4. Hari ini, Abang Ulang Tahun, Yah!

764 103 0
                                        

Selamat Membaca!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Selamat Membaca!

Hari ini, Zafran tepat menginjak usia 15 tahun. Berarti sudah 5 tahun ia ditinggalkan oleh wanita yang sangat berharga baginya. Selama 5 tahun juga anak itu mendapat perlakukan layaknya orang asing oleh ayahnya. Satu satunya orang yang Zafran punya, yang seharusnya jadi teman berbincang dan pemberi semangat untuk anak yang sekarang duduk di bangku kelas 3 SMP itu.

Tidak ada yang berubah dari sikap Hardinata selama 5 tahun terakhir, setelah di tinggal oleh istrinya. Laki-laki itu malah semakin menunjukkan rasa bencinya kepada anak semata wayangnya itu.

Beberapa perlakuan yang tidak mengenakkan selalu Zafran terima dari ayahnya sendiri. Sesekali Hardinata akan sangat tersulut amarah, saat emosi dan pikirannya sedang tidak terkendali. Ketika Zafran merengek dan bahkan hanya memanggilnya dengan sebutan "ayah". Padahal Zafran hanya ingin mengingatkan ayahnya makan, atau membangunkan ayahnya tidur, dan tentunya ingin pelukan hangat oleh pria tersebut. Tetapi rasa benci di hati Hardinata telah menguasainya lebih dari hati nuraninya sebagai seorang ayah.

Ia tidak peduli saat anaknya kesakitan, atau pun menangis saat terjatuh karena dirinya atau karena hal lain. Hatinya benar benar sudah keras seperti batu.

Untung saja, selalu ada BI Narsih yang menemani dan menenangkan anak itu. Membubuhkan hal hal positif kepadanya, supaya mental dan pikirannya tidak terganggu dalam usia yang masih sangat kecil.

Tapi mungkin tidak untuk sekarang. Saat ini, Zafran mendatangi ayahnya di ruang kerjanya, dengan membawa sebuah kue ulang tahun yang sudah tertancap beberapa lilin di sana.

Zafran mengetuk pintu ruang kerja ayahnya dan masuk secara perlahan, takut ayahnya sedang tertidur. Dan benar saja, saat ia masuk keruangan itu, ia menemukan ayahnya tengah tertidur di sofa ruangan itu. Wajah cerah ceria yang dulu Zafran kenal, sekarang telah menunjukkan banyak perubahan.

Anak itu menaruh kue dengan lilin yang sudah dinyalakan itu diatas meja. Berjalan ke arah ayahnya, menggerakkan tubuh itu secara perlahan.

"Ayah, ayah... Bangun. Ayah" ucapnya secara perlahan

"Ayah hari ini Abang ulang tahun, ayo temenin Abang tiup lilinnya, Abang mau tiup lilin bareng ayah"

Respon yang diberikan ayahnya, sama seperti biasa saat anak itu berusaha untuk membangunkan pria itu dari tidurnya.

Tubuh Zafran terdorong kebelakang, dan ia terduduk ke ubin yang dilapisi karpet. Ia seperti sudah biasa, dan tau akan diperlakukan seperti ini. Tapi anak itu tidak pernah menyerah, ia tau kalau ayahnya sangat menyayanginya.

"Sudah berapa kali saya bilang, Zafran. Jangan pernah ganggu saya kalau saya sedang tidur" ucap Hardinata sembari berteriak.

"Abang cuman mau ngajakin ayah buat tiup lilin. Hari ini Abang ulang tahun, yah"

"Terus kamu pikir saya peduli?, Kamu harus tau Zafran, kamu adalah penyebab istri saya meninggal"

"Yah, bukan Zafran yah, bukan Zafran yang bunuh bunda, bukan karena Zafran yah,"

"Berani ngelawan saya, ya kamu sekarang. Memang kamu ini anak kurang ajar" dengan emosi yang tidak terkendali, Hardinata berjalan kearah meja yang diletakkan kue ulang tahun, dan mengambil salah satu lilin yang berbentuk angka 5.

Meletakkan lilin yang masih menyala itu ke telapak tangan Zafran, tanpa belas kasihan. Pria itu terus menjejali telapak tangan anak itu.

"Ayah ampun yah, sakit yah. Udah"

"Ini adalah hukuman buat anak yang kurang ajar"

Bibi baru masuk kerumah itu, ia mendengar suara gaduh dari arah kamar majikannya, bergegas menuju kesana. Takut terjadi sesuatu pada Zafran. Dan benar saja, bibi melihat anak itu sedang memegangi tangannya yang terkena lilin panas akibat ulah ayahnya. Baru akan menampar anak itu, bibi langsung memeluknya dan menghalanginya dari pukulan ayahnya sendiri.

Tangan Hardinata otomatis langsung berhenti.

"Bi Narsih, apa yang kamu lakukan, jangan ikut campur. Biar saya beri hukuman untuk anak kurang ajar ini"

"Tidak, tuan. Jangan pukul Zafran. Dia tidak salah apa apa tuan"

"Terserah kamu, saya muak dengan orang orang di rumah ini"

Hardinata pergi berjalan ke arah meja dan mengambil kunci mobilnya. Bergegas keluar. Tak lama sudah ada terdengar bunyi mesin mobil. Sudah di pastikan Hardinata pergi meninggalkan rumah itu.

Bi Narsih masih memeluk Zafran. Yang tengah terisak dan memegangi tangannya yang terkena luka bakar.

"Abang..."

"Bi sakit bi, panas"

"Sini bibi lihat sayang.. ayo ikut bibi, biar bibi obati"

Zafran hanya mengangguk. Benar saja itu begitu sangat menyakitkan, apalagi luka tersebut dibuat oleh ayahnya sendiri. Yang terasa bukan hanya telapak tangannya saja yang terluka, tetapi hatinya jauh lebih parah.

"Bi, kenapa ayah sangat benci sama Zafran bi. Zafran salah apa sama ayah?" Anak itu nampak terisak.

"Abang dengar bibi, ayah begitu karena ayah sedang capek aja"

"Nggak bi, bibi gak bisa lagi bohongin aku, aku tau kalo ayah emang benci banget sama aku. Aku bisa rasain rasa benci itu bi. Rasanya sakit banget bi. Zafran rindu ayah yang dulu, Zafran rindu di peluk ayah, Zafran tau Zafran gak bisa lagi peluk bunda, Zafran rindu bunda" isakannya semakin kencang. Begitu memilukakan kedengarannya.

Bibi langsung menarik anak itu, merengkuh tubuh Zafran yang semakin bergetar. Ia merasa semesta tidak adil pada dirinya, separuh dunianya telah hancur. Kini, satu-satunya dunia yang ia punya, malah tidak mengganggap dirinya siapa-siapa.

Zafran ingin menuntut semesta atas keadaan yang diberikan padanya, tapi apa daya, dengan cara apapun Zafran tidak akan bisa memutar waktu, ia tidak akan pernah bisa mengembalikan pelukan dan dekapan hangat ibundanya.

Zafran ingin menuntut semesta atas keadaan yang diberikan padanya, tapi apa daya, dengan cara apapun Zafran tidak akan bisa memutar waktu, ia tidak akan pernah bisa mengembalikan pelukan dan dekapan hangat ibundanya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Bersambung...

Semestanya Zafran Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang