"Jadi, kesimpulannya.. kalian sudah resmi berpacaran?" Nampak mata Ibu Lucas yang berbinar-binar.
"Kapan jadiannya? Bagaimana cara jadiannya? Apakah kalian pergi ke tempat romantis? Dulu Ayah menembak Ibu saat matahari terbenam. Apa kalian juga begitu? Apa lebih romantis lagi?"
Athanasia dan Lucas hanya saling melempar tatapan yang sulit diartikan.
Nyatanya, proses bagaimana cara mereka jadian tidak seindah yang dibayangkan. Athanasia yang berlarian di koridor sembari berteriak dengan suara menggelegar dan menghebohkan seisi sekolah. Sampai tidak sengaja menyenggol guru BK dan membuat guru itu jatuh ke kolam. Dihukum habis-habisan. Bukan sesuatu yang romantis sama sekali.
"Yah, intinya hari dimana awal kita berpacaran adalah hari yang tak akan terlupakan."
Lucas tidak salah. Kejadian itu memang tidak akan pernah bisa dilupakan. Kedua orang tuanya saja yang salah mengartikan. Mereka berpikir mungkin yang dimaksud Lucas adalah sesuatu yang manis.
"Aw kalian sangat cocok. Setidaknya dengan memiliki pacar Lucas yang nolep bisa sering-sering keluar rumah."
"Aku ingin cucu kembar."
Kedua orang tua Lucas terus membahas tentang hubungan Athanasia dan Lucas. Tidak menyadari keberadaan anak polos yang sedari tadi menyimak.
"Pacar? Nolep? Cucu?"
Anak itu tak lain dan tak bukan adalah adik kandung Lucas.
---
Lucas memeluk erat Athanasia dari samping. Menenggelamkan wajahnya di antara leher dan pundak gadis itu. Sedikit mendusel-dusel manja untuk menarik perhatian sang gadis.
Athanasia mau tak mau menggerakkan tangannya untuk mengusap surai hitam yang halus itu penuh kasih sayang.
"Jadi, kapan kita berangkat?" Tanya Athanasia.
Benar, mereka berdua sedang berada dalam mobil. Lucas hendak mengantar Athanasia pulang ke rumahnya, tapi ia masih ingin berduaan dengan gadis pemilik iris permata itu. Alhasil sudah hampir 15 menit mereka di dalam mobil tetapi Lucas tak kunjung menjalankannya.
Athanasia yang bisa merasakan nafas kekasihnya itu merinding sendiri. Nafas teratur, kepala yang bersandar, dan terdengar suara dengkuran halus.
Tunggu! Apa!? Dengkuran!?
"Woi anjeng!"
Lucas yang tengah mengarungi alam mimpi tersentak dan menegakkan kepalanya. Matanya sedikit menyipit mencoba beradaptasi dengan cahaya yang masuk.
"Lu tidur, nyet?"
Pemuda itu masih terdiam. Nyawanya baru terkumpul separuh.
"Seingatku kita ada di rumahmu" ucap Lucas dengan suara serak yang membuat Athanasia meleleh.
"Mimpi kali, dah lah ayo berangkat."
Lucas diam beberapa saat sampai kesadarannya kembali sepenuhnya. Kemudian ia mulai menyalakan mesin dan melajukan mobilnya.
Beberapa saat kemudian mereka sampai di depan pintu gerbang mansion Athanasia yang besar.
"Mo mampir gak?"
Lucas menggeleng pelan. "Mau lanjut rebahan di rumah" jawabnya.
Athanasia mengangguk dan hendak membuka pintu. Namun sesuatu seperti menahannya pergi. Satu-satunya orang yang bisa begitu adalah Lucas.
"Apaan any*ng?" Alis gadis itu terangkat sebelah.
Lucas tidak menjawab. Tapi tidak juga melepas tangannya yang menahan Athanasia. Ia seperti membeku di tempat, terpana dengan tatapan Athanasia. Apa ini? Padahal dirinya sering bertatapan dengan gadis itu, tapi semenjak pacaran ia jadi terus menerus ingin menatapnya.
"Lucasu?"
Tidak ada jawaban. Hanya tatapan mata Lucas yang kian mendalam.
"Lucasem?"
Lagi-lagi pemuda itu terdiam. Namun salah satu tangannya bergerak menangkup pipi gadis di hadapannya.
"Lucashit?"
Tangan Lucas yang berada di pipi Athanasia merambat ke tengkuk gadis itu. Hangat dirasa, dan kehangatan itu menjumpai bibir Athanasia.
"Hmmph!?"
Dua bibir yang menempel itu tetap dalam posisi, tidak bergerak sama sekali hingga satu menit berlalu. Dimana Athanasia sudah tenang dan memejamkan matanya.
Lucas melepaskannya sejenak, mengambil pasokan oksigen sebelum kembali mencium gadis itu, melumatnya lembut.
Mendorong tengkuk Athanasia, membawanya lebih dalam.
Setelah puas ia melepaskannya. Kedua wajah mereka merona hebat.
"Masuklah, sebentar lagi sore"
Athanasia hanya mengangguk sebagai jawaban. Setelah itu ia turun dari mobil dan bergegas masuk ke mansion sebelum jantungnya meledak.
Lucas yang masih di dalam mobil dengan wajah teramat merah menghela nafas. "Sejak kapan aku jadi begini?"
Dirinya sendiri tidak mengerti mengapa ia jadi sangat menyukai bibir manis Athanasia.
---
Athanasia membuka pintu utama mansion dan menghela nafas lega. Oh, akhirnya ia sampai di tempat yang bisa digunakan untuk menetralisir detak jantungnya.
"Apaan itu tadi?" Gumamnya. Meskipun begitu ia tetap menyukainya.
Athanasia tidak sadar seseorang berdiri di depannya dan memperhatikan setiap gerak-gerik gadis itu.
"Anak gadisnya mama~ sudah pulang toh? Kirain minggat"
Gadis bersurai keemasan itu mendongak menatap wanita yang memiliki surai sama dengannya. Tatapannya datar memandang sang Ibu.
"Mama tua berubannya Athy~ jelas Athy pulang, mana mungkin Athy menginap di sekolah" sahut Athanasia.
"Sekolah? Yakin di sekolah? Pasti jalan-jalan sama pacar ya?"
"Dih kagak, tadi Athy jatoh di sekolah, liat nih lutut Athy yang luka. Terus Lucas ngajak ke rumahnya buat diobatin, eh ada orang tua Lucas, jadi sekalian ngobrol" jelas Athanasia.
Diana manggut-manggut mengerti. Athanasia merasakan sesuatu merambat di kakinya. Kepala gadis itu menunduk guna melihat ada apa di sana. Matanya membola melihat benda coklat yang lebih menyeramkan daripada amukan Ibunya.
"NJENG KECOA!!! TAI!!"
"Mulutnya minta diserampang sendal ya!?"
-Bersambung-
Sekarang aku malah bingung sama alur ceritanya sendiri
Ini malah jatohnya lebih berat ke romance ya? Padahal gak mau banyak2 uwu nya ih kesel!
Terus juga bingung mau bikin endingnya gimana.. dari awal ceritanya emang asal, jadi gak ngerti sebenernya ini cerita apaan(╥﹏╥)
Seseorang tolong beri tahu aku(╥﹏╥)
Dah lah
SophieLaras
KAMU SEDANG MEMBACA
COUPLE [SIBAP Fanfiction]
Fanfiction[COMPLETED]✓ Athanasia, gadis bar-bar dan suka makanan. Apapun yang ia temui pasti ia makan. Suka teriak dan berkata kasar. Lucas, pemuda nolep yang senang bermain game online. Hanya mau berteman dengan Athanasia seorang. Mereka bersahabat sejak kec...
![COUPLE [SIBAP Fanfiction]](https://img.wattpad.com/cover/237410729-64-k786854.jpg)