, menatap Ellen lagi.
"Antri banget toiletnya? Kok loe lama banget?"
Aku duduk sambil mematikan laptop, memasukkannya ke dalam tas laptop. Entahlah mood-ku sudah hilang.
"Iya antri" Jawabku singkat.
"Jam bubaran sih ya?" Ellen ikut memasukan laptop ke tas backpack-nya. "Mau kemana nih kita?"
"Pulang."
"Hah?" Gerskan tangan Ellen twrhenti, tidak jadi menutup resleting tasnya.
"Makan dulu yuk Aya. Saya udah ajakin Ellen tadi."
Aku menatap Andi jenggah. Entah kenapa, rasanya aku tidak rela berbagi Andi dengan Ellen atau mungkin yang lainnya.
"Kamu capek?" Tanya Andi. Matanya meneliti wajahku lekat.
"Makan dulu yuk.. lapar gue.. mau pulang sekarang juga macet kali." Ellen berusaha membujukku.
"Gue naik MRT sampe Bundaran HI, gak macet." Aku benar-benar mau pulang.
"Gue yang macet!" Ellen mulai sewot. "Udah makan dulu, nikmatiin hari-hari loe. Entar Boss dateng mampus loe!" Ellen berdiri dan menarik tanganku.
Bertepatan dengan itu notifikasi di HP -ku muncul
Jonan Wiryadi : Sore Kana, perubahaan jadwal. Saya tiba di Jakarta Sabtu sore. Minggu pagi tolong kamu ke apartemen saya. Terima kasih.
Ellen tertawa terpingkal-pingkal membaca notifikasi di HP-ku.
"Gilak radarnya si Boss kenceng banget ya! Nggak jadi CFD dong kita?" Ellen merangkul bahuku.
Aku memasukkan HP ke tas. Rasanya hari ini aku lelah, lelah mata, lelah otak dan lelah HATI!
"Nggak loe bales?" Ellen menarikku berjalan keluar dari coffee shop.
"Ntar aja, kalo gue bales sekarang dia bakalan telepon gw."
"Jadi makan kan kita?" Andi menyela, "Ada nasi uduk enak di daerah Benhil."
"Jadi dong,, ini Kana juga laper.. Mukanya udah kayak mau makan orang."
Aku menggelengkan kepala melihat kelakuan Ellen hari ini. Luar biasa!
Aku berjalan dibelakang Ellen dan Andi. Aku mengambil HP dari tas, aku lupa harus mengirimkan pesan ke ART Bossku. Tanganku masih mengetik pesan di HP ketika aku menabrak punggung seseorang. Aku menengadahkan kepala dan mendapati Andi tersenyum usil padaku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Insecurity (TAMAT)
أدب نسائي"Now, tell me how can i love someone who didn't love herself?" Aku terdiam. "Kamu dan pikiran kamu itu yang harus diperbaiki." Dia menambahkan.
