BAG - 21 Akhir dari Rayyan

209 27 3
                                        

Hallo, pertama-tama, untuk yang masih ngikutin cerita ini, aku mau ngucapin terima kasih sekaligus maaf, terima kasih karena sudah ngikutin cerita ini sampai sejauh ini, dan aku mau minta maaf karena aku udah ngilang lama banget.

Sekarang aku lagi sibuk skripsian, dan punya waktu untuk nulis itu benar-benar susah banget karena keburu kenyang sama urusan skripsi. Doain semoga skripsi aku secepatnya selesai ya, dan akan aku usahakan untuk ngatur jadwal nulis karena aku kasihan kalau cerita ini digantung lama hehehee.....

untuk part ini, semoga kalian suka ya, jangan lupa di vote dan comment,

Happy Reading!!

***

Setelah melewati banyak drama huru-hara perihal keberlangsungan salah satu proyek divisi Humas yakni keakraban anggota, pada akhirnya semua berjalan sesuai dengan rencana. Setidaknya hal itu bisa dikatakan saat kini mereka semuanya tengah menkmati rangkaian acara terakhir yang telah anggota Humas rancang jauh-jauh hari.

"Acara gue ambil alih ya sekarang." Adalah suara Sella yang kemudian tiba-tiba maju ke arah depan, menyita hampir semua mata yang ada di sana.

"Tapi sebelumnya, gue persilahkan kalian semua ngambil jaket atau selimut di dalam, puncak emang nggak pernah nggak dingin, woy!" Ujarnya kemudiaan dengan nada yang terdengar nge-gas di akhir.

Entah apa yang Sella coba maksudkan atas ucapannya, tapi Eileria ingin mencoba berterima kasih padanya karena sejak daritadi, yang Eil pikirkan adalah kabur dari keberlangsungan acara untuk sekirannya mengambil jaket yang ada di dalam Villa, suhu udara di puncak di jam-jam hampir tengah malam tidak jauh berbeda dengan winter season di Eropa sana.

Namun baru Eil hendak bangun dari duduk selonjornya, sebuah gerakan tak terduga dari seseorang yang membungkus tubuhnya dari belakang mengurungkan niatnya, dan seolah tanpa dikomando, Eil membalikkan tubuhnya dengan cepat hanya untuk mendapati sosok Arjuna yang tengah mematri senyum simpul ke arahnya yang sejurus kemudian diikuti dengan pergerakannya yang ikut duduk selonjoran di sampingnya.

Sejenak Eil mengerutkan keningnya,

"Kok bisa di sini, kak?" Ujarnya kemudian saat laki-laki itu benar-benar duduk sempurna di sampingnya.

"Lo ke sini sama siapa?" Alih-alih menjawab pertanyaan Eil, Ia lebih memilih untuk melemparkkan pertanyaan, membuat kening Eil terlihat semakin mengerut.

"Bareng anak-anak yang lain, emang kenapa? ada masalah lagi gara-gara itu?" Ujar Eil lagi dengan nada sarkas.

Sejak kejadian tempo hari, baik Eil dan juga Arjuna tidak ada yang saling menyapa. Keduanya seolah-olah dibentengi oleh sekat yang panjang, lebih tepatnya Eileria semakin membentengi dirinya sendiri dengan Arjuna.

Sejujurnya Eil tidak mengerti kenapa Arjuna selalu tampak abu-abu di matanya, Arjuna bisa menjadi sosok yang sempurna yang kerap Eil syukuri hadirnya, yang memberi Eil banyak kesempatan untuk belajar, memberi Eil banyak harapan baru, namun tak jarang juga laki-laki itu menjadi sangat menyebalkan. Tapi semuanya semakin abu-abu ditambah dengan Eil yang semakin tak mengerti arah perasaannya sekarang. Ia seolah-olah kehilangan kontrol pada semua perasannya, Eil bingung juga tersesat pada perasaannya sendiri.

"Untuk yang kemarin, gue minta maaf ya. Gue nggak maksud nuduh lo berdua ridding a wave sama urusan pj kemarin, gue cuman khawatir aja sama lo." sahut Arjuna sembari menatap Eil dalam.

Lagi-lagi Eil mengerutkan keningnya, mendapati jantungnya yang tengah berdegup tak karuan, sorot mata Arjuna sekarang cukup mampu membuatnya semakin tenggelam pada segala hal yang seluruhnya hampir abu-abu.

My Ineffable SeniorCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang