Hadiah Terindah

2.4K 184 11
                                        

Tanpa terasa kini kehamilan Andin telah memasuki sembilan bulan, itu artinya tinggal hitungan hari lagi ia bertemu sang buah hati. Andin sudah mengambil cuti sejak seminggu lalu kini ia dan mama Rosa sedang sibuk mempersiapkan keperluan bayi.
Al tiba-tiba datang menghampiri sang mama dan istri tercintanya.

"Udah siap semua Ndin? Ada yang kurang?" Tanya Al.
"Udah kok mas, semua udah,"
"Alhamdulillah kalau gitu,"
"Udah beres, tinggal kamu nyiapin diri aja sayang, semoga semua lancar, duh Oma tambah gak sabar ketemu kamu," ucap mama Rosa sambil mengusap perut Andin.
"Aku juga gak sabar ketemu Oma" sahut Andin menirukan suara anak kecil.
"Kamu istirahat, jangan capek-capek," ujar Al kepada Andin.
"Iya, ini juga mau istirahat,"
Andinpun beranjak menuju tempat tidur semenjak kandungannya semakin membesar ia jadi mudah lelah.
"Ma, aku istirahat dulu ya," pamitnya pada mama Rosa.
"Iya, udah sana. Istirahat jangan capek-capek, biar mama yang lanjutkan,"
Terlihat Andin kesulitan untuk berdiri. Dengan sigap Al membantu sang istri berdiri.
"Tuh, kan, keras kepala kalau dibilangin, udah tau perutnya makin besar, suruh diem susah banget," omel Al dan Andin terlihat menitihkan air mata mendengarnya, semanjak hamil Andin menjadi sangat sensitif terutama dengan sang suami.
"Aku kan cuma mau nyiapin keperluan anak aku," ucapnya sambil terisak.
Al menjadi merasa bersalah kepada Andin. Dia juga harus menjaga bicaranya saat bersama Andin karena keras sedikit Andin akan menangis padahal dia tidak bermaksud marah sama sekali, memang wataknya agak keras.
"Iya, iya maaf karena omongan aku agak keras, aku cuma gak mau kamu kecapean, maaf ya," ucapnya penuh kelembutan sambil mengusap air mata Andin, "sayang, maafin papa ya, papa gak marah kok," sambungnya kali ini kepada sang anak.
Tiba-tiba

Dug....

Suara keras dari dalam seolah sebuah sahutan.

"Hai keras sekali tendangan kamu nak, tau ya kalo ini papa," ucap Al sambil mengusap lalu mencium perut Andin. Andin mengembangkan senyumnya merasakan interaksi kedua makhluk yang dicintainya.
"Anak papa sehat-sehat ya, sebentar lagi kita ketemu,"

Dug...

Al dan Andin tertawa merasakan sahutan dari sang anak, walau Andin merasa sedikit kesakitan namun ia bahagia.
Reyna yang baru saja memasuki kamar orang tuanya heran kenapa mereka tertawa.

"Mama papa kenapa sih?"
Andin menoleh ke arah Reyna.
"Kakak, sini sayang,"
"Adik kamu pinter tau nak, papa aja ngobrol udah bisa jawab," beritahu Al.
"Masak?" Reyna tak percaya,
"Coba aja bilang, halo adik gitu,"
Reyna pun mengucapkan dan mengelus perut mamanya.
"Halo juga kakak," ucap Al menirukan suara anak kecil.
"Itu mah suara papa,"
"Enggak ya, adik tu didalam,"
"Papa boong,"
"Ih gak percaya,"
"Perut mama lucu ya, gemes..." Andin tersenyum. "Kayak badut," sambung Reyna.
"Ih... Kok dibilang kayak badut sih," sahut Andin dengan wajah kesal.
"Hahaha, tapikan lucu ma,"
"Badut kan jelek gendut, berarti mama jelek dan gendut dong,? Kata Andin kesal.
"Hahaha enggak kok ma, mama kan cantik,"
"Bapak sama anak sama aja," ujar Andin.

Dug...
"Adik nendang ma?"
"Lucu banget, jadi gak sabar pengen ketemu," Reyna gemas sendiri.
Sementara kantuk mulai menyerang Andin.
"Sayang sini yuk temenin mama,"

"Hai kamu belum cerita sama mama, gimana tadi sekolahnya?" Tanya Andin sambil menciumi Reyna .
"Seru ma, tadi aku dikasih hadiah sama temen-temen aku, sama Miss Erina juga,"
"Emm.. kok mama gak diajak buka, mama kan pengen liat,"
"Hehehe, maaf lupa ma, habis tadi mama sibuk, jadi aku buka sama encus.."
Mereka pun bercengkrama dengan penuh kehangatan sampai tanpa sadar Andin tertidur pulas. Sementara reyna berusaha pelan-pelan melepaskan pelukan sang mama dan memilih bermain.
Reyna mengendap-endap keluar kamar.
"Lho kamu kok gak ikut bobo," tegur Al melihat Reyna keluar.
"Aku gak ngantuk pa, mau main aja, mama udah tidur,"
"Jangan capek-capek nak,"
"Enggak kok pa, aku gak capek, aku ke depan dulu pa," ujar reyna sambil berlari.

Al dan Andin memang berusaha tetap memperhatikan reyna mereka tidak mau Reyna merasa tersisih apalagi saat si kecil lahir nanti, sebisa mungkin mereka tetap memperhatikan reyna dan meluangkan waktu untuknya.

***
Malam tiba, Andin masih mencari kenyamanan posisi tidurnya, sejak memasuki usia 7 bulan ia memang kesulitan memposisikan tidurnya. Miring ke kiri pegal miring ke kanan pegal terlentang begah tengkurap apalagi.
Sejak bangun tidur siang tadi punggungnya terasa lebih pegal dari biasanya.

"Mas...," Rintihnya
Al pun dengan sigap mengelus pinggang Andin,
"Kenapa? Perutnya sakit?"
"Enggak, tapi pegal banget,"
"Ya udah aku pijitin, kamu tidur ya,
Setelah setengah jam berlalu akhirnya Andin berhasil tidur.

Sejak pukul dua pagi Andin selalu ke kamar mandi dan mengusik tidur Al.
"Kamu kenapa?" Tanya Al lembut.
"Buang air terus dari tadi, maaf ya aku ganggu,"
"Kenapa minta maaf? Gak papa,"
Lima belas menit kemudian perut Andin terasa sakit.
Al yang sejak tadi mengelus punggung Andin merasakan istrinya kesakitan.
"Kita ke rumah sakit sekarang"
Andin hanya mengangguk.
Semakin lama rintihan Andin semakin keras,
"Nak jangan bikin Mama sakit ya," ucap Al.
Andin terus menahan rasa sakit.

Indah Pada WaktunyaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang