-Twenty Eight-

935 115 32
                                        

Athanasia yang ketakutan hanya bisa bersandar pada dada bidang lelaki yang kini tengah memeluknya. Mencoba melindunginya.

Kedua orang itu masih berada di bawah meja. Guncangan ulah gempa bumi ini baru berhenti setelah beberapa detik. Tetapi tetap saja rasanya lama sekali.

Athanasia mendongak setelah tidak ada lagi getaran dan benda-benda jatuh. Ia menatap Lucas yang sedang mengelus kepalanya sayang.

"Shhh. Gempanya udah berhenti. Tapi mungkin bakal ada gempa susulan, jadi kita sekarang keluar dan berlindung di tempat yang aman," ucap Lucas sambil menenangkan Athanasia.

Gadis itu mengangguk kecil. Meski tersirat ketakutan dalam hatinya, tapi Athanasia mengesampingkan itu karena mereka harus segera keluar. Batin Athanasia berdoa semoga keduanya baik-baik saja.

"Kau gak apa-apa kan?" Tanya Athanasia.

"Ya," Lucas bangkit. Keluar dari persembunyian itu. Ia membantu Athanasia keluar dari bawah meja.

"Tanganmu," Athanasia mengerutkan dahinya begitu melihat telapak tangan kiri Lucas yang mengeluarkan cairan merah kental.

Lucas yang tersadar pun ikut melihat ke arah tangannya. Berdarah. Ini pasti tergores pecahan kaca saat ia berusaha melindungi Athanasia.

"Ini bisa kita urus nanti, yang penting sekarang keluar."

Pemuda itu menggenggam tangan Athanasia dan menariknya keluar. Tidak ada waktu untuk mengobati tangan yang terluka. Lagipula ini hanyalah luka kecil.

Baru saja sampai di depan pintu kelas, seseorang tak sengaja menabrak Athanasia dari belakang dengan cukup keras. Tangannya pun terlepas dari genggaman Lucas. Gadis itu tersungkur ke lantai.

BRUK!

"Akhh" Athanasia merintih kesakitan.

"Athy!" Lucas segera berjongkok untuk membantu Athanasia.

"Astaga! Maafkan aku, aku tidak tau ada orang yang lewat," lelaki yang tak sengaja menabrak itu meminta maaf.

Rupanya yang menabrak gadis itu adalah kakak kelasnya yang bernama Eugene.

"Jalan itu pakai mata!"

"Yang bener itu jalan pakai kaki, Lucas. Kalau lihat baru pakai mata." Koreksi Athanasia.

Pemuda bersurai hitam itu hanya bisa cemberut.

"Dek, kamu baik-baik saja kan?" Tanya Eugene.

Athanasia mencoba berdiri, meskipun kakinya terasa sakit tetapi dia tetap memaksakannya.

"Iya" jawab Athanasia.

Lagi-lagi gelombang getaran terasa. Kali ini lebih kencang dari sebelumnya.

"Ayo!" Ucap Lucas.

Athanasia dan si kakak kelas itu mengangguk dan ketiganya berjalan ke arah tangga dengan Lucas yang berada di depan.

Sebuah tiang jatuh dan hampir menimpa Lucas kalau saja Athanasia tidak segera menarik pemuda itu ke belakang.

Sekarang akses menuju tangga terblokir. Guncangan semakin hebat hingga meretakkan dinding-dinding bangunan.

'Sial' Lucas mengumpat dalam batin. Tangannya terkepal kuat.

"Lewat sini!" Eugene menuntun mereka untuk putar balik. Menuju tangga selatan yang masih bisa dilewati.

Krak!

Lantai tempat Athanasia berpijak retak. Terlihat dari kejauhan lantai-lantai itu mulai runtuh akibat tiang yang tadi terjatuh.

Lucas menarik Athanasia agar bergerak lebih cepat. Kali ini Eugene yang memimpin di depan.

"Ukh.." Athanasia merintih. Jujur kakinya masih terasa sakit. Tetapi ia tidak berani protes agar tidak merepotkan yang lain.

Saat itulah Athanasia kehilangan pijakan dan jatuh ke belakang. Ke lubang besar yang tercipta akibat lantai yang runtuh.

'Apa aku akan jatuh?'

Athanasia memejamkan mata. Entah mengapa angin sejuk menerpa wajahnya. Rasanya damai.

Tubuhnya yang semula bergetar kini sudah lebih baik. Rasa sakit dan takut hilang bak ditelan ombak. Perasaan tenang yang baru pertama kali ia rasakan.

Saat ia merasakan sebuah tangan di pergelangan tangannya, barulah gadis itu membuka mata. Wajah panik dari kekasihnya lah yang pertama kali ia lihat.

"Lucas? Kau sedang apa?"

Athanasia khawatir, tentu saja. Jika Lucas tidak segera pergi, maka ia akan jatuh bersama Athanasia.

Lucas hanya menggelengkan kepala. Semuanya terjadi begitu cepat, sehingga Athanasia tidak menyadari apa yang Lucas lakukan sampai menarik tangannya ke udara. Mengeluarkan Athanasia dari lubang itu.

Namun aksinya itu membuat Lucas terdorong ke depan dan terjatuh ke dalam.

"Tidak!" jerit Athanasia, bahkan saat Eugene menggotong gadis itu ke tempat yang aman. Dinding-dinding bangunan runtuh dengan cepat. Athanasia mencoba menggapai Lucas tetapi ditahan. Tangannya mengais-ngais seolah ingin menggapai sesuatu.

"Keluar!" Athanasia berteriak. "Bantu Lucas keluar!!!"

Gempa bumi mengeluarkan guncangan terakhir yang dahsyat. Lucas terjungkal ke dinding seberang. Pada saat itu tatapannya terkunci ke arah Athanasia.

"Tidak apa-apa, Athanasia." Mulut Lucas bergerak. "Tidak apa-apa."

Eugene menarik Athanasia dengan susah payah ketika reruntuhan bangunan hampir menimpanya. Senyuman Lucas yang tulus sebelum reruntuhan menguburnya masih terngiang jelas dalam kepala Athanasia.

Gempa bumi berakhir di sini dengan keadaan sekolah yang setengah hancur. Jika dilihat sekitar, banyak bangunan yang lebih parah dari sekolah ini.

Hening. Hingga tanpa sadar air mata gadis itu mulai berjatuhan.

-Bersambung-







Apa kabar semuanya?
Kangen gak?

Maaf ya baru bisa update..
Aku lagi sibuk karena sebentar lagi harus daftar SMA.
Iya, kalian gak salah baca kok😌 aku baru lulus SMP😗👉🏻👈🏻
Bocil sekali kan?😌

Maaf chapter kali ini agak garing karena aku sendiri bingung mau nulis apa(╥﹏╥)

Ya intinya cuma itu yang mau aku sampein, lop yu❤️

COUPLE [SIBAP Fanfiction]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang