Hari ke-3

1.2K 211 60
                                        

“Min, bangun ....” Chan menggoyangkan tangan Minho yang saling bertaut memeluknya. Anak itu menempel di punggung Chan, mendengkur halus saat tidurnya terganggu gerakan Chan.

“Masih nyantuk.” Minho malah makin menyamankan diri, tidak menyadari bahwa motor yang ditumpanginya telah berhenti.

“Lanjut tidur di dalem, Min. Yuk, bangun.” Begitu lembut, Chan melepas tautan jemari Minho, kemudian menuntun yang lebih muda agar turun dengan perlahan.

Minho menyandar pada Chan, membuat Chan harus menopangnya. Gelap malam memang belum menggantikan petang, tetapi hati Chan sudah tidak keruan membayangkan keadaan para bocahnya di dalam kontrakan. Begitu pintu terbuka, Chan langsung menghela napas lega.

“Kak Inyo kenapa?” Tiga bocahnya menyambut persis di depan pintu, melongo lucu. Yang paling penting, mereka baik-baik saja.

“Kak Inonya bobok. Kak Chan bisa minta tolong buat gelar kasurnya?” Chan lalu melangkah masuk saat tiga pasang kaki kecil mulai rusuh menyiapkan apa yang ia minta. Tangan-tangan mungil Jisung, Felix, dan Jeongin kesusahan saat menggelar kasur lipat yang ukurannya lebih besar dari tubuh mereka.

“Min, masih sadar, kan? Lo di sini dulu, jangan jatuh,” ucap Chan sambil mendudukkan Minho ke lantai yang dingin. Ia tidak sadar telah memanggil yang bersangkutan dengan begitu lembut. Mungkin karena situasi dan kondisi yang mendukung, Minho tampak tidak ketus saat tidur.

Chan lalu beranjak untuk membantu anak-anak menggelar kasur. Setiap orang memegang salah satu ujungnya, bekerja sama. Begitu selesai dan bantal telah tertata rapi, Minho segera menjatuhkan diri, tengkurap di kasur itu.

Dari luar, Chan mengambil belanjaan, kemudian mengunci pintu. Ia menatanya di dapur, menatap setiap barang yang dibelinya itu dengan napas berat mengiringi. Banyak, lebih banyak dari jatah bulanannya, dan semua itu karena bantuan dari Minho, teman sebangkunya.

“Min, kamu nggak makan dulu?” Chan balik ke ruang depan, diikuti anak-anak yang membawa piring dengan hati-hati. Tidak ada jawaban dari Minho, hanya erangan darinya yang kembali tertidur.

***

“Jiji, Ayen, cuci muka dulu! Sikat gigi sama cuci kaki, jangan langsung tidur!” Chan mengejar si sulung dan bungsu yang berlari menghindarinya sambil tertawa. Mereka memang paling hobi menggoda Chan.

“Lihat, tuh, Lixie pinter udah cantik. Ayo, ah, jangan lari-larian, nanti bangunin Kak Ino malahan.” Chan berkacak pinggang. Ia lebih memilih menuntun Felix menuju kasur.

“Nggak mau! Kak Ino juga nggak cuci kaki, langsung bobok!” Jisung merengut. Bocah itu tengkurap di samping Minho, menyentuh ringan bulu mata lentik milik yang lebih tua.

Jeongin, yang berbaring di samping Jisung, mengangkat tangan dan kakinya berbarengan sambil berucap, “Ndak mauuu!” dengan bibir mengerucut lucu.

“Nggak mau kalau bukan sama Kak Ino! Kak Ino bangun, banguuun!” Jisung memberontak saat Chan akan mengangkatnya. Bocah itu membebani tubuh Minho, bergerak dinamis, tetapi belum cukup untuk membangunkan Minho.

Jeongin merasa iri. Dengan berguling, ia mendatangi ketiga orang yang dianggapnya sedang seru-seruan itu. Katanya, “Ayen juga ngen main!” Setelah itu, ia ikut menaiki punggung Minho. “Kak Yix, ayo, ikut main!” tambahnya.

Felix, yang semula memejamkan mata, langsung bangun. Ia berlari kecil lalu memeluk kedua saudaranya begitu berhasil menaiki punggung Minho. Chan kewalahan, sedangkan Minho mengerang dalam tidurnya. Mungkin, saat ini Minho tengah bermimpi ditimpa tiga batu besar.

MILD [Banginho/Minchan]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang