“Tumben pakai baju?” Minho dudukkan dirinya di samping Chan, di ambang pintu yang terbuka. Ia pangku dagu dengan telapak tangan, hadap Chan yang membuang napas seolah tengah rasakan keresahan. “Bisa sedih juga, ya, lo.”
Tawa renyah dari Minho membuat Chan menoleh lalu menjawab, “Yang pertama, ini di rumah Buna, gue nggak mungkin nggak pakai baju di sini.” Malam ini, seolah rasi bintang berpindah pada netra Minho yang berbinar. Chan pandang cukup lama, sebelum jawab pertanyaan yang kedua. “Gue manusia, Minho. Gue bisa sedih juga.”
“Gue tau, tapi lo kayak lagi mikir negara, gitu. Mikir apa, sih?” Minho terkekeh, kalahkan derik sayap jangkrik yang bergesekan. Chan selalu suka ekspresi itu.
“Mikirin lo.” Tidak sepenuhnya keliru. Namun, tidak segamblang itu, bagi Chan untuk ungkapkan keresahan dalam hatinya. “Gue lihat-lihat, gantengan Ayah daripada lo.”
Minho berhenti tertawa, lantas pasang mimik jijik pada sang lawan bicara. “Lo naksir sama Ayah? Ditempeleng Bunda baru tau rasa.” Setelahnya, Minho peluk kedua lutut yang tertekuk, alihkan pandang pada langit malam yang tampak terang dan luas, entah sampai ke mana ujung langit itu.
Chan hanya mengulum senyum, ucapkan sahutan, “Kayak baru kemarin, Ayah sama Nda ke sini. Tiba-tiba aja udah sebulan, udah UTS, terus setiap akhir pekan nginep di rumah Seungmin.”
Minho mengangguk sembari bersenandung. Badannya bergoyang sedikit, terkadang mengenai bahu Chan yang berbagi tempat duduk dengannya ini. Chan ikut menikmatinya, apa lagi suasana tenang ini sungguh mendukung.
“Gue pengen nari di bulan, deh. Enak kali, ya, gue di atas sana sambil lihat lo di bawah.” Lagi-lagi, suara tawa Minho penuhi rungu Chan. Ini yang Chan suka, ia yang dengarkan segala cerita tidak terduga dari Minho, yang sungguh menghiburnya.
“Lo nggak ngajak gue? Nari sendirian di bulan, bisa diketawain kelinci bulannya, loh.” Chan ikut memandang lelangit. Dalam pikirnya, ia ingin menarik sang mentari, yang telah membuat bulan tampak indah malam ini, juga telah membuat wajah Minho berseri.
“Kebiasaan dongengin krucils, ya, jadi gini,” ledek Minho. Namun, tak ubahnya hal itu membuat ia tertawa juga. Tidak lama karena setelahnya ia berkata, “Gue sebenernya penasaran, Ayah ngomong apa aja sama lo? Duh, gue sampai lupa tiap mau nanyain.”
Chan merapatkan bibir. Pikirannya kembali penuh dengan percakapan waktu itu, saat Ayah singgung perasaannya terhadap Minho. Ada banyak pertimbangan, anggaplah Chan terlalu memikirkan risikonya. Hingga, akhirnya ia putuskan untuk meluapkan dalam kalimat.
“Gue disuruh Ayah buat ngejaga lo.”
Chan telan ludahnya, basahi kerongkongan yang mendadak kering. Ia paksakan tawa saat kalimatnya terlontar jenaka. “Jaga Changbin, Seungmin, Hyunjin, Buna, Jiji, Lixie, Ayen, sama mobil Changbin yang diparkir di tanah kosong sebelah. Takut ada yang maling, gitu.”
Minho berkedip-kedip, kemudian ia dorong kening Chan dengan telunjuknya. “Jangan mau kalau nggak dibayar. Ayah bercandanya emang gitu. Lagian, ya, gue bisa bela diri, lo juga. Kenapa kita nggak saling ngejaga aja?”
Kita ....
Jemari Minho diambil oleh Chan, diselipkannya dalam sebuah genggaman, yang saling isi setiap selanya. “Gue kedinginan,” kilah Chan, yang tahu bahwa Minho tidak akan melepaskannya meski bukan itu alasan yang dipakai.
“Makanya, masuk. Gue nggak mau kerokin lo kalau lo masuk angin, ya, Chan.” Dan, memang benar, Minho tak lepaskan genggaman mereka.
“Bentar lagi, gue masih pengen nangkep kelinci bulannya.” Meski nama Bulan disebutkan, Chan hanya pandang Minho di sampingnya. Ia penuhi penglihatan dengan wajah sang kawan.
KAMU SEDANG MEMBACA
MILD [Banginho/Minchan]
Fiksi PenggemarChan tidak pernah berpikir bahwa ia akan menyukai teman sebangkunya. Pun, tidak pernah menyangka bahwa sering menghabiskan waktu bersama di kontrakan kecil dapat menumbuhkan rasa cinta. Tidak pernah. Tidak sama sekali. Apa lagi, dengan adanya tiga b...
![MILD [Banginho/Minchan]](https://img.wattpad.com/cover/270954166-64-k193711.jpg)