15. Perkara Roti Coklat Lagi

360 51 2
                                        

Dari sudut jendela

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Dari sudut jendela. Zafran tengah memandangi setiap bulir hujan yang jatuh ke tanah. Pikirannya berkelana. Zafran yakin ini masih kawanan hujan kemarin yang masih tegas menghujam bumi. Seakan setiap tetesnya masih menangisi kepergian wanita baik itu.

Pemuda yang sudah rapih dengan seragam sekolahnya itu berjalan keluar kamarnya. Hanya untuk memastikan ayahnya belum berangkat kerja.

Dan benar saja mobil masih terparkir rapih di bagasi.

Zafran melangkahkan kakinya ke arah kulkas. Mencari sesuatu yang akan di jadikan sarapan untuk ia dan ayahnya.

Ada banyak bahan masakan di dalam kulkas. Bi Narsih selalu belanja untuk kebutuhan keluarga Hardinata setiap minggunya.
Jadi kulkas itu masih terisi banyak makanan dan bahan masakan.

Namun Zafran hanya memandangi isi kulkas itu satu persatu. Pemuda itu terdiam, ia ingin membuatkan sarapan tapi ia tidak bisa memasak. Pandangannya beralih ke meja makan, di sana hanya ada roti, selai coklat dan selai kacang kesukaannya.

Segera Zafran mengambil dua buah piring, meletakkan masing-masing dua lembar roti. Mengoleskan selai coklat untuk ayahnya dan selai kacang untuk dirinya. Setelah itu menumpukkan dua lembar roti itu menjadi satu.

Sepertinya Zafran tidak perlu menunggu ayahnya keluar kamar untuk sarapan bersama. Karena itu hanya angan yang harus Zafran telan secara bulat-bulat.

Jadi pemuda itu memakan sarapannya terlebih dahulu. Setelahnya Zafran menyiapkan dua buah tempat bekal makanan dan kembali mengoleskan 4 lembar roti untuk masing-masing tempat bekal. Zafran berniat membawakan makanan untuk Raka dan Yaya.

Di rasa hujan di luar sudah reda. Hanya tetes-tetes kecil air yang masih berjatuhan.

Segera Zafran memasang sepatu dan mengambil sepedanya, bergegas menuju ke rumah Raka terlebih dahulu.

Waktu masih menunjukkan 45 menit menuju bel masuk. Dan Zafran sudah sampai di rumah Raka. Terlihat Raka yang tengah menyisir rambut adiknya yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya.

Zafran menghampiri kedua anak bi Narsih itu.

"Ka, kalian udah sarapan?"

"Belum zaf, tadi gue bangun kesiangan"

"Yaudah ini gue bawain kalian roti, sarapan dulu" memberikan tempat bekal ke Raka.

"Makasih zaf"

"Santai"

Raka memberikan roti yang diberikan Zafran kepada Yaya, dan ia juga mengambil satu.

Zafran menatap sendu ke arah Yaya, ia tau betul apa yang Yaya rasakan. Bukannya anak itu tidak merasa sedih di tinggalkan oleh ibunya, namun ia masih sangat kecil untuk tau bagaimana cara mengekpresikannya.

"Yaya, roti buatan bang Zafran enak gak?"

"Enak" ucap Yaya dengan mulut yang di penuh oleh roti selai coklat itu.

Semestanya Zafran Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang