-Twenty Four-

1K 163 40
                                        

Ini sudah hari ketiga semenjak kematian Ayah kandung Lucas. Namun hingga detik ini Lucas belum menunjukkan batang hidungnya di sekolah.

Sang kekasih sudah beberapa kali mencoba menghubunginya tetapi tidak ada respon. Pesannya pun tidak dibaca sama sekali.

Lucasu🐶

Lucas

Kamu baik-baik aja?

Athanasia tau Lucas pasti sangat sedih dan merasa bersalah. Kehilangan orang yang sangat disayanginya adalah suatu hal yang amat menyakitkan.

Tetapi bukankah tiga hari adalah waktu yang terlalu lama untuk dirinya berdiam diri di rumah?

Mungkin kesedihan itu akan bertahan lama bahkan sulit dilupakan. Tapi jika sampai seperti ini pasti ada sesuatu yang terjadi kepada Lucas.

Athanasia sudah memutuskan, sepulang sekolah gadis itu harus menghampiri rumah kekasihnya untuk memastikan keadaan.

"Lucasu bikin khawatir aja" Athanasia memijat pelipisnya yang terasa pusing.

---

Setelah beberapa menit dihabiskan untuk mempersiapkan diri, akhirnya Athanasia sudah siap untuk berangkat menuju kediaman Lucas.

Memang tidak ada cara lain selain menghampiri pemuda itu. Mau bagaimanapun Lucas pasti mengalami tekanan batin mengingat kecerobohannya yang membuat sang Ayah kehilangan nyawa.

Athanasia berlarian kecil menuruni anak tangga. Iris sapphire nya bertabrakan dengan iris merah muda milik ibunya.

"Anak gadis mama~ mau kemana nih? Kok rapi dan cantik begini?"

Athanasia memalingkan wajahnya. Dapat dilihat ekspresinya yang murung. Tidak seperti biasanya yang selalu ceria dan sedikit bar-bar.

"Ke rumah Lucas" jawab gadis itu seadanya.

Diana menyadari tingkah laku anaknya yang tidak seperti biasanya. Wanita itu tentu tau penyebabnya, kejadian tiga hari yang lalu merupakan kejadian yang tidak bisa terlupakan.

Diana memilih untuk tidak menggoda anaknya saat ini. Senyum lembut keibuan terbit di parasnya yang masih terlihat awet muda. "Baiklah, hati-hati di jalan."

Athanasia mengangguk singkat. Tidak lupa mengecup punggung tangan sang ibu sebelum berangkat.

Begitu sampai di luar gerbang mansion, dirinya disambut sopir taksi online yang sudah menunggunya.

"Atas nama Ibu Athanasia?"

"Mohon maap w masih muda, jangan dipanggil Ibu." Ucap Athanasia sembari membuka pintu mobil dan masuk.

"Awokawok baik, mbak Athanasia. Sesuai titik ya, mbak?"

"Y"

Mobil itu mulai melaju menyusuri jalanan.

Athanasia memperhatikan pemandangan di luar jendela mobil. Buliran sebening kristal perlahan berjatuhan dari angkasa. Membasahi aspal yang awalnya kering. Gerimis. Untung saja Athanasia memakai jaket, ia tidak perlu khawatir akan datangnya udara dingin yang menerpa dirinya.

Bertopang dagu menggunakan sebelah tangannya. Masih fokus menatap apa yang ada di luar kaca jendela. Anak-anak menari dan bermain air di halaman rumah mereka. Ah, Athanasia jadi teringat ketika kecil dulu sering main air hujan dan akan berhenti ketika mamanya datang membawa golok.

COUPLE [SIBAP Fanfiction]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang