12

1.7K 111 6
                                        

Hai ges sorry ya lama soalnya aku lagi sibuk kelas online T○T

~~~
Katanya purnama itu indah?
Tapi nyatanya tak seindah sang surya
Purnama hanya datang pada waktu tertentu berbeda dengan surya yang datang setiap waktu
~~~

Aldrich kini tengah berada di kamar pribadi miliknya sambil mengamati bulan yang perlahan-lahan berubah warna menjadi semerah darah.

Ia menghembuskan nafasnya dengan perlahan sambil memejamkan mata miliknya. Pikirannya kalut, seharusnya sekarang ia tengah bersama mate nya. Tapi kali ini tak bisa terjadi, bisa-bisa matenya menganggap dirinya gila jika ia membawanya kemari.

Dia masih saja mengamati bulan tersebut yang semakin lama semakin menciut tertutup kabut malam. Setelah dirasa puas mengamati hal tersebut ia beralih ke tempat tidurnya. Ia segera merebahkan dirinya pada kasur empuk disana. Besok akan ada pertemuan para tetua itulah sebabnya Aldrich segera beristirahat dan tak memikirkan tentang matenya lagi.

Perlahan-lahan mata indahnya mulai terpejam dalam hitungan detik. Ia sekarang tengah menyusuri alam mimpinya.

In a dream

Aldrich sekarang tengah berada di medan pertempuran banyak sekali bercak-bercak darah yang tercecer di sembarang arah. Hingga ia menemukan sosok yang ia kenal.

"Azzura." Ucap Aldrich dalam satu kali tarikan nafas.

Gadis tersebut pun menoleh ke arahnya disertai dengan senyuman hangat miliknya. Ia memakai gaun berwarna putih dengan corak berukir dibagian bawahnya. Dengan langkah pasti Aldrich segera mendekat ke arah sosok tersebut.

Sekarang ia dan Azzura benar-benar saling berhadapan. Di mulai dengan gerakan perlahan tangan Aldrich mulai menyentuh pipi wanita tersebut dengan rasa kasih sayang. Hingga usapan tersebut terhenti tatkala wanita tersebut berkata sesuatu tentang matenya.

"Siapa Annabeth?"

"Dia mate ku."

"Jadi kau sudah tak mencintaiku, Aldrich?"

"Tidak, aku masih mencintaimu Azzura."

"Kau pembohong!" Tiba-tiba sebuah pedang menghunus perut wanita tersebut. Gaun yang semula putih bersih kini berubah warna jadi merah.

"Tidak! Azzura!" Aldrich segera menoleh ke arah Azzura berada. Di sana terdapat seorang wanita dengan menggunakan tudungnya memegang sebuah pedang yang sudah berlumuran darah milik Azzura.

Back to reality

Peluh keringat mulai membasahi dahinya, dengan sekali hentakan kedua mata tersebut kemudian terbuka. Ia segera bangkit dari posisinya sekarang dan merubahnya menjadi duduk sambil bersender. Sekarang pikirannya bertambah kalut, lebih tepatnya benar-benar kalut. Ia segera bangkit dari duduknya menuju ruangan khusus milik Azzura.

- - -

Annabeth hingga saat ini masih berada di rumah sakit tempatnya bekerja. Ia baru saja menyelesaikan operasi bedah. Dengan langkah yang lelah ia segera menuju ruangan pribadi miliknya.

Setelah sampai pada ruangan tersebut dia segera duduk pada kursi dan memaikan komputer yang terpajang di atas meja. Dengan gerakan yang lincah tangannya mulai berselancar pada dunia maya hingga tak sadar sekarang sudah pukul 01.30 malam.

Selang beberapa menit ia mulai menghentikan kegiatannya serta mematikan komputer yang tadi masih menyala. Annabeth mulai meletakkan kepalanya pada meja dan mulai memejamkan mata. Baru saja ia akan berlabuh ke alam mimpi tiba-tiba ponselnya bergetar.

My Mate is a DoctorCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang