8 tahun berlalu~
Iris yang sangat indah itu menatap nanar batu nisan yang ada di hadapannya. 8 tahun terlewatkan, tetapi kesedihan dalam lubuk hatinya masih belum pudar.
"Sudah lama, ya. Awalnya memang berat, tapi aku sudah mulai terbiasa hidup tanpamu."
Tangannya mengusap perlahan batu nisan itu. Wajahnya mendekat dan mengecupnya sekilas.
"Bohong jika aku bilang aku tidak merindukanmu. Tapi bukan berarti aku tidak bisa hidup tanpamu."
Senyum penuh kehangatan terukir di parasnya yang menawan. Samar-samar tersirat kesedihan di bola matanya yang berkilau.
Merelakan orang yang sangat disayanginya adalah hal paling berat. Tapi ia adalah orang yang kuat. Kali ini tidak akan menangis ataupun terpuruk lagi.
"Sekarang aku sudah bahagia. Jadi dirimu tidak perlu mengkhawatirkanku. Aku bukan anak kecil lagi."
Walau terkadang rasanya masih menyakitkan. Walau ia ingin merengek seperti anak kecil yang tidak ingin ditinggal, tetapi ia menahannya.
Mengikhlaskan adalah jalan terbaik agar tidak menghambat langkahnya menuju masa depan.
Untuk kesekian kalinya Lucas membuka mulutnya. "Lain kali aku akan berkunjung kemari lagi, Ayah."
Ia mulai menggerakkan kursi rodanya dan meninggalkan pemakaman.
8 tahun lalu, saat bangunan sekolah menimpa dirinya akibat gempa, Lucas ditemukan dalam keadaan kritis. Setelah koma beberapa minggu lamanya, dirinya sadar.
Namun ia mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya dan berakhir dengan duduk di kursi roda untuk selamanya.
Lucas menunduk, menatap dalam diam kakinya yang sudah tidak berfungsi.
Tap tap.
"Apa sudah selesai?" Suara indah itu memasuki indra pendengarannya. Membuat Lucas mendongak.
Wanita dengan surai keemasan berdiri sembari membawa anak berusia 3 tahun dalam gendongannya.
Athanasia. Perempuan yang selalu berada di sisi Lucas setelah bencana itu. Ia adalah perempuan yang memberitahu Lucas bahwa dirinya pantas dicintai dalam keadaan apapun.
Athanasia lah yang membuat Lucas selalu bangkit setiap ia merasa terpuruk.
"Aku akan masak steak untuk makan malam." Ucap Athanasia dengan senyum khasnya.
Lucas merentangkan tangannya. Memberikan kode pada Athanasia untuk menyerahkan anak dalam gendongannya itu kepada Lucas. Dan wanita itu melakukannya.
Setelah si gadis kecil berada dalam gendongan Lucas, Athanasia berjalan ke belakang kursi roda Lucas. Membantu untuk mendorongnya.
"Ayo tita puyang, papacu! (Ayo kita pulang, papasu!)" Celoteh gadis kecil dengan surai yang sama dengan milik Lucas.
Pria itu melotot, menatap horor putrinya yang mengucapkan kata-kata keramat.
Sedangkan sang pelaku yang membuat gadis kecil itu seperti itu hanya menahan tawanya sembari terus mendorong kursi roda dan berjalan ke arah mobil mereka terparkir.
"Apa yang..." Lucas bahkan tidak bisa berkata-kata.
"Biasalah, kosa kata baru." Athanasia memasang wajah tanpa dosa. 8 tahun berlalu, tapi akhlak wanita ini masih belum pulih.
"Jangan mengajarkan umpatan kasar pada putriku!"
"Putrimu itu putriku juga!" Sahut Athanasia tidak mau kalah.
KAMU SEDANG MEMBACA
COUPLE [SIBAP Fanfiction]
Fanfiction[COMPLETED]✓ Athanasia, gadis bar-bar dan suka makanan. Apapun yang ia temui pasti ia makan. Suka teriak dan berkata kasar. Lucas, pemuda nolep yang senang bermain game online. Hanya mau berteman dengan Athanasia seorang. Mereka bersahabat sejak kec...
![COUPLE [SIBAP Fanfiction]](https://img.wattpad.com/cover/237410729-64-k786854.jpg)