Chapter 22

499 79 13
                                    

Alunan angin membawa wanita berpipi gembul ini pada ketenangan nya mengusap perut nya yang masih sedikit rata itu. Hoodie putih berukuran besar adalah pakaian nya hari ini untuk memberikan kehangatan padanya dan juga Janinnya.

Menunggu jemputan yang akan membawanya dalam bahaya Jennie hanya bisa berhela sungguh tragis hidupnya dari dulu dan ini saatnya dia bangkit mengorbankan nyawa nya demi kebebasan orang tuanya.

“ maaf sayang. . . Mommy bukan yang terbaik untukmu. Mommy tidak ingin menyelakaimu sayang tapi ini salah satu cara mommy membebaskan raja dan ratu mommy

Jennie memeluk dirinya sendiri isakan tangis yang begitu dalam menandakan betapa sakitnya Jennie setelah ini mungkin saja anaknya akan pergi jauh entah bersamanya atau pergi sendiri.

mommy akan bersamamu jika takdir membawa mommy pergi juga. Dan jangan pikirkan Daddy sayang karena Daddy pun belum tau kehadiran mu jadi dia bisa merasakan sakitnya kehilangan satu orang bukan dua orang mungkin tidak sakit sama sekali ”

Jennie terus bicara pada anak yang ada di perutnya. Sangat prihatin melihatnya yang terus mengalirkan air mata di pesisir sungai Han




Tin Tin





Jennie sontak mengusap cepat air mata yang ada di pipinya lalu bangkit dari duduknya dan langsung menghadap kebelakang. Terlihat lah anak buah kakeknya sedang menatap tajam dirinya menyuruh Jennie cepat masuk ke dalam mobil.

Berjalan perlahan menuju mobil itu tangan Jennie merogoh sakunya tanpa menimbulkan kecurigaan di mata mereka.

Jennie mengaktifkan lokasinya untuk bisa di lacak Jungkook di adalah bagian awal dari rencana mereka.

Sampai di dalam mobil mata Jennie Langsung di tutup oleh kain hitam dan mobil itu berjalan. Jennie tidak memberontak karena memang niat Jennie menemui Jacob.

Tidak lama Jennie merasakan mobil berhenti kedua anak buah Jacob menuntun Jennie turun dari mobil. Jennie menurut dia mengikuti setiap langkah yang dia arahkan oleh mereka sampai akhirnya Para penjaga itu menahan tubuh Jennie agar tidak bergerak lagi tetap stay di tempat nya berdiri.

Kain itu di buka oleh seorang penjaga. Perlahan Jennie membuka matanya. Kemudian membeku.

Mulutnya tidak dapat bicara bahkan kakinya sudah lemas ingin sekali ambruk, bulir air mata yang tertahankan turun hanya seulas senyuman yang bisa Jennie berikan hari itu untuk mereka yang ada di depan matanya terbatas dengan jeruji besi. Kedua orangtuanya.


my princes. . . come here honey


Jennie berjalan perlahan mendekat kearah jeruji. Melihat sekeliling Jeruji begitu memprihatinkan selama ini seperti narapidana yang di hukum seumur hidup bahkan pakaiannya sudah seperti gembel.

Jennie memegang besi itu dan menatap bergantian kedua orangtuanya.

Yuna Brinkley sang ibu kandung yang begitu senang melihat putrinya sudah tumbuh dewasa sekarang ada di depan matanya bahkan rindunya terobati dengan kedatangan putri nya yang sudah 6 tahun tidak bertemu.


are you okay mom Dad. . . ” Lirih Jennie.


Yuna dan Alex mengangguk sambil tersenyum. Yuna mengeluarkan satu tangan nya keluar mengelus pipi mandu Jennie yang sudah lama sekali dia tidak menyentuh nya begitu juga dengan Alex yang sama sama mengusap pipi putri tercintanya anak semata wayangnya.

Two LivesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang