Mungkin, apa yang Minho putuskan pada hari itu adalah kesalahan.
.
.
“Chan, lo suka sama gue?”
Mata Chan tidak bisa diam. Mereka bergetar, mencari fokus lain selain Minho yang mengurungnya dengan kedua tangan. Chan akhirnya bisa mengalihkan pandangan. Namun, hanya sebentar. Selepasnya, ia kembali harus bertemu dengan dwinetra yang memandangnya tajam.
“Ya ....” Bisik tipis hampir terbawa lari oleh angin. Namun, Chan tahu bahwa rungu Minho tidak akan membiarkan sepatah kata itu pergi. Maka, sambil memantapkan diri, Chan menegaskannya, tidak peduli apa yang akan terjadi nanti. “Ya. Gue suka sama lo, Minho.”
Tubuh Chan mati rasa usai pernyataan itu keluar dari mulutnya. Ia memang lega, tetapi sebagian besar dari dirinya merasakan bahwa mungkin ini adalah akhirnya. Cepat atau lambat, takut atau berani, Minho akan mengetahui. Dan, Chan mengerti jika Minho akan meninggalkannya dengan raut wajah kecewa, mungkin juga jijik akan Chan dapatkan sebagai jawaban.
“Chan ....”
“Kalau lo mau pergi ninggalin gue, silakan. Makasih udah baik banget sama gu–”
Bugh!
Minho memukul tembok, tepat di samping Chan yang masih berbicara. Lelaki itu menunduk, menatap kakinya yang gatal ingin menendang seseorang di depannya ini. Dalam hati, Minho hitung angka satu sampai sepuluh, hitung sepuluh lagi sampai rasa kesalnya mereda.
Setelahnya, Minho pandang Chan yang menahan napas. Perlahan, bibir Minho itu terbuka, keluarkan suara yang telah dipikirkannya. Jawaban untuk semua pernyataan Chan barusan. “Gue kecewa sama lo.”
Jiwa Chan seketika ingin keluar dari raga; menghilang. Lidahnya kelu ketika ia coba balas dengan ucapan, “Gue tau–”
“Gue kecewa sama pikiran lo yang dangkal ini, Chan!” Namun, Minho segera tampar Chan dengan ucapannya sebelum kalimat itu diselesaikan. Minho pandang Chan dengan binar redup lantaran tidak kuasa. “Kenapa lo bisa mikir kalau gue bakal ninggalin lo cuma gara-gara perasaan lo ke gue ketahuan, Chan?”
Chan tergugu, tidak tahu harus bertindak apa. Ia ingin sentuh bahu Minho, tenangkan Minho, tetapi rasanya sekarang berbeda. Pikirannya terlalu rumit karena ia takut Minho tidak nyaman dengan keadaan mereka sekarang. “Minho, gue minta maaf ....”
Minho menggeleng, menambah tanda tanya bagi Chan. Ujarnya dengan nada tegas, “Lo nggak salah, Chan. Perasaan lo juga nggak salah. Jangan lo paksa perasaan lo buat ngilang cuma gara-gara gue temen lo. Jangan lo jauhin gue cuma karena lo takut reaksi gue pas tau perasaan lo ....”
Sepanjang apa pun Minho menjelaskan, itu tidak membuat Chan lega. Justru, rasa bersalahnya kian bertambah. “Lo bakal nggak nyaman, Minho, karena gue nggak bisa mandang lo sebagai temen doang sekarang. Bagi gue, lo lebih daripada itu ....”
Di luar kesadaran, Chan remas sisi kaus Minho, hampir lingkarkan kedua lengannya di pinggang itu. Sayang, begitu kenyataan memukulnya, Chan segera jauhkan diri, dan itu tidak terlepas dari perhatian Minho yang memang mengamati gerak-gerik kaku Chan sedari tadi.
“Apaan, sih, Chan?” bentaknya, “Kalau mau meluk, ya, meluk aja! Biasanya juga kita pelukan kayak gini, kan?” Minho meraih kedua bahu Chan. Ia lingkarkan kedua tangannya melewati leher yang lebih tua. Hal itu serta-merta membuat jarak mereka makin dekat. Chan bahkan dapat tangkap bintang tersesat di mata Minho yang menatapnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MILD [Banginho/Minchan]
Fan-FictionChan tidak pernah berpikir bahwa ia akan menyukai teman sebangkunya. Pun, tidak pernah menyangka bahwa sering menghabiskan waktu bersama di kontrakan kecil dapat menumbuhkan rasa cinta. Tidak pernah. Tidak sama sekali. Apa lagi, dengan adanya tiga b...
![MILD [Banginho/Minchan]](https://img.wattpad.com/cover/270954166-64-k193711.jpg)