Saat ini Al dan mama Rosa diliputi kekalutan karena kondisi Reyna, putrinya itu sedang berada di ruang ICU karena kondisinya yang mengkhawatirkan.
"Al, semoga reyna baik-baik saja ya, mama takut sekali,"
"Iya, ma aku harap juga begitu,"
Tiba-tiba handphone Al berdering, Andin menelponnya, Al kalut dan tak berani menerima telepon sang istri.
"Angkat saja Al, Andin pasti cemas sekali,"
"Justru itu ma, aku takut dan gak bisa jelasin semuanya,"
"Angkat aja,"
Akhirnya Al pun mengangkat telepon Andin,
"Halo Ndin," jawab Al berusaha biasa saja,
"Mas? Mas, gimana keadaan Reyna? Baik-baik saja kan?"
"Iya Ndin, baik kok, kamu berdoa aja dari rumah ya," bohong Al.
"Mas, kamu gak bohong kan? Perasaan aku gak tenang dari tadi,"
"Gak papa Ndin, cuma kayak biasanya,ini baru diruang rawat,"
"Mana dia? Aku mau denger suaranya"
"Reyna habis di periksa dokter, ini tidur,"
Andin tak begitu yakin dengan jawaban Al, perasaannya mengatakan Al bohong untuk menenangkan dirinya,
Terdengar suara dari sebrang,
"Pak, pasien membutuhkan donor darah," seketika telponnya mati.
Andin semakin cemas, hatinya tak tenang.
"Sayang, semoga kakak Reyna gak papa ya," ucapnya sambil menggendong anak lelakinya ke dalam pangkuan. Andin terus menciumi pipi anak keduanya itu berharap hatinya sedikit lebih tenang.
Namun sepertinya bayi mungil itu mengerti kegelisahan sang mama, ia juga mulai tak tenang di gendongan Andin.
"Sayang..." Andin menimang-nimang Ahsan.
Oek..oek...
"Sayang, mama gak papa kok, tenang ya nak ya, mau minum? Dede haus?" Andin berusaha menenangkan bayinya juga dirinya sendiri.
***
Sementara di rumah sakit.
"Golongan darah anak saya sama dengan istri saya sus, tapi masalahnya istri saya habis melahirkan, apa gak ada stok darah sus?"
"Stok tinggal satu kantong pak, sementara anak bapak butuh dua kantong,"
Al sangat gelisah saat ini, sementara ia tak berani mengatakan dengan Andin.
Akhirnya ia meminta bantuan Rendy untuk mencarikan darah tersebut, ia akan membayar berapapun asal anaknya selamat.
"Pak kebetulan golongan darah saya O saya bisa donor pak,"
"Alhamdulillah ren, kamu cepetan kesini ya,"
Al memasuki ruangan Reyna. Hatinya perih melihat sang anak harus memakai ventilator.
"Mama" rancau Reyna dengan suara lemah.
"Sayang, sama papa dulu ya, mama kan jaga adik,"
Mata Reyna meredup karena sang mama tidak ada disisinya.
"Hei... Nak kan ada papa, ada Oma juga diluar, mama pasti juga ingin sekali temenin Reyna, tapi kan ada dede, dede masih kecil, harus sama mama terus," jelas Al.
"Tapi mama sayang sama aku kan pa?" Tanya Reyna sambil menangis.
"Sayang dong, sayang banget,"
"Udah jangan nangis, Reyna harus semangat, biar cepat sembuh, terus ketemu mama deh, sama dede," Al menciumi Reyna sambil menahan kesedihannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Indah Pada Waktunya
FanfictionBagi setiap orang tua kebahagiaan anak adalah segalanya, walau ditengah kering kerontang tapi senyum malaikat kecil bagai setetes embun penyejuk hati. Tapi bagaimana jika semua itu berjangka waktu, yang setiap waktu bisa hilang dan menyisakan hal-ha...
