"Kamu kapan sampe Ay?" Tanya Bibi Sari.
"Jam 7 tadi malem Bi.."
"Kirain teh subuh, kenapa atuh baru bangun jam segini?" Bi Sari melihat ke arah jam dinding. Jam 10. "Pantesan jomblo menahun, kelakuan kayak gini. Anak gadis baru bangun jam 10." Bibirnya yang dilapisin lipstick warna merah ngejreng itu pasti belum selesai tengan ceramah paginya. "Udah mah kamu itu tua yah. umur 35.."
"31 Bi..." Aku mengambil gelas di lemari kaca sebelah kiri pintu masuk ruang makan. Berjalan sedikit ke kanan, menuju dispenser.
"Jujur ya Ay.. kamu teh keliatan kayak 35 nyaho! Eta bekas jerawat." Dia menunjukku dengan telunjuknya yang gendut. "Liat anak bibi, si Bella. Meuni mulus."
Aku menarik kursi disebelah Bi Sari. Membuka tudung saji. Ada kue cucur, lemper dan gemblong.
"Si Bella mau nikah bulan Desember."
Aku membuka daun pisang yang membungkus lemper. "Dari taun lalu ngomongnya mau nikah tapi kok gak jadi-jadi." Aku melahap lemper sekaligus.
"Si Johan teh lagi sibuk sekarang."
"Sibuk apa?" Aku mengambil cucur sekarang meskipun lemper dimulutku masih ada.
"Sibuk siapin modal nikah atuh." Bi Sari menepak tanganku yang sedang menggulung cucur, hendak memakannya sekaligus.
"Eta makan geus jiga tukang becak wae!"
"Si Bella pengennya nikah di tempat kemaren si Shanaz nikah.. di hutan tea. Kan keur trending topic!"
"Shanaz saha?"
"Adina si Raffi Ahmad."
"Nikah di hutan?"
"Ya henteu atuh Aya!" Bi Sari tertawa, "Katingali geus kolotna kamu teh. Teu nyaho anu keur trending topic?"
"Trending topic?" Aku mengambil gemblong, "Lagi hits kali, bukan trending topic!"
"Ya itulah." Bi Sari, walaupun cerewet tapi cukup menghibur pagiku. "Kamu di jemput saha tadi malem?"
"Bang Gojek."
"Makanya cari pacar biar dijemput pacar!" Balasnya sambil mengambil gemblong.
Aku mengambil gemblong lagi, "Bibi ngapain pagi-pagi udah disini?"
"Biasa atuh. Mau nongkrong, bosen di rumah teh."
"Yoga siapa yang ngasuh?" Yoga, cucu Bi Sari dari anak pertamanya, Anton.
"Mamanya atuh. Masa Bibi mulu. Cape nyaho! dibayar kagak, disusahin iya." Bi Sari meminum airku, "Anak tuh yah, dari kecil sampe gede pasti weh nyusahin orangtuanya! Pas kecil, si Anton Bibi yang asuh. Udah gede, anaknya si Anton yang Bibi asuh."
"Lagi libur nih ceritanya?" Aku berdiri mengisi lagi gelasku yang kosong.
"Iya, day off!"
"Idih gaul amat bahasanya."
"Yoiii...." Aku duduk disebelahnya lagi, masih banyak jajanan pasar. "Jadi udah ada kabogoh sekarang?"
Aku menggeleng. Ini pertanyaan yang sampai sekarang aku gak tau jawabannya. Bi Sari menatapku, lalu tersenyum.
Aku tau, walau Bi Sari suka meledekku tapi dia sangat peduli padaku.
"Ibarat emas ya Aya, makin tua makin bagus. Kan yang 24 karat lebih mahal dibanding yang 18 karat."
Aku tersenyum, kata-katanya meneduhkan hatiku. Sama seperti Ibu.
"Terus kenapa Bella disuruh cepet-cepet nikah? Gak disuruh nunggu sampe 24 karat?" Tanyaku usil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Insecurity (TAMAT)
ChickLit"Now, tell me how can i love someone who didn't love herself?" Aku terdiam. "Kamu dan pikiran kamu itu yang harus diperbaiki." Dia menambahkan.
