Dengan wajah kesal aku menyapu lantai dengan pelan. Aku terus merungut sebal. Sebabnya apa? Sebabnya aku tak boleh pergi ke mana-mana kecuali ada kebutuhan mendesak. Sekarang aku pun disuruh beres-beres rumah. Menyapu, mengepel, merapikan barang-barang, dan lain-lain.
"Ish, kenapa gue harus kayak gini, sih? Gue mau pergi sama Ratu, tapi malah disuruh bersih-bersih!" rungutku seraya mengepel lantai.
Flashback
Aku sudah rapi, ingin melupakan masa lalu yang sempat terungkit lagi. Melepaskan tekanan yang diciptakan orang tua. Aku lelah, bisa-bisa jadi manusia geprek karena sering ditekan. Ya, aku ingin pergi dengan Ratu, hanya dia yang memahamiku.
Aku menengok ke kanan dan kiri saat berada di ruang tamu. Tak ada siapa pun. Ini bagus, aku bisa pergi secara diam-diam. Ayah sedang bekerja, Ibu entah ke mana.
Aku membuka pintu dengan senyuman. Terbuka, senyumku menurun tatkala melihat seorang wanita dengan wajah datar menatapku.
"I ... Ibu?" gumamku.
"Mau ke mana kamu? Kamu gak boleh pergi! Hari ini libur kuliah, 'kan? Sekarang, Ibu minta kamu bersih-bersih rumah!" Aku menutup mata karena air liur Ibu keluar ke mana-mana.
Ibu melirik sapu yang digantung menggunakan paku, mengambil dan menyerahkannya padaku secara tiba-tiba. Aku terkesiap, menangkap sapu yang hampir mematuk kaca jendela di dekatku.
"Kalo rumah ini gak bersih, Ibu gak akan izinkan kamu pergi!" Ibu melengos masuk ke dalam rumah, aku langsung menyingkir karena menutupi jalannya.
"Loh, kok gitu, Bu?" ujarku tak terima.
Ibu berhenti, menatap tajamku. "Apa perlu dijelaskan?"
Aku menelan air liur, menggeleng dengan cepat agar terhindar dari musibah yang datang. Sepertinya Ibu habis dari pasar, terbukti dengan sayuran yang ia bawa. Atau ... sedang marah, ya? Ah, sudahlah! Tak peduli!
"Sekarang, gue harus ngapain? Huaaa, masa' gue harus bersih-bersih, sih?" rengekku pelan, agar tak terdengar Ibu di dapur.
Dengan cemberut dan menggerutu aku menyapu lantai dengan tak ikhlas. Rasanya malas sekali harus seperti ini. Saya anak rebahan, dan aku malas melakukan apa pun! Hidup rebahan!
Flashback end
"Apa perlu gue proklamasi sebagai anak rebahan, ya? Keknya bagus, deh," ujarku tertawa.
"Apanya yang anak rebahan?" Aku terperanjat kaget.
Buk!
"Adoh!!! Mak, p*ntat Erin sakit, Mak! Huaaaa!!!" Aku mengusap bokongku yang rasanya seperti 'nano-nano'.
"Ck! Cepet bangun! Cengeng banget!" Ibu memutar bola mata jengah.
"Erin lagi ngepel, Ibu ngagetin tau! Jadi jatoh, 'kan. Aduh ...." Aku beranjak dari lantai yang basah, seraya mengusap bokong yang masih sakit.
"Kamu baru segitu aja udah capek, gimana kalau jadi ibu rumah tangga? Udah tepar duluan kali, ya? Coba kamu liat Ibu, Ibu gak mengeluh meski beresin rumah setiap hari. Tapi kamu, kamu malah enak-enakan tiduran sambil main handphone. Apa pernah terbesit di pikiran kamu, bagaimana kalau kamu ada di posisi Ibu?" Aku terdiam, mendengar ocehannya yang panjang.
"Pernah gak?" tanya Ibu sekali lagi.
"Emm ... enggak," jawabku.
Ibu menghela napas. "Cobalah merenung, Erin. Renungi hal-hal yang kamu benci, dan temukan titik terang. Berpikir dewasa."
Ibu pergi, meninggalkan aku yang mematung setelah memberikan ocehannya padaku. Aku mencerna kembali perkataannya. Bagaimana jika aku berada di posisi Ibu? Juga ... renungi hal-hal yang kubenci?
KAMU SEDANG MEMBACA
Regretted Hope [Tamat]
Teen Fiction"Andai aku hidup seperti dia." Erina Fara Falisha, gadis egois yang bisa dikatakan bodoh. Kelakuannya membuat semua orang menjauhinya. Ia selalu memaksa, meski pada orang tua sendiri. Hingga ia merasa sendirian, tak ada yang peduli. Berbanding terba...
![Regretted Hope [Tamat]](https://img.wattpad.com/cover/279075979-64-k795041.jpg)