"Kita adalah sepasang rasa yang penuh luka"
Kumohon pada semesta untuk berada dipihakku, karena aku hanya punya diriku dan semesta jika ingin membantu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Zafran sedang menuangkan semua obat-obatan miliknya, berhamburan di atas meja. Namun Zafran tidak menemukan obat yang biasa ia konsumsi. Obat pereda nyeri pada kepalanya.
"Kok gak ada?" Zafran bertanya pada dirinya sendiri.
"Apa habis ya?"
Saking seringnya Zafran mengkonsumsi obat tersebut, sampai lupa sudah berapa banyak bungkus obat yang ada di dalam Tote bag coklat di sebelah pintu kamarnya.
Iya, Zafran menyembunyikan semua bungkus obatnya di sana. Pemuda itu tidak membuangnya ke tempat sampah. Bungkusan itu menumpuk begitu saja. Terhitung sudah hampir 3 bulan terakhir Zafran mengkonsumsi obat pereda nyeri yang ia beli sendiri di apotek tanpa resep dokter.
Dan jangan lupakan juga obat tidur yang tak kalah banyak. Karena Zafran sering susah tidur. Pemuda itu sering begadang bukan untuk bermain game atau telponan dengan perempuan. Ia hanya berperang dengan isi kepalanya sendiri, dan terkadang itulah yang membuat Zafran sering merasakan sakit kepala.
Zafran mengambil uang yang ia simpan di dalam sebuah kotak kayu. Kotak kayu itu dibelikan oleh Bi Narsih, dan Zafran gunakan sebagai celengan.
Kini Zafran mengayuh sepedanya membelah jalanan yang basah setelah hujan. Angin malam serasa menusuk kedalam jaket yang Zafran kenakan.
Hingga tibalah Zafran di apotek yang ia tuju.
Ting
Suara pintu kaca apotik yang Zafran buka. Dan pemuda itu masuk setelahnya.
Namun pandangannya teralih pada seseorang yang tengah berdiri di depan meja kasir. Perawakan itu sepertinya Zafran kenal.
"Mbak, ada obat pereda nyeri perut?"
"Ada, mau yang mana" tawar pelayan tersebut.
"Yang itu aja mbak" ucap orang tersebut sembari menunjuk obat yang ditawarkan oleh pelayan apotik.
"Ini mas"
Suaranya terdengar tidak asing bagi Zafran.
Zafran menghampiri orang tersebut, bermaksud untuk melihat wajahnya.
Dan benar saja Zafran kenal dia siapa.
___
"Lo apa kabar?"
"Baik, Lo sendiri?"
"Baik kok"
"Gimana sepeda Lo udah dibenerin?"
"Udah lah, gila. Udah lama ini"
Kedua pemuda itu terkekeh.
"Lo beli obat banyak amat?" Tanya Zafran sembari memakan cilok yang tadi mereka beli di pinggir jalan.