Dering ponsel di waktu subuh membuat tangan bergerak rusuh, mencari keberadaan benda itu. Dengan kelopak mata menutup dan hidung yang tersumbat sebelah, si pemilik menekan kombinasi angka yang sudah ia hafal di luar kepala, kemudian mengangkatnya tanpa melihat nama si penelepon di pagi buta. Nada bicaranya manja saat berkata, “Mas, masih pagi. Adek masih ngan–”
“Umo! Bantuin gue! Waspada! Siaga satu! Siaga dua! Awas! Ini gawat, darurat! Aaakh!”
Seungmin—pemuda yang masih memeluk guling di ranjang itu—langsung terduduk, buru-buru mengecek nama kontak si penelepon. “Kak Min, ini lo? Kenapa, Kak? Halo, Kak Min! Kak Minho!”
Panggilan terputus, bahkan sebelum tiga menit terlewati. Sementara itu, Seungmin masih mencerna, merangkum semua sambil mengumpulkan nyawa. Hingga akhirnya, teriakan terdengar membahana dari kamarnya. “Kak Minho kenapa?!”
***
Seungmin agaknya menyesal begitu sampai di kos-kosan Minho beberapa saat kemudian. Ia kira, terjadi sebuah musibah yang membuat kakak sepupunya itu sampai menelepon. Ternyata, hanya masalah yang membuat Seungmin mengulum bibir hingga segaris tipis.
“Kak, jadi lo nelepon gue sampai gue yang masih pakai piama dateng ke sini itu karena lo bingung milih baju?” rangkum Seungmin dalam satu kalimat, satu napas.
Minho, si pelaku, tampak tidak peduli. Ia malah sibuk dengan dunianya sendiri, yaitu membongkar bungkusan kain berisi baju-bajunya yang terlipat rapi. “Mending lo bantuin gue, deh.”
Seungmin menghela napas, kemudian mengambil duduk di samping Minho yang terlihat cemas. Beberapa kali, Minho tampak melirik ponsel yang layarnya hitam, terkunci. Karena penasaran, Seungmin segera mengambilnya.
Yang lebih muda lantas terkekeh. Notifikasi berisi empat pesan singkat yang belum terbaca dari jam lima pagi masih setia menghiasi layar ponsel sepupunya itu. “Ini yang buat lo panik, Kak? Lo cuma diajak main gini, kok. Nggak usah bingung. Kan, baju yang lo bawa ke sini itu bagus-bagus.”
Minho tidak menatap Seungmin saat menjawab, “Gue tau, baju gue emang bagus-bagus. Makanya, gue bingung milihnya.”
Ekspresi datar langsung mampir ke wajah Seungmin. Pemuda itu lantas berdiri, meletakkan ponsel Minho, lalu meraih kunci motornya. “Udahlah, gue pulang aja.”
Namun, tangan Minho lebih cepat menghentikannya. “Gue panik bukan karena itu, Mong, tapi ....”
Seungmin, sekali lagi, merapatkan bibir. Ia juga merapatkan jaket yang dipinjamnya dari Minho. Hanya satu yang ingin Seungmin renggangkan, yaitu tangan sang sepupu yang memeluk erat pinggangnya saat ini.
“Kak, sumpah! Kenapa lo nggak nyuruh Hyunjin nyamperin lo aja buat balikin motor lo?” Seungmin menggertak, bulu kuduknya berdiri karena angin dingin pukul enam pagi menerpanya. Keadaan Minho saat ini memang membuatnya agak panas karena emosi. Entah itu keberuntungan atau justru kesialan baginya.
Sementara itu, Minho makin merapat. Ia sampai menempelkan dagu ke pundak Seungmin. Balasannya begitu menyebalkan di telinga yang lebih muda. “Ha? Lo ngomong apaan, Mong? Gue nggak denger!”
Namun, Seungmin tidak mau mengulanginya. Ia malah mengganti topik pembicaraan. Kali ini, dengan volume suara yang sedikit dikeraskan. “Ngaku, lo gugup pas di-chat Kak Chan, kan? Buktinya, lo belum buka chat-nya sampai sekarang. Lo suka sama dia!”
Bukan Minho namanya jika tidak mencari perkara dengan sang adik sepupu tersayang. Entah benar-benar tidak mendengar atau berpura-pura saja, yang pasti Seungmin kesal. “Ha?Gue ganteng? Iya, dari lahir, turunan ayah bunda gue!” teriak Minho.
KAMU SEDANG MEMBACA
MILD [Banginho/Minchan]
Hayran KurguChan tidak pernah berpikir bahwa ia akan menyukai teman sebangkunya. Pun, tidak pernah menyangka bahwa sering menghabiskan waktu bersama di kontrakan kecil dapat menumbuhkan rasa cinta. Tidak pernah. Tidak sama sekali. Apa lagi, dengan adanya tiga b...
![MILD [Banginho/Minchan]](https://img.wattpad.com/cover/270954166-64-k193711.jpg)