23

510 46 2
                                        

- - -

Wajah gusar milik Aldrich terlihat jelas para anggota pack miliknya terus saja menyuruh dia untuk segera mengenalkan calon Luna mereka. Bukanya dia tak mau tapi dia takut Annabeth akan celaka jika dibawa ke dunia hitam miliknya. Mungkin terlihat indah karena disana banyak sekali hewan-hewan aneh namun dibalik keindahan itu semuanya hanya semu semata. Bahaya selalu mengintai disetiap gerak dari para penduduk disana. Bahkan tak ayal pertempuran darah juga bisa terjadi didepan mata.

"Kenapa kau terlihat sangat gugup, brother?"

"Anggota pack mendesak ku untuk segera mengenalkan calon Luna mereka."

"Bukankah itu berita bagus. Mereka bisa menerima calon Luna yang sudah ditakdirkan moon goddes untukmu."

"Ya, tapi aku merasa ada sesuatu yang akan terjadi." Leon mendekat ke arah Aldrich.

"Kau terlalu memikirkan hal yang belum tentu terjadi, brother. Aku yakin semua akan baik-baik saja. Kau tak seperti Aldrich yang biasanya." Mendengar hal itu Aldrich memberi tatapan tajam pada adiknya segera berlalu dari sana.

"Brother, kau ingin kemana?!" Teriaknya keras.

"Memberi tahu dad dan mom tentang hal ini aku butuh pendapat mereka."

"Ternyata jatuh cinta bisa merubah sifat seseorang." Balas Leon dengan nada suara rendah sambil masih mengamati kepergian Aldrich yang semakin lama semakin hilang dari pandangan.

Berbeda dengan Aldrich yang masih kebingungan, Annabeth sekarang tengah memeriksa pasien miliknya. Senyuman lembut masih bertengger indah diwajah ayunya. Jarinya bergerak lincah membersihkan luka dan membalutnya dengan kasa bersih. Dia juga sesekali memberikan nasehat untuk para pasien dengan nada suara yang halus dan ringan untuk didengarkan.

Terkadang tawa ringan miliknya keluar kala mendengar cerita para pasien yang menurutnya lucu. Mungkin juga suasana hati miliknya hari ini sangat indah seperti langit biru. Sinar matahari semakin terlihat jelas walaupun begitu hawa sejuk masih berhembus dengan baik. Pintu berwarna coklat muda kembali dia buka seorang anak kecil tersenyum lebar ke arahnya sambil merentangkan tangan.

"Dokter Anne!" Teriaknya nyaring. Annabeth mengangguk cepat.

"Hai, Summer. Kau sudah tumbuh besar sekarang. Bagaimana rasanya?" Mereka kini sudah saling memeluk satu sama lain. Sama hangatnya seperti pelukan dari Aldrich batin Annabeth.

"Menyenangkan, kemarin aku menggambar ini." Summer mengeluarkan gambarnya. Annabeth tersenyum lembut.

"Bisa kau jelaskan padaku siapa mereka?"

"Ya! Ini dokter Anne dan ini Summer lalu yang ini mama." Annabeth menatap iris honey milik anak tersebut.

"Terima kasih sudah menggambarku, Summer. Jadi, apa kau sudah makan hari ini?"

"Ehem, mama menyuapiku tadi. Dia sekarang sudah kembali bekerja." Annabeth meletakkan kertas tadi di atas nangkas lalu memeriksa anak tersebut.

"Mama milik Summer pasti akan kembali lagi kesini jika shiftnya sudah selesai. Oke, sudah selesai." Annabeth menyuruh sang suster untuk mengambil darah milik Summer untuk melakukan pengecekan.

"Apa akan sakit dokter, Anne?" Annabeth duduk disamping anak tersebut.

"Tidak, ini hanya seperti digigit semut saja. Jika Summer berani dokter akan mengajak Summer berjalan-jalan sesudah ini."

"Aku berani." Mereka segera bekerja untung saja proses tersebut hanya berlangsung sebentar.

"Nah, sudah selesai. Kau hebat, Summer. Bawa sampel tersebut ke lab."

My Mate is a DoctorCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang