"Abang, bang. Bangun sayang" seorang wanita menepuk lembut pipi sedikit berisi Zafran yang masih memejamkan matanya rapat.
Anak itu membuka matanya perlahan. Diiringi suara lenguhan khas bangun tidurnya.
" Bunda..." Anak itu langsung membuka mata sepenuhnya. Rasa kantuknya sirna seketika.
" Iya sayang, ini bunda, nak. Abang apa kabar?. Abang dengerin bunda. Abang jangan pernah benci sama ayah ya! Bagaimanapun, dia adalah orang tua satu-satunya yang Abang punya. Abang harus jadi laki-laki yang hebat. Tunjukin sama dunia kalau Abang adalah orang yang kuat. Ya sayang!"
"Tapi kenapa ayah mukulin Abang Bun. Itu berarti ayah gak sayang sama Abang"
"Nggak sayang kamu salah. Ayah sayang banget sama Zafran"
"Kalau ayah sayang sama Zafran. Kenapa ayah mukulin Zafran Bun. Kenapa?" Anak itu terisak.
"Bunda, Zafran kangen bunda. Zafran ingin peluk bunda lagi"
"Bunda juga kangeen banget sama Abang. Abang baik baik disini ya, nak. Bunda janji, bunda bakalan terus jagain Abang, disebelah tuhan"
"Tapi Abang mau bunda disini Bun. Kalau nggak Abang mau ikut bunda aja. Disini ayah jahat Bun"
"Nggak sayang, Abang tidak kasihan sama bi Narsih? Jadi Abang harus bisa bertahan ya. Bunda tau kok kalau Abang kuat"
"Sekarang bunda harus pergi. Abang jaga diri baik-baik"
"Nggak Bun"
"Buuunnn.."
"Bundaaa" anak itu berteriak dan bangun dari tidur yang sebenarnya. Dengan keringat yang terus mengalir di pelipisnya. Wajahnya nampak sangat pucat.
Bi Narsih terkejut, mendengar teriakan anak itu. Iya, bi Narsih tidur di kamar Zafran. Lebih tepatnya menemani anak itu karena suhu tubuhnya yang terus naik semalaman. Sehabis kejadian ia dikurung di kamar mandi. Anak itu nampak tidak baik-baik saja.
Kalau ada yang bertanya, kenapa Hardinata membiarkan bi Narsih untuk mengurus anak itu. Padahal bisa saja laki-laki itu menyuruh bi Narsih untuk tidak peduli kepada anaknya. Atau bahkan memecat wanita itu karena telah peduli kepada Zafran.
Sebab. Wanita itu adalah orang yang pernah menyelamatkan nyawa Hardinata, saat pria itu hampir tertimpa kayu saat merenovasi garasi mobil dirumahnya.
Saat itu bi Narsih harus dirawat selama tiga hari di rumah sakit karena benturan di bagian kepalanya akibat menolong Hardinata dari kayu berukuran cukup besar yang hampir menimpanya.
Karena itu lah, Hardinata tidak akan pernah untuk bersikap jahat kepada perempuan yang telah menyelamatkan nyawanya itu. Hardinata masih memiliki rasa hutang Budi kepada bi Narsih. Berarti dapat dipastikan lelaki itu masih memiliki hati nurani.
Tetapi kemana hati nuraninya sebagai seorang ayah. Dengan tega ia membenci anaknya hanya karena sebuah kehilangan yang disebabkan oleh sebuah kecelakaan. Anak itu tidak sepatutnya dijadikan sebab atau sebuah alasan dari berpulangnya seseorang. Karena ia juga korban.
Hardinata bukan hanya kehilangan istrinya tapi ia juga kehilangan hati nuraninya sebagai seorang ayah dan sikap dewasa sebagai seorang pria dewasa.
🌻🌻🌻
Pagi ini, panas tubuh Zafran sudah mulai pulih dan normal. Bibi masih setia menemani anak itu, sesekali wanita itu meninggalkannya hanya untuk memasak makanan di dapur. Dan membereskan ruang tv akibat kekacauan semalam. Sembari menunggu anak itu bangun dari tidurnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Semestanya Zafran
General Fiction"Kita adalah sepasang rasa yang penuh luka" Kumohon pada semesta untuk berada dipihakku, karena aku hanya punya diriku dan semesta jika ingin membantu.
