Dear kamu, seseorang yang kupanggil kakak.
Hari ini kulihat wajahmu tersenyum bahagia. Meskipun hanya dalam bentuk photograph, aku senang mengetahui bahwa kamu bahagia bersama dia.
Ah iya, kemana perginya kacamata kebanggaanmu itu? Dulu kamu sering sekali menanyakan pendapatku perihal penampilan barumu itu. Saat aku bilang bahwa kamu jauh lebih tampan dari biasanya, kamu jadi makin sering memakainya. Hahaha. Kalau dipikir-pikir lucu juga. Padahal mata kamu masih baik-baik saja kan? Maksudku, kalau mata kamu masih normal ngapain pakai kacamata? Jangan-jangan karena aku pernah bilang kalau cowok berkacamata itu terlihat lebih cerdas.
Ah iya, cowok cerdas memang kelihatannya lebih menarik sih tapi tetap saja harus diperhatiin dengan saksama orangnya kayak gimana, minimal tahulah track recordnya dia kayak gimana.
Tapi kenapa jadi bahas soal itu ya. Bahas kakak ipar aja gimana? Menurutku ya kak, dia terlalu cantik buatmu. Hahaha. Tapi ada baiknya juga sih, kamu jadi bisa memperbaiki keturunan. *peace*
Ngomong-ngomong, pekerjaanmu ya yang membuat tipe gadismu berubah 180 derajat? Dulu kamu selalu bilang bahwa perempuan sederhana itu jauh lebih menarik. Kamu bahkan menulis sebuah cerita tentang gadis itu. Setelah kuperhatikan dengan baik, gadis yang selangkah lagi menjadi istrimu itu bukanlah tipikal gadis sederhana yang selalu kamu bicarakan. Apa mungkin karena setiap orang berubah pada waktunya? Mungkin. Aku pun. Bukan lagi gadis kecil yang dulu kamu kenal.
Ada satu hal lagi yang ingin kuceritakan. Tentu saja bukan soal lagi kamu atau aku yang berubah. Ini soal aku yang merindu. Bukan kamu. Tapi dia. Kapan-kapan aku ceritakan.
Dari aku yang memanggilmu kakak.
15 Maret 2015

KAMU SEDANG MEMBACA
Menghapus Jejakmu
Short Story30 Hari Menulis Surat Cinta • 30 Januari - 28 Februari 2015 Jangan pernah kembali untuk mendorongku jatuh ke lubang yang sama. Aku tidak lagi selemah itu. ~@AuliyaSahril