Rendy baru saja keluar dari ruang donor darah.
"Ren terimakasih banyak ya, sebagai ucapan terimakasih kamu boleh minta apa saja kepada saya," ucap Al sungguh-sungguh.
"Tidak usah pak, saya ikhlas membantu Reyna, semoga Reyna cepat sembuh ya pak,"
"Tapi Ren saya utang budi sama kamu, kamu gak mau uang? Sebut saja nominalnya, atau mungkin kamu minta cuti?"
"Tidak usah pak, saya benar-benar ikhlas dan senang sekali bisa membantu bapak,"
"Kalau begitu terimakasih banyak ya Ren,"
"Sama-sama pak,"
"Terima kasih ya Ren," ucap Bu Rosa
"Sama-sama Bu, kalau begitu saya permisi dulu bu, pak,"
"Iya silahkan,"
Tak lama kemudian dokter keluar.
"Dok, gimana anak saya?"
"Alhamdulillah kondisinya sudah membaik pak, sekarang bisa dipindahkan ke kamar rawat,"
"Alhamdulillah,"
"Tapi pak, dalam waktu dekat ini ananda Reyna harus menjalani kemo, untuk menghambat pertumbuhan sel kanker, karena selama ini pengobatan yang kita upayakan ternyata tidak berpengaruh besar, semua itu hanya untuk mengurangi gejala saja, karena telah memasuki stadium lanjut,"
"Apakah kemo bisa menyembuhkan anak saya dok? Lalu bagaimana dengan efeknya?"
"Untuk kesembuhannya enam puluh persen pak, karena seperti yang tadi saya katakan stadiumnya sudah naik"
Luluh lantah semua persendian Al dan mama Rosa. Tamparan ini serasa nyata. Kenapa harus malaikat kecil mereka, permata hati yang selalu mereka jaga semenjak tuhan menitipkan,
Lalu bagaimana dengan Andin? Apakah jalan yang sulit harus mereka pilih dengan mengorbankan permata lain? Kenapa tidak orang dewasa saja yang melakukan? Kenapa harus malaikat kecil yang baru beberapa saat membuka mata?
"Al gimana kalau kita bawa ke luar negeri? Singapore mungkin? Atau Amerika?" Tanya mama Rosa.
"Aku juga mikir gitu ma, kemarin-kemarin aku pikir mungkin sebulan atau dua bulan lagi tunggu Ahsan agak besar dikit, tapi sekarang rasanya gak mungkin, dan gak mungkin juga Andin dan Ahsan ditinggal, besok aku mau konsultasi ke dokter apakah Ahsan sudah bisa diajak bepergian,"
Tiba-tiba Andin datang dengan tergesa-gesa,
"Mas katanya Reyna di ruang rawat?" Tanya Andin. Memang benar feeling-nya tidak salah namun ia hanya ingin menggertak Al,
"Ndin kamu kok kesini? Ahsan gimana sama siapa? " Tanya Al dengan nada sedikit keras.
"Kamu tenang aja, tadi dia tidur terus aku minta tolong Mirna jagain," balas Andin.
"Kamu gimana sih, dia tu masih kecil, malah kamu tinggal," ucap Al lebih keras dari yang tadi.
"Terus kamu pikir aku bisa tenang dirumah? Aku juga berat mas sekarang, anakku yang satu sedang gak baik-baik saja sementara aku gak bisa di sampingnya, sementara aku juga punya bayi yang gak bisa jauh dari aku, ingin rasanya aku dibelah dua," ucap Andin sambil menangis.
Saat itu juga pintu ICU terbuka dan brankar Reyna keluar,
Reyna sempat mendengar perdebatan kedua orang tuanya.
"Ma..ma.. pa..pa.."
Andin dan Al langsung menoleh Andin buru-buru menghapus jejak air matanya.
"Sayang.." ucap Andin tersenyum.
"Kok mama disini?"
"Mama pengen liat Reyna mama kangen sama Reyna,"
"Aku baik-baik aja kok ma," ucapnya sambil berusaha tersenyum.
"Iya sayang, kamu kan anak yang hebat, kuat," ucap Andin sambil tersenyum disela-sela tangisnya.
Reyna didorong ke kamar rawat.
"Mama papa kenapa berantem?"
"Enggak kok sayang, mama sama papa gak berantem,"
"Mama kok kesini? Adik gimana?" Sebenarnya ia juga senang dan tenang mama disampingnya. Tapi adiknya masih kecil.
"Mama cuma sebentar disini, ntar lagi mama pulang,"
Segini dulu ya guys aku udah ngantuk 😁😁
KAMU SEDANG MEMBACA
Indah Pada Waktunya
FanfictionBagi setiap orang tua kebahagiaan anak adalah segalanya, walau ditengah kering kerontang tapi senyum malaikat kecil bagai setetes embun penyejuk hati. Tapi bagaimana jika semua itu berjangka waktu, yang setiap waktu bisa hilang dan menyisakan hal-ha...
