21

1K 84 8
                                        

- - -

Annabeth memandang Aldrich dengan canggung setelah mendengar perkataan Aldrich barusan. Dia memastikan bahwa pendengaran miliknya masih berfungsi dengan sempurna. Bahkan dia baru saja mengenal lelaki tampan tersebut hanya beberapa waktu namun tanpa ragu sang lelaki mengajak dia untuk tinggal bersama. Aldrich tersenyum melihat wajah bingung milik Annabeth yang habis dia peluk barusan.

"Apakah kau tak ingin tinggal bersama denganku, love?"

"Bukan seperti itu, aku masih mempunyai tempat tinggal akan sayang jika tidak terpakai nantinya."

"Kita bisa memakai tempat tinggalmu satu minggu sekali dan menghabiskan waktu disana, love." Annabeth memandang iris mata Aldrich sedikit sengit.

"Aku tahu ta-" Aldrich mengeluarkan geraman mendengar penuturan tersebut.

"Aku tak suka dibantah oleh siapapun termasuk dirimu." Alpha tone keluar dengan tegas dan lancar membuat Annabeth bergindik ngeri.

Iris elang milik Aldrich mengunci iris mata milik Annabeth tanpa terduga tangan kekar itu mencengkeran dagu Annabeth kasar. Annbeth yang mendapat perlakuan tak ambil pusing ia membalas tatapan tersebut semakin sengit. Jika saja suara milik Leon tak menganggu mereka mungkin akan terjadi aksi saling bunuh membunuh satu sama lain. Hubungan mereka cukup rumit seperti hubungan para remaja saat ada dimasa love-hate relationship.

"Brother, kau dipanggil mom dan dad." Sambar Leon saat tiba disana.

"Hm, ikutlah bersamaku love kita juga harus memberitahukan hal ini pada mereka bukan." Annabeth mengangguk dengan perlahan.

"Ck, dasar pasangan baru. Sungguh menyebalkan membuat mataku sakit saja."

"Aku mendengarmu, Leon. Diam atau ku hilangkan matamu saat ini juga." Sungut Aldrich berjalan melewati Leon.

Leon hanya menghelas napas pasrah menanggapi sahutan milik kakak lelakinya yang tampan. Aldrich menggenggam tangan milik Annabeth erat mereka berdua terlihat sangat serasi. Bahkan para maid yang ada disana tersenyum hangat saat dilewati oleh pasangan tersebut namun ada pasang mata yang menatap hal itu dengan tatapan tajam dan iri. Senyuman mengerikan juga terpatri disana wajahnya sambil terus mengamati Aldrich dan Annabeth.

"Ah, aku tak sabar menantikan pertikaian yang akan terjadi nantinya." Tawa mengerikan terdengar kemudian menghilang perlahan terbawa oleh angin.

Tibalah mereka di ruang santai ibu dan ayah dari Aldrich mengamati Annabeth dengan senyuman bahagia melihat hal itu Annabeth hanya menatap mereka berdua dengan sedikit aneh dan canggung. Aldrich yang tahu perlakuan ibunya hanya mampu menahan tawa didepan mereka sambil sesekali melirik wajah Annabeth yang tampak bingung dan canggung. Leon yang tiba disana hanya menggeleng heran melihat kelakuan keluarganya.

"Ada apa mom, dad?"

"Tidak, tidak ada apa-apa mom dan dad memanggil kalian untuk makan siang saja karena sudah waktunya untuk makan siang." Aldrich dan Annabeth mengangguk bersamaan.

Mereka pindah dari ruang santai menuju ke ruang makan sekarang tempat duduk Aldrich bukan berada didepan Annbeth seperti pada saat dulu Annabeth kerumahnya bersama dengan kakaknya. Ia sekarang duduk disamping Annbeth. Genggaman milik mereka masih bertaut satu sama lain hal itulah yang membuat Leon jengkel sedari tadi mungkin karena dia belum menemukan belahan jiwanya.

"Makanlah yang banyak. Kau harus sehat love aku tak ingin kau sakit." Genggaman mereka mulai terlepas.

"Ekhem, kau tak ingin mengambilkan makanan untuk ku juga brother?"

My Mate is a DoctorCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang