Bulan Liburan Kenaikan Kelas

482 76 8
                                        

“Ino, hati-hati di jalan, ya. Jangan ngebut. Pelan-pelan nggak apa, asal selamat sampai tujuan.” Minah memeluk sang anak sekali lagi. Wanita itu lantas membingkai wajah tampan Minho, ia pandang lama sampai ia yakin untuk melepaskan putranya kembali ke kosan.

“Jaga kesehatanmu, makan teratur, istirahat cukup, rutin ganti baju dan celana dalemmu, sesekali olahraga walaupun cuma lari keliling kosan. Kalau nggak kuat kerja sambilan, nggak usah dipaksain, fokus sama pelajaran aja. Kalau ada apa-apa, cepet telepon kami.” Minah satukan tangan mereka, dengan nasihat yang seolah tidak akan pernah selesai diucapkan. Namun, nyatanya ia tidak bisa menyampaikan semua, hanya doa yang terus ia langitkan untuk sang anak ke depannya. “Nda sayang sama kamu, Ino. Jaga diri kamu baik-baik.”

Wanita itu lantas mundur, membiarkan sang suami berganti memberi doa pada anak mereka. Minah tidak mau terlarut dalam perasaan. Jika ia turuti perasaan itu, mungkin Minho tidak akan ia biarkan pergi. Minho akan ia suruh tetap di sini, menemaninya sepanjang hari.

“Ino janji bakal baik-baik aja, Nda. Jangan khawatir.” Minho tersenyum sampai tampak deretan gigi. Ia angkat kepalan tangannya, berpose penuh semangat agar sang bunda lega. “Janji!”

Minhyuk yang melihat interaksi keduanya lantas tersenyum. Keadaan ini sama, selalu sama, setiap Minho akan pulang ke indekosnya. Minhyuk tentu paham karena ia pun agak tidak rela sang anak jauh dari jangkauannya. Seperti, ada bagian yang hilang dari rumah ini, dari hari-hari mereka, juga dari hatinya.

“Pesen Ayah udah diwakilin Nda semua, tuh.” Minhyuk berkelakar sambil membentangkan tangan, menuntun Minho agar masuk ke dekapannya. Ia tepuk punggung Minho agak keras. Punggung itu harus kuat sehingga bisa menopang si empunya. “Jaga diri kamu, Ino.”

Dalam dekap hangat itu, Minho memejam. Jawabannya memang serupa bisikan, tetapi penuh keyakinan. “Pasti, Ayah. Ino bakal jaga diri.”

Minah dan Minhyuk kompak mengangguk. “Udah, yuk. Nanti keburu hujan.” Setelah pelukan terlepas, mereka antar sang anak sampai pagar. “Padahal, masa liburan masih panjang, lo, No,” gumam Minah, menyindir sang anak yang seperti terburu-buru kembali ke kosan.

Minhyuk langsung mengulum senyumnya, sementara Minho sudah merengut sebal. “Nda! Kan, Ino udah bilang, Ino udah ngeiyain buat kerja di tempat itu, nggak enak kalau Ino sekarang nolak. Terus juga, temen-temen Ino di sana semua ....”

Tidak bisa ditahan, tawa Minhyuk dan Minah pecah. Keduanya seolah telah bersekongkol untuk mencubit pipi sang anak bersamaan. “Iya-iyaaa. Lucu banget, sih, kalau ngomel gini.”

“AYAHANDA!” Minho menyerukan panggilan keduanya dalam satu kata, tetapi hal itu justru menambah tawa yang makin membahana dari Minhyuk dan Minah.

“Udah, sana, keburu hujannya turun. Jas hujannya juga udah kamu bawa, kan, No?” Minah lantas mendorong punggung anaknya itu keluar, sembari matanya melihat lelangit yang mendung tanpa hujan.

Yang ditanya malah cengengesan. Minho memeriksa motor dan tasnya, sebelum menjawab, “Kelupaan, Nda.”

Minah menepuk dahinya sendiri, pun dahi Minho dan Minhyuk yang berdiri bersisian. Itu seperti kebiasaan khas keluarga mereka dari dahulu, katanya agar mereka tidak terus lupa dan tidak hanya satu orang yang merasa dahinya sakit karena ditepuk. “Nda cariin dulu di dalem, kayaknya ada di bawah meja jahit, deh.”

Sementara sang istri masuk ke rumah, Minhyuk memanfaatkan waktu yang ada untuk berbicara dengan Minho. “Ino, ini tentang anak-anak yang katamu udah diambil pihak panti lagi. Ayah tau kalau Ayah nggak berhak ikut campur, tapi seumpama kamu maupun Chan butuh sesuatu untuk mereka, jangan sungkan ngasih tau Ayah. Ayah bakal bantu kalian sebisanya.”

MILD [Banginho/Minchan]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang