"Kita adalah sepasang rasa yang penuh luka"
Kumohon pada semesta untuk berada dipihakku, karena aku hanya punya diriku dan semesta jika ingin membantu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hardinata nampak membukakan pintu untuk seorang wanita dan meminta wanita itu masuk ke- kediamannya.
Zafran tengah berada di dapur bersama Raka, dapat terlihat jelas di ruang tamu, ayahnya pulang dengan seorang wanita yang berbeda dengan yang terakhir ia bawa ke rumahnya.
Zafran hanya terdiam tanpa niat bertanya pada sang ayah. Karena Zafran rasa percuma, ia tidak akan mendapatkan jawaban apa-apa. Tangan pemuda itu terkepal kuat hingga kukunya membekas pada telapak tangannya.
Zafran kenal betul siapa wanita yang dibawa oleh Hardinata. Rahang Zafran mengeras menahan amarah yang mulai nampak pada kedua matanya. Raka yang bingung dengan situasi, dan sadar dengan gelagat sahabatnya itu, berusaha bertanya.
"Lu kenapa Zaf?"
Namun pertanyaan itu tidak mendapatkan jawaban apapun dari yang ditanyai.
"Ayah Lo pulang sama siapa itu Zaf. Lo kenal dia?"
"Kenal, kenal banget"
"Emang siapa?"
"Mamahnya Elmira"
Setelah mendengar jawaban dari Zafran, Raka tercengang, bagaimana bisa wanita yang merupakan seorang istri dan seorang ibu, tega tidak berada disebelah tubuh tak bernyawa suaminya untuk terakhir kali, mengusap lembut tubuh anak-anaknya yang kehilangan sosok pelindung mereka. Malah memilih pergi dengan seorang pria yang notabene pria tersebut adalah ayah Zafran sendiri.
Ingin rasanya Zafran berlari menghampiri wanita itu, menyebutkan dengan tegas bahwa suaminya telah tiada, ayah dari anak-anaknya telah pergi untuk selamanya, bahwa saat ini Genta dan Elmira membutuh sosok orang tua di samping mereka. Tetapi Zafran tau, tidak sepantasnya jika ia melakukan hal demikian, karena Monika adalah orang yang lebih tua darinya. Terlebih ada Hardinata di sana. Zafran yakin ia akan berakhir sangat buruk jika hal tersebut benar-benar ia lakukan.
Zafran yang diikuti Raka di belakangnya berjalan mendekat ke ruang tamu di mana ayahnya dan Ibu Elmira sedang berada.
"Ayah" dengan senyuman Zafran mengulurkan tangannya ke arah Hardinata hendak mencium tangan sang ayah. Namun tak digubris oleh laki-laki itu.
"Om" giliran Raka yang mengulurkan tangan hendak mencium tangan ayah dari sahabatnya, disambut baik oleh Hardinata. Reaksi yang sangat berbeda dengan yang Zafran terima.
Raka melirik ke arah Zafran karena merasa tak enak hati.
"Udah gapapa" ucap Zafran tanpa suara kepada Raka.
"Raka dari kapan di sini? Yaya mana?"
"Udah dari kemarin om, Raka nemenin Zafran disini. Yaya ada lagi main di ruang TV"
"Harusnya kamu gak perlu repot nemenin Zafran, Raka. Biarin aja dia sendirian, dia udah gede bukan lagi anak kecil"
"Aaa, itu tidak apa kok om, Raka gak merasa direpotin sama sekali"