Selamat Membaca!
Di musim penghujan, pasti akan selalu ada badai yang datang dan pergi setelahnya. Tetapi mendungnya akan setia menetap hingga pergantian musim selanjutnya.
Namun untuk Zafran, badai senantiasa menetap lebih lama di hari-harinya. Terkadang pemuda itu seperti sudah terbiasa dengan hantaman badai yang bahkan akan menghajarnya habis-habisan.
Setelah dari rumah sakit, Zafran berjalan tanpa arah mengikuti kemana langkah kakinya membawa ia pergi. Namun satu-satunya tempat yang bisa Zafran datangi adalah makam ibunya. Pemuda itu berjalan dengan tidak bertenaga ke arah gundukan tanah bertuliskan 'Tania Maura' derai di matanya benar-benar tidak mampu lagi untuk ia bendung. Malam itu di bawah langit gelap tak berbintang, pertanda bahwa akan turun hujan besar, dan gerimis sudah mulai mempercakapkan maksudnya.
Di atas makam sang bunda, Zafran tidak berbicara sepatah kata pun. Ia hanya menangis dalam waktu yang cukup lama. Seakan ia ingin menghabiskan sisa air matanya hari itu. Seolah setelah ini tidak ada lagi tangis yang akan menghiasi hari-harinya. Erat, pelukan Zafran pada nisan ibundanya begitu erat. Pemuda itu seperti enggan untuk beranjak dan merelakan tubuhnya basah kuyup di bawah gerimis yang sudah mulai berubah menjadi bulir hujan yang lebih besar.
Zafran bingung kemana setelah ini ia harus pulang, bahkan rumahnya sendiri tidak bisa Zafran definisikan sebagai rumah. Itu hanya sebuah bangunan kokoh yang mampu untuk melindunginya dari panas teriknya matahari, serta hujan badai yang juga ikut menerjang.
Setelah cukup menguras air matanya yang sudah tercampur dengan air hujan yang ikut jatuh, semesta seakan mengerti dengan apa yang Zafran rasakan. Pemuda itu pun memilih untuk pulang, karena terpaksa. Terpaksa. Bagi Zafran semua tempat terasa sama saja. Karena ia tetap berakhir sendirian, bertemankan sepi dan berbagai pilu tanpa adanya bahagia barang setitik pun untuk bisa ia jamah.
___
Sepedanya terparkir di garasi rumah berpagar coklat. Ia memasuki rumah itu dengan pikiran dan hati yang kacau. Membersihkan tubuhnya sebentar dan beristirahat. Pemuda itu tidak bisa benar-benar merasakan apa itu istirahat. Ia hanya merebahkan tubuhnya namun pikirannya begitu kusut dan semeraut.
Di rumah sebesar itu hanya ada dirinya dan kesunyian serta bunyi bising dari derai hujan yang jatuh. Raka masih di rumah sakit, Zafran meminta sahabatnya itu untuk menemani ayahnya. Karena Zafran tidak bisa dan tidak akan pernah bisa untuk berada di sana.
Zafran nampak merogoh tas yang tadi ia bawa untuk sekedar mengambil ponselnya. Mencari satu nama di kontak panggilannya. Namun pemuda itu nampak keluar lagi dan beralih membuka aplikasi chatting.
Zafran
"Mira..."
Cukup lama pesan yang Zafran kirimkan tidak dibaca oleh Elmira. Sampai notifikasi yang Zafran tunggu nampak muncul di layar ponselnya.
Mira🕊️
"Zaf... Kamu kemana aja. Kamu gapapa kan"
Zafran
"Aku gapapa 😁"
"Kamu apa kabar?"
Mira🕊️
"Aku baik...Padahal baru tadi pagi kita ketemu, aku udah kangen banget sama kamu"
"Kamu sekarang lagi di rumah sakit?"
"Ayah kamu gimana?"
"Kamu udah makan?"
"Aku ke sana ya, mau ngasih makanan buat kalian makan di sana"
Zafran
"Kita udahan ya, Mir?"
Mira🕊️
"Zaf..."
"Maksud kamu?"
"Zafran, maksud kamu apa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Semestanya Zafran
General Fiction"Kita adalah sepasang rasa yang penuh luka" Kumohon pada semesta untuk berada dipihakku, karena aku hanya punya diriku dan semesta jika ingin membantu.
