Entah sudah berapa banyak kunikmati cinta yang kau berikan, tapi aku sungguh tidak pandai bersyukur. Aku seringkali lupa, seringkali pura-pura tidak peduli. Aku memang tidak pantas mendapatkan cintamu, bukan?
Pagi ini, aku ingin sedikit bercerita tentang kota tempatku dibesarkan, Makassar. Kota ini baru saja diguyur hujan deras. Sama seperti semalam. Derasnya hujan ditambah lagi dengan listrik yang padam membuat mataku tidak sanggup lagi untuk melakukan rutinitas tengah malam. Maka kuputuskan untuk tidur. Berharap menemukannya di sana, seseorang yang seringkali mengusik pikiran.
Banyak hal yang sebenarnya sangat membingungkan. Salah satunya adalah hubungan antara dua orang manusia yang perasaannya sedang dipertanyakan. Apakah itu cinta ketika kita tak sanggup berhenti untuk memikirkannya? Apakah itu cinta ketika melihatnya tertawa bahagia? Apakah itu cinta bila tiada hari yang dilalui tanpa merindukannya?
Sebenarnya ini bukan hanya masalah apakah itu cinta atau tidak. Masalahnya adalah aku tidak ingin melupakanmu. Mencintai seringkali membuat kita lupa, bukan? Melupakanmu membuatku sakit. Membuatku gila. Membuatku ingin berhenti mencintai. Tapi aku tidak ingin berhenti mencintaimu. Kamu satu-satunya, bukan? Kamu yang pertama, maka kamu akan menjadi yang terakhir.
Tapi aku seringkali menghianatimu. Aku salah karena tidak sanggup membuatmu menjadi satu-satunya yang kucintai. Apa yang harus kulakukan, Ya Tuhan? Salahkah aku yang mencintai seseorang selain dirimu?
Dari seseorang yang mencintaiMu.
Di Kota Anging Mamiri, 5 Februari 2015.

KAMU SEDANG MEMBACA
Menghapus Jejakmu
Short Story30 Hari Menulis Surat Cinta • 30 Januari - 28 Februari 2015 Jangan pernah kembali untuk mendorongku jatuh ke lubang yang sama. Aku tidak lagi selemah itu. ~@AuliyaSahril