Bag - 9 Gara-Gara Arjuna

340 35 4
                                        

Jangan lupa vote dan comment, ya

Happy reading!!!

***
Rapat mengenai pembahasan persiapan demisioner pengurus lama BEM sudah berakhir sejak 30 menit yang lalu. Tidak ada lagi acara Eil yang menunggu lama untuk di antar pulang, karena nyatanya sekarang Eil sudah berada dalam mobil, bersama Raka. Hal yang patut Eil syukuri.

Eil tidak jadi pulang bersama dengan Sella, dikarenakan kata Raka, kasihan Sella kalau harus ngantar kamu dulu, udah malam juga, yang oleh karena itu membuat Sella langsung menyetujuinya untuk tidak pulang bersama. Entah kenapa Eil sekarang memikirkan jika Sella sedang menaruh rasa pada Raka, buktinya setiap hal yang berkaitan dengan Raka, gadis itu selalu menunjukkan reaksi yang berlebihan, tolong ingatkan Eil untuk menanyakan langsung pada Sella nantinya.

"Gimana kabar rumah?" Setelah hening cukup lama, Raka akhirnya bersuara. Mengalihkan pandangannya ke arah Eil sebentar lalu kembali fokus pada jalanan yang sedang padat-padatnya.

Eil menghela nafas beratnya. Kabar rumah? Eil bahkan lupa bagaimana rasanya memiliki rumah yang sesungguhnya. Sejak mamanya meninggalkannya 6 tahun yang lalu, rumah yang Eil anggap rumah seolah direbut paksa, dihancurkan dengan hanya menyisihkan atap pelindung tanpa pondasi, hanya menyisahkan ayahnya yang entah kenapa semakin ke sini seolah menarik diri menjadi atap pelindung Eil. Eil tidak mengatakan keluarganya tidak harmonis, hanya saja mereka semua seolah lupa untuk saling peduli, ayahnya lupa, dan Eil tidak tahu caranya mengingatkannya.

Mendengar tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut Eil, Raka menoleh, berjaga-jaga jika gadis itu tertidur ataupun semacamnya. Namun, faktanya Eil terlihat masih terjaga, pandangannya lurus ke arah depan, ke arah hamparan kendaraan yang berlalu-lalang di jam-jam padat seperti sekarang ini.

"Eil, are you okay? Is there something went wrong?" Dengan hati-hati, Raka kembali menanyakan keadaan Eil. Adiknya itu terlihat berbeda sekali sekarang ini, dan entah kenapa hal itu membuat Naraka merasa bersalah. Seminggu belakangan ini dia terlalu sibuk mengurus keperluan demisionernya dan keperluannya untuk maju menjadi presiden mahasiswa tingkat universitas. Raka bahkan beberapa kali mengabaikan pesan yang dikirim Eil saat gadis itu menanyakan kabarnya, atau seringnya, Raka membalasnya dengan jeda waktu yang sangat lama.

Eil menoleh ke arah Raka yang tengah membagi fokusnya pada dirinya dan ke arah jalanan, tampak raut khawatir juga penasaran yang terpancar dari laki-laki di sampingnya, "I'm okay." sahut Eil pada akhirnya dengan senyum tipisnya.

Raka menghela nafasnya, "Jangan bohong, you're not okay, Eil. Kenapa? Ada masalah?" Tanya Raka yang masih memfokuskan perhatiannya pada arah jalanan dengan sesekali melempar pandangannya ke arah Eil yang ada di sebelahnya.

Lagi-lagi Eil menghela nafasnya, menghembuskannya dengan kasar, "Abang, boleh nggak Eil nginap di rumah abang? Eil kangen sama Papa, kangen sama tante, kangen juga sama Keenan." Eil mengucapkannya dengan penuh pilu. Rasanya, Ia sudah lama tidak dihinggapi oleh kehangatan keluarga. Rasanya sudah lama sekali Eil tidak menghabiskan waktunya berjam-jam di meja makan karena nyatanya sudah tidak ada topik pembicaraan yang selalu mereka bicarakan di sana. Ayahnya sibuk, bundanya sudah tidak membersamainya lagi, sedangkan ibu tirinya, wanita itu bahkan tidak tahu caranya untuk mendekatkan diri dengan Eil.

Raka hanya diam membisu, bermonolog pada dirinya sendiri, menimbang-nimbang alasan gadis di sampingnya itu berucap demikian, "Boleh dong, kapanpun." Jawab Raka akhirnya.

Tangan Raka menggapai puncak kepala Eil, meninggalkan sisiran halus di sana. Itu adalah sebuah gerakan verbal yang laki-laki itu maksudkan untuk membuat gadis di sampingnya mengerti, bahwa apapun yang terjadi, dia akan selamanya membersamai, selalu.

My Ineffable SeniorCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang